pengalaman tidak membayar pinjaman online

Punya Pengalaman Tidak Membayar Pinjaman Online? Ini Solusi OJK

Punya pengalaman tidak membayar pinjaman online? Sebaiknya, tidak dan jangan pernah. Sebab, apa pun namanya, pinjaman adalah utang yang harus dibayar. 

Jika kamu telat atau mangkir buat bayar, jelas ada konsekuensinya. Misalnya, kamu jadi harus bayar denda dan bunga tambahan. 

Persoalannya, bagaimana kalau pinjaman online menagih utang melalui rentetan teror debt collector yang memburu hingga ke kantor? Atau penambahan denda pinjaman yang sangat tinggi hingga melebihi pokok utang?

Sebetulnya, Asosiasi Financial Technology Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), telah mengatur pedoman perilaku penyedia layanan pinjaman online. Salah satu aturannya adalah pinjaman online harus menerapkan prinsip itikad baik dalam penagihan, yaitu dengan tidak merendahkan harkat dan martabat pengguna. 

Jadi, pinjaman online yang legal terdaftar di OJK dan terpercaya, tidak akan melakukan tindakan penagihan dengan mempermalukan apalagi sampai meneror nasabah. Tapi, bagi para penyedia layanan pinjaman online ilegal alias pinjol bodong, aturan ini tentu diterabas sesuka hati. 

Pengalaman tidak membayar pinjaman online

Pengalaman tidak membayar pinjaman online

Kisah muram soal pinjaman online bukanlah hal baru dan sayangnya, masih bermunculan hingga sekarang. Bahkan, yang terbaru tak sampai sebulan yang lalu.

Melia, warga asal Surabaya ini melaporkan pengalaman tidak membayar pinjaman online di lebih dari 30 perusahaan aplikasi fintech (financial technology).

Melia mengaku, awalnya ia hanya berutang di satu aplikasi pijaman online senilai Rp 1,5 juta. Tak mampu bayar cicilan segera, ia pun mendaftar ke aplikator lain untuk menutup utang. Ternyata, tindakan gali lubang-tutup lubang ini berlangsung terus hingga utang yang dimiliki mencapai Rp 30an juta. 

Dampaknya, teror yang diterima dari debt collector alias para penagih utang pun bertubi-tubi. Bukan cuma kepada Melia, debt collector juga memburu teman-temannya melalui telepon seluler. Buntutnya, Melia pun harus keluar dari tempat kerjanya karena tak tahan menanggung malu. 

Kisah serupa barangkali ada ratusan jumlahnya. Jika ditarik kesimpulan, setidaknya 6 hal ini bakal kamu hadapi jika tidak membayar pinjaman online fintech ilegal.

1. Terjerat bunga utang yang mencekik

Pinjaman online ilegal mematok bunga dan denda pinjaman yang tak masuk akal. Bahkan, tak sedikit orang dengan pengalaman tidak membayar pinjaman online, utangnya membengkak hingga puluhan kali lipat.

Seperti kasus SM yang semula berutang Rp 5 juta dari sekian aplikasi, berakhir dengan denda, biaya, dan bunga pinjaman yang membuat utang melonjak hingga Rp 75 juta.

Padahal semestinya, jika mengacu kepada aturan AFPI, besar denda pinjaman yang dikenakan maksimal 100 persen dari total pokok pinjaman. Artinya, kalau berutang Rp 5 juta, maksimal bunga dan dendanya pun Rp 5 juta, sehingga total utangnya tak boleh lebih dari Rp 10 juta. 

2. Menerima SMS dan telepon penagihan secara beruntun

Saat kamu menunggak bayar cicilan, penyedia pinjaman online pasti akan melakukan berbagai cara agar kamu segera membayar kewajiban tersebut. 

Tapi, penyedia pinjaman online legal akan menyampaikan langkah-langkah yang ditempuh jika debitur gagal bayar, termasuk salah satunya menghubungi debitur melalui SMS dan telepon. 

Berbeda dengan pinjaman online ilegal yang bisa menghubungimu setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya, sekalipun kamu baru satu hari menunda pembayaran cicilan. 

3. Teman, keluarga, dan rekan kerja turut diteror penyedia pinjaman

Setelah menerima sms dan telepon bertubi-tubi, tak sedikit debitur yang memilih mengabaikan panggilan masuk di ponselnya. Apakah teror debt collector akan berhenti? Tentu saja tidak! Tindakan fintech ilegal selanjutnya adalah meneror kerabat, keluarga, hingga rekan kerja.  

Inilah yang dialami oleh Dona, pengguna pinjaman online yang kehilangan pekerjaan karena rekan-rekan kantornya turut diteror debt collector. Menurut catatan LBH (lembaga bantuan hukum) Jakarta, bahkan ada korban pinjol bodong yang diceraikan pasangan mereka karena tak terima ikut dikejar penagih utang.

4. Menerima ancaman, pencemaran nama baik, hingga pelecehan

Salah satu pengalaman tidak membayar pinjaman online yang cukup menggegerkan adalah kisah korban berinisial YI. Penyedia pinjaman online tempatnya berutang bukan cuma menagih dengan rentetan pesan instan, tapi juga menyebarkan poster bertuliskan “rela digilir seharga Rp 1,054 juta untuk meluasi utang”. 

Parahnya, tindakan pelanggaran yang dilakukan penyedia pinjaman online ilegal ini dilakukan hanya berselang dua hari setelah YI gagal melunasi utangnya. 

5. Didatangi debt collector secara langsung

Penyedia pinjaman online juga memakai debt collector sebagai pihak ketiga dalam upaya penagihan utang debiturnya yang gagal bayar. Ini sebetulnya, sah-sah saja selama sesuai aturan yang telah ditetapkan AFPI. 

Misalnya, debt collector harus memiliki sertifikat untuk melakukan penagihan kepada peminjam yang dikeluarkan oleh AFPI. Jadi, tak boleh asal pakai preman yang mengaku sebagai debt collector buat menggertak debitur yang gagal bayar.

Selain itu, penagihan utang melalui debt collector hanya boleh dilakukan jika batas keterlambatan pembayaran sudah lebih dari 90 hari dari tanggal jatuh tempo pinjaman. Dengan kata lain, jika keterlambatan bayar kurang dari 90 hari, debt collector belum boleh turun tangan

(Baca: Diteror Debt Collector Pinjaman Online? Begini Cara Melaporkannya)

6. Pelaporan SLIK OJK/BI Checking

Kembali merujuk kepada aturan AFPI, penagihan utang yang dilakukan langsung oleh fintech pinjaman online maksimal 90 hari. Setelah itu, pinjaman tidak bisa ditagihkan lagi alias hangus. 

Konsekuensinya, debitur yang berutang akan masuk ke dalam daftar hitam alias di-blacklist BI checking, sehingga tidak dapat mengajukan pinjaman ke fintech terdaftar OJK maupun perbankan.

Namun, seperti yang kita tahu, cara ini hanya ditempuh oleh pinjaman online legal yang mematuhi aturan AFPI. Sementara, pinjaman online bodong tentu lebih gencar menerapkan cara-cara penagihan yang melanggar hukum, seperti pada poin 1-3. 

Tak mampu bayar utang pinjaman online? Ini tiga solusi dari OJK 

Pengalaman tidak membayar pinjaman online

Jeratan pinjaman online ilegal memang mengerikan. Awalnya, tawaran yang diberikan begitu manis dan mengikat, tapi begitu kamu telat bayar angsuran hingga terlilit utang, rasanya langsung ingin punya jurus menghilang.  

Namun, bukan mentang-mentang penyedia pinjaman tersebut ilegal, kamu jadi tak merasa wajib buat bayar pinjaman. Biar bagaimana pun, kamu sudah meminjam uang dan telah ada perjanjian perdata antara nasabah dengan pemberi pinjaman.

Lalu, bagaimana jika punya pengalaman tidak bayar pinjaman online karena ketiadaan biaya? Ada tiga solusi yang ditawarkan oleh Tongam L Tobing, Satgas Waspada Investasi OJK. Berikut ini di antaranya:

1. Restrukturisasi pinjaman

Restrukturisasi pinjaman adalah upaya kedua belah pihak, baik peminjam maupun pemberi pinjaman dalam menyelesaikan utang debitur yang berpotensi gagal bayar kredit. 

Cara ini bisa dilakukan jika debitur memang mengalami kesulitan pembayaran pokok utang, serta bunganya. Dengan catatan, debitur punya prospek usaha atau sumber penghasilan yang berpotensi dan dinilai mampu memenuhi kewajiban setelah pinjaman direstrukturisasi. 

Pihak bank atau penyedia pinjaman dapat melakukan restrukturisasi kredit dengan cara:

  1. Penurunan suku bunga pinjaman
  2. Perpanjangan tenor pinjaman
  3. Pengurangan tunggakan bunga pinjaman
  4. Pengurangan tunggakan pokok utang
  5. Penambahan fasilitas pinjaman
  6. Konversi pinjaman menjadi penyertaan modal sementara.

(Baca: Hindari Bahaya Pinjaman Online dengan Lakukan 5 Hal Ini)

2. Permintaan pengurangan bunga

Debitur juga dapat melakukan negosiasi dengan pemberi pinjaman untuk mengurangi bunga kredit. Dengan begitu, beban utang yang ditanggung bisa berkurang dan lebih memungkinkan buat dilunasi. 

3. Lapor Polisi

Jika cara pertama dan kedua tak berhasil dan pinjaman online terkait tak punya itikad baik dalam upaya pelunasan utang, debitur dapat langsung mengajukan laporan ke kepolisian. 

Apalagi, jika pinjol ilegal tersebut melakukan tindakan penagihan yang menjurus ke unsur pidana, seperti meneror, mengancam, hingga melecehkan.

Selain lapor polisi, kamu juga bisa melaporkan fintech terkait ke AFPI, YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), atau ke OJK. 

Berikut ini kontak pengaduan pinjaman online ilegal AFPI, YLKI, dan OJK:

AFPI: [email protected]

YLKI: Situs pelayanan YLKI 

OJK: Form pengaduan OJK

Pengalaman tidak membayar pinjaman online adalah mimpi buruk yang tak diharapkan oleh siapa pun. Sayangnya, masih banyak calon debitur yang tak bijak dalam memilih lembaga penyedia pinjaman. Maka, tak aneh jika jumlah korban jeratan pinjaman online ilegal masih bertambah hingga kini.

Kalau kamu tak ingin jadi salah satunya, pastinya jangan coba-coba menggunakan layanan pinjaman dari pinjol bodong yang tak terdaftar OJK.

Tapi, sekalipun pinjaman online telah terdaftar OJK, bukan berarti kamu jadi bisa pinjam uang sesuka hati. Kalau mau kondisi keuangan tetap sehat dan aman, jadikanlah layanan pinjaman online sebagai opsi terakhir dalam memenuhi dana tambahan.