bahaya pinjaman online

Hindari Bahaya Pinjaman Online dengan Lakukan 5 Hal Ini

Bahaya pinjaman online ilegal marak mengintai, terutama pada tawaran pinjaman uang online tanpa jaminan dan syarat yang sekilas tampak memikat. 

Bukan kabar baru jika ada pengguna pinjaman online yang mengaku diancam debt collector ataupun putus asa karena terlilit utang dengan bunga yang terus melejit. Ada korban pinjaman onlline ilegal yang diteror melalui penyebaran foto pribadi dengan narasi “menjual diri” demi membayar utang. 

Ada pula korban pinjaman online ilegal lain yang mengadu ke LBH (Lembaga Bantuan Hukum) karena kelimpungan bayar utang. Sebabnya, pinjaman uang yang semula Rp 5 juta membengkak jadi Rp 75 juta dalam dua bulan. 

Bunga yang tak masuk akal, serta cara penagihan utang yang tak manusiawi adalah salah satu risiko dan bahaya pinjaman online ilegal alias bodong. Mirisnya, jumlah pinjaman online ilegal saat ini tak main-main banyaknya. 

Per Agustus tahun ini saja, OJK(Otoritas Jasa Keuangan) telah menemukan dan menutup lebih dari 1.000 pinjaman online tak berlisensi. Sayangnya, tak sedikit pinjaman online bodong yang ditutup OJK, lalu membuka kembali jasanya dengan nama yang berbeda. 

Hampir sebagian besar pinjaman online bodong menawarkan pinjaman uang online tanpa jaminan dan syarat. Artinya, bagaimana pun kondisi calon debitur, pengajuan pinjaman pasti bakal disetujui. 

Kemudahan dapat duit dalam waktu singkat inilah yang membuat banyak orang tak pikir panjang dalam mengajukan pinjaman. Terutama, bagi mereka yang memang sedang punya masalah keuangan.

Tanpa sempat menghitung bahwa sangat mungkin jumlah cicilan yang dibayar berkali-kali lipat lebih tinggi dari dana pinjaman yang diterima, hingga akhirnya penghasilan bulanan pun tak bisa menutupi utang yang dipunya. 

Akhirnya, senang sesaat, sengsara kemudian. 

5 Cara terhindar dari bahaya pinjaman online

bahaya-pinjaman-online-1

Kamu tentu tak ingin jadi korban pinjaman online berikutnya, bukan? Sebetulnya tak sulit menghindari bahaya pinjaman online ilegal, cukup lakukan lima hal di bawah ini sebelum mengajukan pinjaman. 

1. Cek izin fintech yang terdaftar di OJK

Kuncinya, pinjaman online yang terpercaya pasti terdaftar dan diawasi OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Jadi, jika dapat tawaran pinjaman dari fintech (financial technology) yang tak punya izin resmi dari OJK, tinggalkan. Sekalipun layanan tersebut memiliki situs resmi dan aplikasi smartphone.

Bagaimana cara mengetahui fintech yang terdaftar di OJK?

Caranya, kunjungi situs OJK dan pilih kategori Publik. Lalu, klik Berita dan Kegiatan dan pilih Publikasi. Nah, di laman inilah OJK secara berkala mengumumkan layanan fintech (financial technology) yang telah terdaftar dan berizin OJK.

Contohnya, berdasarkan daftar penyelenggara terdaftar dan berizin di OJK per 31 Mei 2019, ada 113 perusahaan fintech terdaftar dan berizin. Dengan kata lain, 113 perusahaan tersebut telah mematuhi aturan dan ketentuan PJOK 77/PJOK.01/2016 tentang penyelenggara jasa layanan pinjam meminjam berbasis teknologi.

Jika ada fintech yang melanggar aturan pada PJOK 77/PJOK.01/2016, OJK tak segan-segan mencabut izin yang telah dimiliki. Informasi mengenai layanan fintech yang izinnya dicabut OJK juga bisa kamu cek pada laman yang sama.

Alasan lain kamu harus memastikan layanan penyedia pinjaman terdaftar di OJK adalah karena OJK lebih mudah dan cepat memproses laporan pengaduan nasabah fintech yang legal karena datanya terdaftar. Jadi, jika terjadi hal yang tak diharapkan, penyelesaiannya pun bakal lebih mudah dibandingkan jika tersandung masalah dengan pinjaman online ilegal.

2. Cek dan simulasikan bunga dan biaya pinjaman

Bunga dan biaya pinjaman online telah disepakati oleh AFPI (Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia) dan melalui hasil koordinasi dengan OJK. Tujuannya, agar fintech tidak mematok bunga semena-mena yang bisa merugikan debitur.

Adapun, besar bunga yang ditetapkan AFPI adalah maksimal 0,8 persen per hari. Penagihan denda pun hanya boleh dilakukan jika keterlambatan bayar maksimal 90 hari sejak dana pinjaman cair.

Jadi, jika menemui atau mendapatkan tawaran pinjaman dengan suku bunga di atas 0,8 persen, tak perlu pikir panjang untuk mengabaikan.

Namun, sekalipun bunga pinjaman tidak melebihi 0,8 persen per hari, kamu tetap perlu menghitung perkiraan biaya pinjaman dan total angsurannya. Dengan begitu, kamu tahu berapa persen penghasilan bulanan yang akan dialokasikan untuk bayar cicilan. 

3. Cek izin akses aplikasi pinjaman online

Aduan korban pinjaman online ilegal yang juga santer terdengar adalah teror debt collector kepada rekan-rekan peminjam, bahkan atasan dan HR di kantor peminjam. 

Memang, layanan pinjaman online resmi sekalipun akan meminta izin akses ke beberapa fitur di ponsel untuk proses verifikasi. Namun, permintaan akses perangkat terbatas sesuai ketetapan OJK, yaitu sebatas akses fitur kamera, lokasi, dan mikrofon. 

Sementara, pinjaman online ilegal akan meminta akses ke seluruh data pribadi peminjam, meliputi pesan, kontak, hingga riwayat panggilan. 

Aplikasi pinjaman online ilegal pun seringnya tidak didistribusikan melalui marketplace resmi seperti Play Store atau App Store, melainkan dalam bentuk APK. APK merupakan berkas instalasi yang tidak terawasi pihak Google, sehingga tidak terjamin bersih dari virus maupun malware (malicious software).

Untuk mengecek permintaan akses ke perangkat smartphone, berikut caranya:

  • Kunjungi laman aplikasi terkait di Play Store atau App Store
  • Klik detail informasi
  • Pilih App Permission. 

Jika terdapat permintaan akses perangkat yang mencurigakan atau di luar akses yang ditetapkan oleh OJK, mending tak usah ambil pinjaman.

4. Jika mendesak, utamakan pinjaman KTA dari Bank 

Memang, tak semua pinjaman online itu buruk. Sebab, faktanya ada pinjaman uang online tanpa jaminan dan syarat yang terpercaya. Sebut saja pinjaman online Tunaiku. Pinjaman di Tunaiku bisa diajukan hanya bermodalkan KTP dan fintech ini pun telah terdaftar di OJK. 

Namun, jika ingin mendapatkan pinjaman dengan bunga yang lebih ringan, pinjaman KTA dari Bank bisa jadi solusi terbaik. Rata-rata bank mematok bunga kurang dari dua persen per bulan. Misalnya, KTA Standard Chartered yang memiliki suku bunga mulai dari 0,65 persen per bulan.

Biaya pinjaman KTA bank jauh lebih rendah dibandingkan pinjaman online resmi yang mematok bunga mulai dari 0,5 persen hingga 1 persen per hari atau sekitar 15-30 persen per bulan.

(Baca: Pinjaman Online atau KTA Bank, Mana yang Lebih Baik?

5. Jauhi bahaya pinjaman online dengan dana darurat

bahaya pinjaman online

Tak sedikit orang yang sulit berpikir panjang saat menghadapi situasi darurat. Alhasil, begitu dapat tawaran pinjaman online tanpa jaminan dan syarat, langsung diterima tanpa mewaspadai risikonya. 

Salah satu cara untuk menghindari situasi tersebut adalah dengan memiliki dana darurat yang memadai. Dana darurat adalah salah satu tujuan keuangan yang harus disiapkan sejak dini. 

Menurut salah satu perencana keuangan, M Andoko dana darurat setidaknya sebesar 3-6 kali pengeluaran bulanan. Namun, angka ini bukan patokan yang baku, karena dipengaruhi oleh banyak faktor lainnya, seperti gaya hidup, jumlah tanggungan, dan sebagainya.

Intinya, dana darurat bagai sedia payung sebelum hujan. Siapkan simpanan khusus untuk dana darurat, agar saat dibutuhkan tak kelimpungan cari pinjaman.

Ditumpas bagaimana pun, pinjaman online ilegal memang akan selalu ada. Oleh sebab itu, agar tak jadi korban, penting untuk cermat dalam memilih jasa lembaga keuangan yang ingin digunakan. 

Terakhir, kamu juga bisa mengunjungi situs komparasi produk keuangan, seperti GoBear Indonesia untuk menemukan dan membandingkan beragam produk pinjaman online ataupun KTA bank terpercaya.