Pinjaman syariah

Butuh Dana? Ini 4 Pilihan Pinjaman Syariah Bebas Riba

Mencari pinjaman tanpa bunga? Pinjaman syariah dapat jadi pilihannya.

Seperti diketahui, banyak yang menganggap penyertaan bunga pada pinjaman konvensional sebagai riba yang seharusnya dihindari umat Muslim. Nah, di sinilah pinjaman syariah bisa jadi solusi.

Pinjaman syariah tidak menerapkan sistem bunga, melainkan sistem jual beli atau bagi hasil yang dianggap tidak melanggar aturan syariah atau hukum Islam. 

Dengan demikian, pendapatan bank atau lembaga keuangan non bank selaku pemberi pinjaman berasal dari margin transaksi jual beli ataupun keuntungan hasil profit sharing dari usaha yang dijalani peminjam. 

Misalnya, kamu akan meminjam uang senilai Rp 12 juta untuk membeli motor, maka pemberi pinjaman syariah akan membeli motor tersebut terlebih dulu, lalu menjualnya kepadamu dengan mengambil margin sebesar jumlah yang disepakati bersama. 

Contoh lainnya, jika kamu meminjam uang senilai Rp 50 juta untuk modal usaha, nantinya pihak pemberi pinjaman pun akan mendapatkan imbal hasil dari keuntungan bisnis yang kamu jalani. 

Dengan begitu, kehadiran berbagai bentuk pinjaman syariah tak hanya menambah opsi produk keuangan, namun juga sebagai solusi bagi kamu yang ingin mengajukan pinjaman tanpa khawatir terjerat riba.

Mau tahu apa saja jenis pinjaman syariah yang bisa kamu pilih? Berikut empat produk pinjaman tanpa bunga, baik dari bank maupun lembaga non bank. Yuk, kenali dan pahami tiap produk agar tak salah pilih. 

1. Kredit Tanpa Agunan (KTA) syariah

KTA syariah adalah produk perbankan berupa pinjaman tanpa agunan atau jaminan dengan sistem syariah. Contohnya, KTA Mandiri Syariah dan KTA BRI Syariah. 

Sekalipun tanpa jaminan, KTA syariah menawarkan plafon pinjaman yang cukup tinggi, yaitu hingga di atas Rp 100 juta dengan tenor tertentu. 

Jika pada KTA konvensional nasabah bebas menggunakan dana pinjaman yang diperoleh, ini berbeda dengan KTA syariah. KTA jenis syariah mewajibkan nasabah membuat surat pernyataan mengenai tujuan penggunaan dana pinjaman. Tujuannya, memastikan dana yang digunakan untuk keperluan yang tidak melanggar syariat Islam. 

2. Pegadaian syariah

Pegadaian syariah tak jauh berbeda dengan pegadaian konvensional, yaitu sama-sama menyalurkan sejumlah uang pinjaman dengan jaminan barang. 

Masyarakat yang ingin menggadaikan barang untuk memperoleh dana pinjaman hanya perlu mendatangi kantor pegadaian dan menyerahkan barang jaminan. Prosesnya cukup mudah dan tak memakan waktu lama. 

Namun, pegadaian syariah menggunakan sistem transaksi yang sedikit berbeda dengan pegadaian konvensional. Pegadaian syariah tidak mengambil keuntungan dalam bentuk bunga maupun bagi hasil, melainkan berupa upah jasa pemeliharaan barang jaminan. 

Besar upah jasa ditentukan berdasarkan biaya pemeliharaan, tergantung jenis barang yang dijaminkan. Biaya lain yang dikenakan adalah biaya penitipan barang, meliputi biaya penjagaan, biaya penggantian kehilangan, asuransi, dan tempat penyimpanan.

3. Pinjaman syariah online

Saat ini, baik bank maupun lembaga keuangan non bank juga telah menawarkan pinjaman online berbasis syariah. Sebagai ganti bunga, pinjaman syariah online menggunakan sistem murabahah dan ijarah

Sistem murabahah menggunakan akad jual beli. Sedangkan, sistem ijarah menggunakan akad sewa, sehingga keuntungan yang didapat pemberi pinjaman berupa biaya sewa atau manfaat atas jasa atau barang yang digunakan.

Beberapa pinjaman syariah online yang telah resmi terdaftar OJK, di antaranya, Pembiayaan Al Salaam Syariah (PAS), Bank Syariah Mandiri (BSM) Implan, dan Investree Syariah. 

4. Kartu kredit syariah

Memangnya ada kartu kredit syariah? Ada dong! Meski tak sepopuler kartu kredit konvensional, ternyata kartu kredit syariah telah ada di Indonesia sejak 2006 lalu.

Bank mulai menerbitkan kartu kredit syariah setelah Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) mengeluarkan fatwa mengenai penggunaan kartu kredit. Namun, dalam fatwa itu, DSN tidak menggunakan istilah kartu kredit, melainkan syariah card. 

Contohnya, iB Hasanah Card yang diterbitkan oleh BNI Syariah dan Kartu Syariah Gold dari CIMB Niaga Syariah.

Seperti kartu kredit konvensional, kartu kredit syariah juga mengenakan biaya tahunan, biaya keterlambatan, dan biaya administrasi. Namun, alih-alih bunga, kartu kredit syariah menggunakan akad ijarah dengan menetapkan biaya iuran keanggotaan (rusum al-‘udhwiyah) sebagai imbalan atas penggunaan fasilitas kartu yang harus dibayar tiap bulannya

Selain itu, kartu kredit syariah juga menggunakan akad kafalah dan qardh. Pada akad kafalah, penerbit kartu bertindak sebagai penjamin pemegang kartu atas semua transaksi dengan merchant yang dilakukan pemegang kartu. Sementara, fasilitas penarikan tunai dari ATM menggunakan akad qardh atau akad pinjaman.

Pastinya, kartu kredit syariah hanya dapat digunakan untuk membeli barang atau jasa yang halal dan tidak mengandung riba.

Untung-rugi pinjaman syariah

Dengan tidak adanya penyertaan bunga, peminjam tak perlu cemas terjerat riba. Bank syariah maupun lembaga keuangan non bank syariah juga diawasi oleh OJK, BI, serta DSN sehingga tak perlu takut pengajuan pinjaman menyalahi hukum negara maupun agama.

Pinjaman syariah juga menyalurkan keuntungan yang diperoleh untuk membayar zakat sebesar 2,5 persen. 

Pinjaman syariah, seperti KTA, juga menerapkan sistem pembagian risiko. Artinya, pemberi pinjaman turut menanggung sebagian risiko yang mungkin dialami peminjam. Misalnya, jika bisnis yang dijalani peminjam berakhir gagal, kerugian yang dialami juga akan ditanggung oleh bank atau pemberi pinjaman. 

Namun, penerapan sistem bagi hasil atau jual beli pada pinjaman syariah kadang menyebabkan margin pinjaman relatif lebih tinggi dibandingkan besar bunga pinjaman konvensional. 

(Baca: 5 Ciri Pinjaman Cepat Cair yang Menipu)

Tips mengajukan pinjaman syariah

Agar pengajuan pinjaman diterima dan bebas masalah, pastikan semua persyaratan telah terpenuhi dengan baik dan perhatikan tiga tips di bawah ini. 

1. Tentukan nilai pinjaman dan siapkan rencana pelunasan

Hitunglah kebutuhanmu secara tepat untuk mengetahui besar pinjaman yang dibutuhkan. Dengan begitu, kamu bisa menyiapkan rencana pelunasan, termasuk besar alokasi cicilan yang diperlukan.

2. Pahami persyaratan dan konsekuensi pinjaman

Pahami persyaratan pinjaman dengan baik, mulai dari tenor pinjaman, maksimal jatuh tempo, dan semua biaya yang menyertai pinjaman. 

Jika perlu mintalah simulasi perhitungan pinjaman untuk mengetahui secara jelas total biaya yang harus dibayar. Pahami pula konsekuensi pinjaman jika terjadi hal-hal tak diinginkan, seperti besar denda jika telat membayar hingga penyitaan barang jaminan. 

3. Gunakan pinjaman dengan bijaksana

Sekalipun kamu bisa memanfaatkan berbagai fasilitas pinjaman tanpa bunga, bukan berarti kamu bisa meminjam tanpa pertimbangan matang. 

Apa pun jenis pinjaman yang kamu pilih, sebaiknya hanya ajukan pinjaman saat ada keperluan mendesak. Jangan jadikan berutang sebagai kebiasaan, apalagi untuk keperluan konsumtif. 

Bagaimana? Tertarik menggunakan pinjaman tanpa riba ini? Ingat, ajukan pinjaman sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansialmu. 

Untuk jenis pinjaman lainnya, bandingkan di GoBear untuk mendapatkan produk keuangan yang paling ideal untukmu.