KTA Syariah

KTA Syariah Vs KTA Konvensional, Apa Bedanya?

Mau mengajukan pinjaman namun cemas bunga yang dikenakan terhitung riba? 

Kekhawatiran tersebut tampaknya tidak hanya dialami oleh sedikit orang di Indonesia. Itulah mengapa saat ini beberapa bank telah menawarkan produk kredit tanpa agunan dengan sistem syariah alias KTA syariah. Misalnya, KTA Mandiri Syariah, Pertama KTA iB Multiguna, dan beberapa produk lainnya.

Sesuai namanya, baik KTA syariah maupun konvensional, sama-sama tak mewajibkan adanya agunan atau jaminan. Keduanya juga menawarkan dana pinjaman tinggi hingga di atas Rp 100 juta dengan tenor tertentu. Tapi, keduanya memiliki beberapa perbedaan dan keunggulannya masing-masing. 

Biar tidak salah pilih, sebaiknya kenali dan pahami perbedaan kedua jenis produk ini sebelum ajukan pinjaman. Yuk, simak ulasannya berikut ini.

1. Bunga vs Non-Bunga

Pada KTA konvensional, pinjaman dikenakan beban bunga yang dibayar bersama cicilan pokok oleh nasabah setiap bulannya. Besaran bunga ditetapkan berdasarkan nominal serta tenor pinjaman. 

Banyak kalangan yang menganggap penyertaan bunga sebagai riba yang sebaiknya dihindari bagi umat muslim. Maka, konsep serupa pun ditiadakan pada KTA syariah. 

Lalu, apa keuntungan yang didapat bank syariah?

Pinjaman syariah menggunakan tiga jenis akad, yaitu jual-beli (murabahah), sewa dengan perubahan kepemilikan (ijarah wa iqtina), dan capital sharing (musyarakah mutanaqishah). 

Pada pinjaman dengan akad jual-beli, bank akan membeli barang atau jasa yang diinginkan nasabah, lalu dijual kepada nasabah dengan margin tertentu. 

Misalnya, nasabah ingin membeli motor seharga Rp 12 juta. Maka bank akan membeli motor tersebut dan menjualnya kepada nasabah dengan harga Rp 15 juta menggunakan skema cicilan selama kurun waktu tertentu. Selisih harga tersebutlah yang menjadi keuntungan bagi bank penyedia produk pinjaman syariah.

Pada akad kedua, yaitu sewa dengan perubahan kepemilikan, sistem yang diterapkan tak jauh berbeda. Bank akan membeli barang, lalu nasabah menyewa barang selama kurun waktu tertentu. Setelahnya, nasabah dapat membeli barang tersebut sehingga terjadi perubahan kepemilikan.

Terakhir, menggunakan akad capital sharing atau bagi hasil. Bank dan nasabah akan sama-sama menaruh modal pada barang, jasa, atau usaha tertentu. Kemudian nasabah membeli saham kepemilikan bank agar barang tersebut dapat dimiliki seratus persen oleh nasabah. 

2. Tujuan penggunaan dana

KTA konvensional membebaskan nasabah menggunakan dana pinjaman untuk keperluan apa pun selama tidak menyalahi undang-undang dan hukum yang berlaku di Indonesia. 

Di sisi lain, KTA Syariah mewajibkan nasabah membuat surat pernyataan mengenai tujuan penggunaan dana pinjaman. Hal ini untuk mencegah dana digunakan untuk usaha atau barang-barang yang diharamkan menurut syariat Islam.  

Jadi, selain tak boleh melanggar hukum negara, dana juga tak boleh digunakan untuk hal yang menyimpang dari hukum Islam.

3. Adanya pembagian risiko

Pada KTA konvensional, nasabah menanggung risiko pinjaman sepenuhnya. Misalnya, nasabah meminjam uang untuk modal usaha. Saat usaha yang dijalani berakhir bangkrut, nasabah tetap harus membayar cicilan pokok serta bunga per bulannya.

Pada pinjaman syariah, bank turut menanggung sebagian risiko karena menerapkan sistem bagi hasil atau kemitraan. 

Jika bisnis yang dijalani menggunakan modal pinjaman syariah berakhir gagal, bank juga harus menerima kerugian yang terjadi. Modal yang dimiliki harus dibagi dua dengan nasabah sesuai proporsi yang telah disepakati. Sebaliknya, jika usaha berjalan mulus, bank juga akan mendapat porsi keuntungan yang lebih tinggi.

(Baca: 6 Cara Jitu agar KTA Cepat Cair)

4. Pengawas yang berwenang

Setiap lembaga keuangan, termasuk bank harus beroperasi di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI). Hal ini agar seluruh kegiatan di sektor jasa keuangan berjalan dengan adil dan transparan. Misalnya, penetapan batas bunga kredit pada bank konvensional.

Sama halnya dengan bank konvensional, bank syariah juga diawasi oleh OJK dan BI. Bedanya, selain kedua lembaga tersebut, bank syariah juga memiliki pengawas khusus. Mereka adalah Dewan Syariah Nasional. Dewan inilah yang mengawasi sekaligus merumuskan aturan-aturan perbankan syariah. 

Pilih KTA Syariah atau Konvensional?

Saat ini layanan perbankan konvensional masih jauh lebih banyak dibanding bank syariah. Dengan demikian, kamu pun akan lebih mudah mengakses pinjaman konvensional dibandingkan layanan syariah. 

Selain soal akses, besarnya bunga juga masih menjadi pertimbangan kenapa lebih banyak orang cenderung masih memilih KTA konvensional. Sebab, KTA syariah dinilai memiliki margin pembiayaan yang relatif lebih tinggi.

Tapi dii sisi lain, pada pinjaman syariah, keuntungan dan kerugian telah dibagi dan disepakati di awal perjanjian. Pinjaman syariah juga menyalurkan keuntungan yang diperoleh untuk membayar zakat sebesar 2,5 persen. 

Jadi, buat kamu yang memprioritaskan syariat Islam, KTA syariah bisa jadi solusi yang tepat. Sementara, kamu yang tak masalah dengan skema bunga, KTA konvensional lebih cocok buatmu. 

Sebagai informasi, sekalipun menggunakan syariah Islam, nasabah non-muslim juga bisa menikmati layanan ini selama memenuhi ketentuan yang berlaku.

(Baca: Pengajuan KTA BNI Bakal Mulus dengan Cara Jitu Ini)

Apa pun jenis KTA yang kamu pilih, sesuaikan pinjaman dengan kemampuan. Jangan lupa bandingkan dulu produk-produk KTA syariah sebelum menentukan pilihan agar kamu mendapat yang terbaik. Sebaiknya gunakan dana pinjaman untuk kebutuhan yang mendesak ya, bukan sekadar keinginan konsumtif.