pinjaman-online

Renungan untuk Korban Pinjaman Online: OJK Bukan Superman

Pada pertengahan Februari 2019, seorang sopir taksi jadi korban pinjaman online. Zulfandi, 35 tahun, nekat bunuh diri di rumah kosnya di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. 

Gara-garanya adalah dia terjerat utang pinjaman online. Merasa frustrasi dan putus asa, Zulfandi akhirnya memutuskan bunuh diri.

Kasus pinjaman online Zulfandi ini termasuk fatal. Sebelumnya memang sudah ada sederet insiden yang melibatkan penyedia pinjaman online dari sejumlah perusahaan financial technology (fintech). Di antaranya seorang ibu yang nekat minum minyak tanah karena punya utang kepada sembilan rentenir online. Juga seorang guru taman kanak-kanak yang dipecat lantaran debt collector meneror rekannya sesama guru.

Beruntung, nyawa si ibu yang meracuni diri bisa diselamatkan. Nasib si guru TK juga terbilang lebih baik ketimbang Zulfandi karena masih bisa melanjutkan hidup, meski dengan menanggung utang.

Sederet kasus itu seharusnya cukup untuk membuka mata orang-orang bahwa tidak boleh sembarangan mengambil pinjaman online. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku lembaga yang berwenang mengawasi aktivitas finansial seperti itu pun bukan Superman alias manusia sakti.

Perlu dipahami bahwa OJK memiliki keterbatasan dalam melakukan fungsinya. Di sisi lain, pertumbuhan pinjaman online bak jamur di musim hujan, liar dan tak terkontrol.

Menurut data Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, pada akhir 2018 saja di Jakarta sudah ada 238 korban pinjaman online yang datang mengadu. Itu baru di Ibu Kota. Padahal pasar fintech lending sangat luas karena berbasis Internet.

Menurut para korban pinjaman online itu, ada sejumlah tindakan mencurigakan hingga teror yang dilakukan oleh penyedia pinjaman. Di antaranya:

- Penagihan lewat upaya mempermalukan, makian, ancaman, fitnah, dan pelecehan seksual
- Penagihan lewat pihak lain yang nomor kontaknya tercatat di telepon korban pinjaman
- Bunga pinjaman sangat tinggi dan tak terbatas
- Data dan identitas korban diambil dari telepon seluler
- Penagihan tanpa kenal waktu, bahkan sebelum jatuh tempo
- Identitas, termasuk alamat fisik penyedia pinjaman online fiktif atau tidak dicantumkan

Berbagai macam aksi penyedia pinjaman online yang nakal itu luput dari pantauan OJK karena memang mereka beroperasi secara rapi dan sistematis. Memanfaatkan Internet, termasuk aplikasi di smartphone, mereka biasanya mengiming-imingi orang dengan proses pencairan yang cepat.

Inilah yang menjadi titik kelemahan orang yang sedang butuh uang dengan segera. Tahu bahwa proses pencairan cepat dan syaratnya mudah, misalnya tanpa jaminan dan hanya perlu upload kartu tanda penduduk, mereka langsung tergiur.

Ketika terjebak utang pinjaman online yang kian menggendut, barulah mereka marah karena merasa dikibuli. Bahkan OJK ikut menjadi sasaran lantaran dinilai lalai mengawasi.

Upaya Mencegah Pinjaman Online Ilegal

Sebetulnya OJK sudah melakukan banyak hal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan ancaman rentenir online. Mereka antara lain giat berbicara melalui media massa untuk memperingatkan bahaya pinjaman online.

Lewat media sosial pun OJK sering mengimbau agar warga waspada. Selain itu, ada artikel panduan dari OJK soal cara membedakan fintech lending yang terpercaya dan yang abal-abal.

OJK pun aktif menutup fintech ilegal jika mendapatkan laporan mengenai keberadaannya. Per akhir 2018, sudah lebih dari 400 penyedia pinjaman online ilegal yang ditutup OJK.

Daftar pinjaman online ilegal itu diperkirakan terus bertambah. Sebab, kemajuan teknologi telah memudahkan bisnis finansial, termasuk soal pinjam-meminjam. Bagusnya, OJK selalu memperbarui data fintech yang tak terdaftar di situsnya sehingga masyarakat bisa mengetahui.

Perbedaan Pinjaman Online Legal dan Ilegal

Agar tak jadi korban pinjaman online ilegal dengan bunga mencekik, ketahui dulu perbedaan utama antara pinjaman online resmi dan tidak resmi.

Legal

Ilegal

Namanya terdaftar di situs OJK

Data alamat, nomor kontak/customer service, dan e-mail tidak ada atau tidak jelas

Memiliki sertifikat ISO 27001 yang melindungi konsumen dari aksi pencurian data

Menonjolkan fitur pencairan yang cepat, bahkan hanya dalam hitungan menit

Bunga rata-rata 1 persen dengan hitungan denda dan biaya lain yang jelas

Bunga mencapai 3 persen dengan hitungan denda, biaya admin, dan akumulasi tak jelas

Penagihan dilakukan dengan cara legal dan menghargai privasi konsumen

Meminta akses ke nomor kontak dan galeri foto di smartphone

OJK bisa membantu penyelesaian masalah pinjaman jika diminta

Penagihan dilakukan dengan cara-cara ilegal, termasuk teror dan perundungan, memanfaatkan nomor kontak yang telah disalin

Dari informasi di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa upaya pemberantasan pinjaman online ilegal memerlukan kerja sama antara OJK dan masyarakat.

(Baca: 7 Ciri Pinjaman Online Terbaik yang Aman dan Terpercaya)

Di satu sisi, OJK bertugas mengawasi dan menindaklanjuti jika ada kasus atau dugaan pelanggaran oleh fintech lending. Di sisi lain, warga mesti waspada ketika hendak mengakses pinjaman online. Sederet faktor mesti menjadi pertimbangan sebelum memutuskan mengambil kredit online.

Tips Menghindari Pinjaman Online Nakal

Berikut ini tips mencegah jadi korban pinjaman online:

1. Memastikan legalitas penyedia pinjaman

Cek apakah penyedia pinjaman itu sudah terdaftar di OJK. Bila sudah, seharusnya penyedia itu menyebutkan bahwa sudah terdaftar lengkap dengan logo OJK. Cek juga daftar fintech lending yang dinyatakan ilegal oleh OJK di situsnya. Jika si penyedia mengaku sudah terdaftar tapi ternyata namnya ada di daftar ilegal, bisa dipastikan klaim itu palsu.

2. Jangan berikan akses

Fintech ilegal biasanya meminta akses ke nomor kontak dan galeri ketika di-instal di smartphone. Bila tidak menyetujui akses itu, kamu tidak akan bisa mendapat pinjaman. Padahal akses ke kontak dan galeri itu privasi. Modus fintech ilegal meminta akses agar bisa memiliki data orang di sekitar peminjam untuk dimanfaatkan saat penagihan.

3. Cek alamat fisik

Buat yang tinggal sekota dengan penyedia pinjaman online, tak ada salahnya mengecek keberadaan alamat fisik yang tertera. Selain itu, cek nomor kontak dan e-mail yang digunakan. Bila semuanya bisa dibuktikan valid, penyedia pinjaman tersebut bisa masuk kriteria aman.

4. Teliti biaya

Bunga fintech ilegal biasanya tinggi, lebih tinggi dari pinjaman bank. Selain itu, ada biaya-biaya yang mengikuti tapi tidak transparan. Misalnya pinjaman Rp 1 juta, tapi ternyata yang cair Rp 800 ribu. Duit Rp 200 ribu ternyata dianggap sebagai biaya administrasi. Bila sudah diterangkan dari awal dan besarannya masuk akal, itu bisa diterima. Bila sebaliknya, lebih baik langsung ambil langkah seribu.

5. Cari referensi

Orang yang butuh uang biasanya malu ketika membicarakannya dengan orang sekitar. Tapi siapa tahu dari obrolan itu kamu bisa mendapat referensi pinjaman online terpercaya. Mungkin sudah ada teman atau kolega atau saudara yang berpengalaman dengan sebuah penyedia pinjaman online. 

Referensi juga bisa didapatkan dari Internet. Misalnya dari forum obrolan atau media sosial. Bisa juga dari situs komparasi produk keuangan yang memberikan informasi tentang pinjaman online hingga kredit tanpa agunan dari bank.

Pinjaman online bukanlah sesuatu yang berbahaya. Bahkan justru bisa menjadi penyelamat. Tapi tidak boleh sembarangan memanfaatkannya, termasuk tidak memperhitungkan kemampuan bayar untuk melunasi pinjaman itu.

Ketelitian dan kesabaran diperlukan agar tidak menjadi korban pinjaman online ilegal. OJK tidak bisa dijadikan satu-satunya ujung tombak untuk melawan fintech ilegal. Butuh kesadaran masyarakat untuk menghindari jatuhnya korban berikutnya.