Simulasi pinjaman KTA kilat

Simulasi KTA: Cara Menghitung Bunga dan Cicilan Pinjaman KTA

Sudah tahu cara menghitung bunga pinjaman dan cicilan KTA? 

Saat berencana ajukan KTA, bukan hanya persyaratan atau kelengkapan dokumen yang perlu disiapkan. Penting juga untuk melakukan simulasi KTA, sehingga bisa mengira-ngira alokasi dana yang harus disisihkan untuk membayar angsuran pinjamannya.

Sekalipun cicilan KTA tampak kecil, tak menjamin kamu aman buat ambil pinjaman. Sebab, jika kamu masih punya angsuran pinjaman lain dan ketika dijumlahkan, total utang yang kamu punya telah melebihi 50 persen penghasilan, itu berarti sudah saatnya kamu waspada. Jika sudah mencapai angka ini, besar kemungkinan kamu akan kesulitan membayar cicilan.

Untuk bisa melakukan simulasi KTA, ada hal penting yang harus dipahami terlebih dulu, yaitu mengenai jenis bunga KTA. 

Umumnya, saat memilih produk KTA, suku bunga sering jadi pertimbangan utama. Ini memang tak salah, namun jangan cuma perhatikan angkanya tapi juga jenis bunganya.

Banyak orang yang tergiur pinjaman KTA dengan promo bunga di bawah 1 persen. Namun, tak banyak yang menyadari bahwa angka bunga yang kecil belum tentu menguntungkan. 

Pada produk pinjaman, dikenal dua jenis penghitungan bunga kredit yang biasa digunakan pada pinjaman KTA. Kedua jenis metode ini menentukan besar kecilnya bunga yang akan kamu bayar nanti. Simak ulasan lengkapnya, berikut ini:

Simulasi KTA

1. Bunga flat

Bunga flat merupakan jenis suku bunga yang paling sering digunakan pada kredit konsumsi, seperti kredit gadget, kredit kendaraan bermotor, serta pinjaman KTA. Disebut flat, sebab nilai bunga dihitung rata sesuai tenor pinjaman, sehingga beban bunga setiap bulan akan tetap (flat).

Pada sistem bunga flat, nasabah bisa dengan mudah mengetahui total cicilan yang harus dibayar per bulannya. Sayangnya, penerapan sistem bunga flat kurang menguntungkan bagi nasabah. Sebab, bunga dihitung dari total utang, bukan dari sisa utang yang belum dibayarkan. Dampaknya, bunga yang dibebankan pada nasabah pun jadi cukup tinggi. 

Sebagai contoh, misalnya kamu meminjam KTA dari bank A dengan plafon sebesar Rp 40 juta, tingkat suku bunga 0,99 persen flat per bulan, dan tenor selama 2 tahun. 

Berikut cara perhitungan bunganya:

Total bunga: pokok pinjaman x suku bunga pinjaman x tenor pinjaman

Total bunga: Rp 40 juta x (0,99 persen x 12 bulan) x 2 tahun

Total bunga: Rp 9,504 juta

Jadi, untuk pinjaman sebesar Rp 40 juta  dengan bunga 0,99 persen flat per bulan dan tenor pinjaman selama dua tahun, total beban bunga adalah sebesar Rp 9,504 juta atau Rp 396 ribu per bulan.

 

2. Bunga Efektif

Dibandingkan bunga flat, bunga efektif terhitung lebih fair, baik bagi pihak bank maupun bagi nasabah. Sebab, beban bunga dihitung dari nilai pokok utang, bukan dari nilai total pinjaman. Dengan begitu, seiring berkurangnya jumlah utang, beban bunga pun akan semakin berkurang.  

Jenis bunga ini biasanya banyak digunakan pada produk pinjaman jangka panjang, seperti KPR. Namun, tak menutup kemungkinan pinjaman KTA pun menerapkan sistem bunga efektif. 

Misalnya, KTA Bank Mandiri atau KSM yang mematok bunga mulai dari 0,59 persen efektif per bulan untuk seluruh segmen nasabah (kecuali PNS, TNI, dan Polri). 

Sebagai perbandingan, mari kita hitung ulang contoh kasus sebelumnya menggunakan skema bunga efektif. 

Cara perhitungan:

Angsuran pokok per bulan = Rp 40 juta / 24 bulan = Rp 1,67 juta

Bunga: sisa utang x bunga

Bunga di bulan 1: Rp 40 juta x 0,99 persen = Rp 396 ribu

Bunga di bulan 2: (Rp 40-1,67) juta x 0,99 persen  = Rp 38,3 juta x 0,99 persen = 379,5 ribu

Bunga di bulan 3: (Rp 38,3-1,67) juta x 0,99 persen = Rp 36,7 juta x 0,99 persen = 363 ribu

Begitu seterusnya hingga seluruh utang terlunasi.

Dari contoh perhitungan di atas, terlihat bahwa bunga di bulan ke dua jadi lebih rendah dibandingkan bunga di bulan pertama, dan seterusnya. Dengan begitu, total beban bunga pun jadi lebih kecil dibandingkan beban bunga menggunakan sistem bunga flat.

Selain dua cara menghitung bunga pinjaman KTA di atas, jenis suku bunga juga dibedakan menjadi dua kategori, yaitu fixed rate dan floating rate. Apa perbedaan di antara keduanya? 

Sesuai namanya, fixed rate artinya besaran bunga tetap atau tidak berubah selama periode pinjaman yang ditentukan. Misalnya, jika bank menetapkan bunga pinjaman KTA sebesar 1 persen per bulan fixed rate, artinya sampai pinjaman terlunasi, besar bunga akan tetap 1 persen.

Beda halnya dengan bunga floating atau bunga mengambang. Disebut mengambang, sebab besaran bunga bisa berubah-ubah tiap bulan tergantung kondisi pasar atau keputusan bank. 

Misalnya, jika kamu mengambil pinjaman dengan bunga 10 persen per tahun, pada tahun ketiga suku bunga Bank Indonesia naik sebesar 12 persen, maka bunga pinjamanmu pun akan turut naik. Sebaliknya, jika suku bunga Bank Indonesia mengalami penurunan, bunga pinjamanmu pun turut turun. 

Perlu diperhatikan, pada satu jenis pinjaman KTA dapat menggunakan kedua jenis bunga ini. Misalnya, pada satu tahun pertama berlaku bunga fixed rate, namun pada tahun kedua hingga tahun pelunasan, berlaku bunga floating.

(Baca: Pinjaman Online atau KTA Bank, Mana yang Lebih Baik?)

Cara menghitung bunga pinjaman

Cara menghitung bunga pinjaman

Setelah mengetahui perbedaan jenis suku bunga yang ada, sekarang saatnya melakukan simulasi KTA untuk memperkirakan besar angsuran dan bunga yang akan kamu tanggung. 

Biar mudah dipahami, mari kita gunakan contoh kasus di bawah ini.

Andi mendapatkan kredit KTA di Bank A sebesar Rp 50 juta dengan tenor 24 bulan dan suku bunga 1,03 persen flat per bulan. 

Pinjaman KTA Bank A ini mengenakan biaya provisi sebesar 1 persen, serta biaya asuransi sebesar 0,693 persen dari pinjaman yang disetujui. 

Jika Andi terlambat bayar angsuran, terdapat denda keterlambatan sebesar 0,28 persen per hari dari angsuran. Selain itu, terdapat pula biaya pelunasan dipercepat sebesar Rp 200 ribu.

Simulasi cicilan KTA Andi adalah sebagai berikut:

Cicilan pokok: Rp 50 juta / 24 bulan = Rp 2,083 juta  per bulan

Bunga per bulan: Rp 50 juta x 1,03 persen = Rp 515 ribu

Cicilan per bulan: cicilan pokok + bunga = Rp 2,083 juta + Rp 515 ribu = 2,598 juta

Dengan begitu, angsuran yang harus dibayar Andi tiap bulannya adalah sebesar Rp 2,598 juta per bulan. Perlu diingat juga bahwa pinjaman KTA Andi dikenai biaya provisi dan biaya asuransi. 

Umumnya, kedua biaya ini akan dipotong langsung saat pencairan dana, sehingga pinjaman yang Andi terima tidak sebesar Rp 50 juta, melainkan telah dikurangi oleh dua biaya tersebut. Dengan perhitungan, sebagai berikut:

Dana yang diterima: (plafon pinjaman yang disetujui - ((biaya provisi x plafon pinjaman) + (biaya asuransi x plafon pinjaman))

Dana yang diterima: Rp 50 juta - ((1 persen x Rp 50 juta) + (0,693 x Rp 50 juta))

Dana yang diterima: Rp 50 juta - (Rp 500 ribu + 346,5 ribu)

Dana yang diterima: Rp 49,153 juta

Yang perlu diingat adalah penerapan besar dan jenis bunga, biaya provisi, biaya asuransi, serta biaya lainnya, akan berbeda-beda tergantung pada kebijakan bank terkait. Oleh sebab itu, penting untuk mencermati ketentuan yang berlaku, terutama terkait plafon, biaya, dan bunga KTA.

(Baca: 10 Pinjaman Online 24 Jam Cair dan Terdaftar di OJK 2019)

Jika sudah memahami cara menghitung bunga pinjaman KTA yang hendak diambil, PR selanjutnya adalah merencanakan dana untuk membayar cicilan utang tersebut. 

Jangan berani-berani mengambil KTA  tanpa perencanaan pembayaran angsuran, sebab ada biaya dan denda keterlambatan yang akan mengintai jika menunggak bayar cicilan.