kredit tanpa agunan kta

Sebelum Ajukan Kredit Tanpa Agunan (KTA), Ketahui Dulu Fakta-Faktanya Ini

Kredit tanpa agunan (KTA) adalah solusi bagi masyarakat yang membutuhkan dana pinjaman dengan segera tanpa perlu menyediakan agunan atau jaminan, seperti sertifikat properti atau kendaraan bermotor. Biasanya, KTA diakses ketika ada kebutuhan mendesak dan mesti segera dipenuhi.

Misalnya ada anggota keluarga yang jatuh sakit dan butuh penanganan di rumah sakit. Atau anak memerlukan dana tambahan untuk kebutuhan biaya sekolah. Atau untuk merenovasi rumah. Dalam kondisi-kondisi semacam inilah KTA menjadi layanan keuangan yang sangat penting.

KTA merupakan produk pinjaman dana yang awalnya hanya disediakan oleh bank. Tapi seiring dengan kemajuan teknologi, kini banyak perusahaan financial technology (fintech) yang menyediakan layanan serupa.

Popularitas KTA terlihat dari tren meningkatnya jumlah lembaga fintech tersebut. Tapi ada risiko tersendiri jika mengakses KTA lewat fintech. Sebab, fintech berbeda dengan bank dalam penyediaan layanan keuangan.

Demi keamanan, pastikan fintech tersebut telah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK punya daftar fintech yang selalu diperbarui tiap bulan. Daftar ini bisa diakses di situs OJK.

Jenis KTA

Secara umum, ada dua jenis KTA. Pertama adalah KTA reguler. Kedua KTA payroll. Keduanya memiliki peruntukan masing-masing. Tapi secara karakteristik, ada kemiripan. Terutama dalam hal tak diperlukannya jaminan atau agunan untuk mendapatkan pinjaman.

KTA reguler

Ini merupakan pinjaman tanpa jaminan yang disediakan oleh bank dan lembaga fintech bagi masyarakat umum. Seseorang tak perlu terlebih dahulu menjadi nasabah bank tertentu untuk mengakses KTA dari bank tersebut. 

KTA payroll

KTA ini diperuntukkan bagi karyawan yang mendapatkan gaji bulanan dari bank yang menyediakan pinjaman itu. KTA payroll biasanya prosesnya lebih cepat dan dana yang bisa dicairkan juga lebih besar. Sebab, bank bisa lebih memastikan bahwa si penerima KTA mampu mengembalikan pinjaman atas statusnya sebagai karyawan yang menerima payroll dari bank tersebut.

Keuntungan KTA

Sebagai pinjaman tanpa jaminan, layanan ini memberikan sederet keuntungan bagi masyarakat. Berikut ini di antaranya:

1. Tidak membutuhkan agunan sebagai jaminan

Berbeda dengan pinjaman lain, agunan alias jaminan tak diperlukan dalam KTA. Tapi, konsekuensinya, jumlah dana yang bisa dicairkan umumnya lebih kecil ketimbang pinjaman dengan jaminan.

2. Plafon pinjaman bisa disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan kebutuhan

Masyarakat bisa mengajukan permohonan KTA berapa pun sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan serta limit yang ditetapkan bank. Bahkan KTA sebesar Rp 1.000.000 bisa dilayani, terutama lewat perusahaan fintech.

3. Proses pencairan ringkas dan singkat

Lama pencairan KTA hanya dalam hitungan hari, tidak sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Bahkan ada yang bisa cair dalam satu hari, selama seluruh syarat dipenuhi.

4. Dana bisa dipakai untuk segala keperluan

Apa pun keperluan yang ada di depan mata bisa dipenuhi dengan KTA. Baik untuk kebutuhan konsumtif, maupun produktif.

5. Tersedia banyak pilihan

Bank dan lembaga fintech menyediakan variasi pilihan KTA dengan hitungan bunga, tenor, dan plafon masing-masing. Beberapa menyediakan kemudahan, seperti tak ada biaya untuk pelunasan dipercepat atau gratis biaya provisi dan administrasi.

Siapa Saja yang Menyediakan KTA

Seperti disebutkan sekilas di atas, penyedia kredit tanpa jaminan ini di antaranya adalah bank dan lembaga fintech. Bank di sini bukan hanya bank konvensional dan syariah yang memiliki jaringan nasional, tetapi juga bank jenis lain. 

Bank jenis lain yang menyediakan KTA, di antaranya bank pembangunan daerah, seperti Bank DKI, Bank Papua, atau BJB. Ada pula bank perkreditan rakyat (BPR), yang banyak terdapat di kota besar hingga pelosok negeri. Laporan keuangan BPR bisa dilihat di situs Bank Indonesia untuk mencermati tingkat keamanannya.

Namun ada pula lembaga di luar dua badan tersebut yang menyediakan KTA. Koperasi misalnya. Namun layanan pinjaman tanpa agunan koperasi ekslusif bagi anggota koperasi tersebut.

Yang patut diwaspadai adalah penyedia pinjaman partikelir yang beroperasi tanpa izin Otoritas Jasa Keuangan. Hanya dengan modal sewa ruko dan tawaran KTA yang ditempel di tiang-tiang listrik, mereka bisa dengan mudah menjaring masyarakat yang tengah butuh dana.

Biasanya, KTA jenis ini ditawarkan dengan iming-iming pencairan yang amat sangat cepat. Tapi di baliknya, mereka telah siap menjerat dengan bunga tinggi dan penagihan menggunakan kekerasan jika ada keterlambatan pembayaran angsuran.

Praktik rentenir ini masih banyak dijumpai, terutama di desa-desa. Demi keamanan, sebaiknya hindari meminjam KTA dari mereka ya.

Syarat KTA

Umumnya, syarat yang dipatok untuk pencairan KTA sama antara satu lembaga dan lembaga lain. Syarat tersebut antara lain:

1. Kartu tanda penduduk (suami-istri jika sudah berkeluarga)
2. Bukti penghasilan, seperti slip gaji terakhir untuk karyawan
3. Surat izin usaha atau praktik untuk kalangan profesional dan wirausaha
4. Rekening bank
5. Nomor pokok wajib pajak

Selain kelima syarat tersebut, ada satu syarat yang sering menjadi ganjalan untuk mendapatkan KTA, yakni kepemilikan kartu kredit. Bank memberlakukan syarat ini agar bisa menilai kemampuan keuangan pemohon KTA.

Parameternya adalah seberapa lancar tagihan kartu kredit dibayarkan. Bila tak pernah ada keterlambatan dan tagihan selalu dibayar lunas, kemungkinan KTA cair bakal lebih tinggi.

Selain itu, dana yang bisa dicairkan bisa lebih besar atas pertimbangan penggunaan kartu kredit yang disiplin dan bertanggung jawab. Karena itulah pemegang kartu kredit lebih besar peluangnya mendapatkan KTA asalkan tagihan lancar.

Meski demikian, tak sedikit yang bisa mencairkan KTA walau pemohonnya tak memiliki kartu kredit. Ini umumnya ditawarkan perusahaan fintech.

Namun dana pinjaman yang dikucurkan biasanya lebih terbatas. Begitu pula tenor atau masa pinjamannya.

Masih ada lagi satu syarat yang sering kali tak disertakan secara eksplisit dalam pengajuan KTA, yakni proses BI checking atau pengecekan riwayat kredit seseorang di pusat data Bank Indonesia.

Semua orang yang pernah mengakses pinjaman dari perbankan akan ada datanya di Bank Indonesia. Data itu mencakup kapan dan di mana pinjaman diakses, berapa besarnya, dan bagaimana pelunasannya. Jika ternyata diketahui ada kredit yang belum lunas atau bermasalah dalam pembayaran, permohonan KTA kemungkinan besar ditolak.

Bagaimana Proses Pencairan KTA

KTA tidak hanya bisa diakses dengan datang langsung ke kantor penyedia pinjaman itu. Kini KTA bisa lebih mudah diakses secara online.

KTA online ditawarkan demi kemudahan masyarakat yang kian sibuk dengan aktivitas sehari-hari. Perusahaan fintech adalah yang mendominasi layanan pinjaman online ini.

Cukup dengan mendaftarkan diri dan mengirim semua berkas persyaratan lewat situs fintech, pengajuan KTA bisa langsung diproses. KTA pun bisa cair dengan cepat selama semua syarat dipenuhi.

Bank tak mau ketinggalan dalam industri layanan keuangan ini. Beberapa bank juga telah menyediakan fasilitas pinjaman tanpa jaminan yang bisa diakses lewat Internet.

Tapi secara umum pencairan KTA di perbankan lebih rumit ketimbang via fintech. Penyebabnya adalah prosedur bank lebih kompleks demi memastikan keamanan, baik bagi nasabah maupun internal bank sendiri.

Satu hal yang menjadi kekhawatiran adalah risiko kredit macet. Jika terjadi kredit macet atau nasabah tak mampu melunasi pinjaman, arus keuangan bank akan turut kena dampak. Karena itulah bank menerapkan prosedur yang ketat.

Alur pencairan KTA bermula dari pemenuhan syarat. Dokumen itu akan diperiksa dan diverifikasi oleh petugas bagian kredit. Bila ada yang belum lengkap, petugas akan menghubungi pemohon meminta kelengkapan.

Ketika syarat dinyatakan lengkap, petugas akan mempertimbangkan jumlah dana yang diminta dengan melihat kemampuan keuangan pemohon. Pada tahap ini, ada tiga kemungkinan: 

1. KTA disetujui sesuai dengan plafon yang diajukan atau bahkan lebih besar
2. KTA disetujui tapi dengan plafon lebih kecil
3. KTA ditolak

KTA bakal disetujui selama pemohon dinilai mampu melunasinya. Tapi plafon bisa jadi dipangkas sesuai dengan batas aman pinjaman menurut penilaian bank. Misalnya dari plafon Rp 10 juta yang diminta, yang cair hanya Rp 5 juta karena itulah nominal yang aman agar tidak terjadi kredit macet.

Adapun penolakan KTA umumnya disebabkan oleh syarat yang tidak komplet atau tak bisa diverifikasi, atau riwayat kredit calon peminjam yang jeblok. Bisa juga karena bank menilai pemohon tak akan sanggup melunasi pinjaman dengan kondisi keuangan saat itu.

Apa Saja yang Harus Diperhatikan

KTA memiliki keunggulan berupa cepatnya pencairan. Tapi di baliknya ada sederet hal yang harus diperhatikan agar bijak dalam memanfaatkan layanan keuangan ini, dari soal biaya hingga godaan mengambil KTA tanpa pikir panjang.

Biaya KTA

1. Provisi 

Ini adalah biaya administrasi, umumnya dipotong langsung dari plafon yang dicairkan. Besarannya bervariasi, rata-rata 3% dari total pinjaman. Misalnya pinjaman Rp 10 juta, berarti yang kelak diterima hanya Rp 9.700.000 karena ada biaya provisi 3% sebesar Rp 300.000.

2. Penalti

Biaya ini muncul jika KTA dilunasi lebih cepat dari tenor yang disepakati. Misalnya seharusnya KTA diangsur hingga 12 bulan, tapi pada bulan ke-10 sudah dilunasi. Jumlah biaya penaliti ini berbeda di tiap lembaga. Tapi ada pula penyedia KTA yang tak membebankan penalti.

3. Biaya keterlambatan

Biaya ini berupa denda karena terlambat membayar angsuran. Makin lama cicilan tertunda, makin besar denda tersebut. 

4. Biaya tahunan

Tak semua penyedia KTA menerapkan biaya tahunan. Jika ada, biaya ini muncul tiap tahun pada tahun kedua hingga angsuran lunas.

5. Asuransi

Biaya asuransi ada untuk melindungi penerima KTA jika terjadi hal-hal yang membuatnya tak bisa melunasi pinjaman itu, misalnya meninggal karena kecelakaan. KTA akan dilunasi pihak asuransi, sehingga anggota keluarganya tak ada lagi tanggungan. Layanan asuransi bisa ditambahkan dalam KTA karena diperbolehkan menurut Peraturan OJK Nomor 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan.

Untuk mendapat produk KTA yang paling tepat dan cocok untuk kebutuhan kita, ada baiknya untuk melakukan riset dan perbandingan dulu terhadap produk-produk KTA yang ada di pasaran. Saat ini sudah banyak kok fintech yang menyediakan fasilitas perbandingan untuk produk-produk KTA. Jadi jangan lupa untuk manfaatkan layanan ini sebelum memutuskan produk KTA yang akan dipilih.

Ancaman Utang

Utang bukanlah hal buruk. Tapi harus ada pertimbangan yang matang sebelum mengambil utang. Dalam hal KTA, ada godaan yang besar karena mudahnya pencairan KTA. Tanpa perlu menyediakan agunan, pinjaman sudah di tangan.

Apalagi kini bertebaran perusahaan fintech yang memiliki aplikasi di smartphone. Hanya dengan modal koneksi Internet, seseorang bisa dengan mudah mengakses pinjaman lewat telepon selulernya.

Demi masa depan finansial yang lebih baik, seyogianya mengakses pinjaman hanya dilakukan jika benar-benar membutuhkan. KTA untuk kebutuhan konsumsi pun tak apa-apa, selama sudah ada rencana bagaimana melunasinya.

Tapi ingat untuk menghindari mengambil plafon di luar kemampuan keuangan. Batas aman cicilan tiap bulan adalah 30% dari penghasilan. Kalau gaji Rp 10 juta, misalnya, berarti cicilan yang dianggap aman adalah Rp 3 juta per bulan. Sisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan ditabung. Bahkan bisa untuk investasi.

Bila mengajukan langsung ke kantor bank, petugas bank akan dengan senang hati diajak berkonsultasi untuk menilai keinginan pencairan KTA demi kepentingan kita.