unicorn indonesia

4 Unicorn Indonesia Ini Ternyata Besar Berkat “Utang”

Istilah “unicorn” mengemuka setelah muncul dalam debat pemilihan presiden 2019.  Calon presiden Joko Widodo menanyakan perihal unicorn Indonesia kepada calon presiden Prabowo Subianto.

Unicorn di sini bukanlah makhluk mistis berbentuk seperti kuda putih dengan satu tanduk. Itu unicorn yang banyak diceritakan dalam dongeng.

Istilah unicorn yang dipakai Jokowi mengacu kepada perusahaan digital yang memiliki valuasi lebih dari US$ 1 miliar. Bila sebuah perusahaan startup telah mencapai nilai itu, ia masuk kategori unicorn.

Sejumlah perusahaan digital yang besar saat ini sebelumnya juga merupakan unicorn. Di antaranya Facebook, Twitter, Xiaomi, WhatsApp, Uber, dan Spotify.

Di Indonesia sendiri, saat ini ada empat unicorn, yaitu Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dan Go-Jek. Unicorn Indonesia itu disebut dalam debat karena dinilai memiliki potensi besar di kemudian hari layaknya Facebook dan kawan-kawan.

Tapi status unicorn itu bukan layaknya durian runtuh. Ada perjuangan dan pengalaman pahit yang mengiringi perjalanan menuju status unicorn Indonesia, termasuk “berutang”.

Iya, berutang! Perlu dipahami bahwa utang itu tidak selamanya buruk. Utang produktif alias yang dimanfaatkan untuk mendapatkan penghasilan lebih besar justru menjadi hal yang dianjurkan, terutama dalam dunia usaha. Sebab, dengan berutang untuk menambah modal usaha, maka potensi pemasukan juga jadi lebih besar, bisnis pun bisa berkembang dengan lebih cepat.

Jadi jangan langsung antipati begitu dengan kata "utang" ya. Contoh saja empat unicorn Indonesia ini yang mengawali bisnis mereka dari utang hingga bisa jadi raksasa seperti sekarang.

(Baca: Cari Sumber Dana untuk Modal Usaha? Ini 5 Pilihannya)

Tokopedia

Berawal dari rumah kos, Tokopedia adalah proyek yang bertujuan menghubungkan pedagang di daerah dengan konsumen di seluruh Indonesia. William Tanuwijaya bersama co-founder Leontinus Alpha Edison, seorang engineer dan seorang petugas customer service mengawali misi itu pada 2007.

Namun para awak Tokopedia terus menerus mengalami kegagalan dalam mencari permodalan hingga 2009. Hingga akhirnya datang uluran bantuan dari bekas bos William yang merupakan pemilik perusahaan content provider. Sang mantan bos itulah yang memberikan modal sebesar Rp 2,5 miliar untuk diputar pada 2009.

“Utang” itu diminta dikembalikan dalam dua sampai tiga tahun. Namun tak disangka, ternyata datang pemodal lain yang berduyun-duyun turut menanamkan investasi ke Tokopedia. Modal pun kemudian rutin dikucurkan tiap tahun hingga sekarang, karena performa Tokopedia yang menjanjikan dari segi bisnis.

Dari hanya empat orang, awak Tokopedia kini telah mencapai lebih dari 1.500 orang. Tak bisa dimungkiri, “utang” Rp 2,5 miliar dan “utang-utang” lain yang datang kemudian turut membentuk Tokopedia hingga menjadi salah satu unicorn Indonesia seperti sekarang.

Bukalapak

Bukalapak adalah unicorn Indonesia “saudara” Tokopedia yang lahir pada 2010. Pendirinya adalah Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono, dan Fajrin Rasyid.

Mirip Tokopedia, Bukalapak juga terlahir dari rumah kos. Achmad Zaky, pendiri utamanya, merintis bisnis sejak kuliah. Namun tidak langsung dengan Bukalapak.

Bukalapak awalnya adalah divisi agensi digital dari Suitmedia, perusahaan konsultan teknologi dan pemasaran digital. Suitmedia juga didirikan oleh Achmad Zaky.

Hebatnya, Zaky tidak berasal dari keluarga konglomerat. Dia memulai bisnisnya dengan modal nol. Sempat gagal beberapa kali, termasuk dalam bisnis warung mi ayam, Zaky akhirnya bertemu dengan pemodal asal Jepang.

Pemodal itu memberikan “utang” kepada Zaky bernilai miliaran rupiah. Zaky sempat takut tak bisa mengembalikan, tapi ternyata si pemodal tak ambil pusing jika suntikan dana itu menguap karena bisnisnya gagal. Dia percaya Bukalapak bisa tumbuh besar.

Singkat cerita, “utang” itu dikelola Zaky hingga akhirnya datang investor-investor lain yang turut menanamkan modal. Bukalapak pun berhasil mencapai status unicorn Indonesia.

Traveloka

Alkisah, tiga orang asal Indonesia yang kuliah di Amerika Serikat menemukan kesamaan ketika hendak pulang ke Tanah Air: sulit mencari tiket pesawat yang sesuai. Tiga orang itu, Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert Zhang, kemudian berinisiatif membuat situs pencari tiket pesawat pada 2012.

Situs itu bertujuan untuk memudahkan pencarian tiket. Modal mereka kala itu hanya skill, karena semuanya memiliki latar sebagai teknisi software dan bisnis. 

Hingga kemudian pada akhir 2012 Traveloka mendapat “utang” pertama untuk mengembangkan bisnis. Modal itu datang dari perusahaan permodalan East Ventures. 

Tak lama kemudian, berdatangan pemodal lain yang juga memberikan “utang” dengan harapan Traveloka meraih sukses dan bisa mengembalikan dana itu plus profitnya. Sederet penghargaan pun diraih Traveloka sampai menjadi salah satu unicorn Indonesia pada 2017.

Go-Jek

Frustrasi bisa menjadi penggerak ide bisnis. Itulah yang dialami Nadiem Makarim saat melahirkan Go-Jek, bisnis transportasi online roda dua yang kini melebarkan sayapnya di berbagai bidang.

Nadiem mulanya kesal dan bingung lantaran transportasi di Jakarta ruwet dan lalu lintasnya macet. Ojek adalah penyelamatnya. Namun dia heran mendapati tarif ojek yang berubah-ubah, padahal tujuannya sama. Dia pun kerap susah mendapatkan ojek ketika dalam perjalanan.

Pada 2011, Nadiem merintis layanan transportasi ojek berbasis telepon dan SMS. Go-Jek namanya. Konsepnya sama seperti taksi, pelanggan memesan ojek ke operator, lalu operator mencarikan pengemudi yang kosong di dekat si pelanggan.

Bisnis ini tak cemerlang karena banyak kelemahan di sana-sini. Belum lagi soal permodalan yang menjadi hambatan. Go-Jek pun sempat tenggelam, hingga akhirnya pada 2015 lahir kembali dengan aplikasi smartphone.

Adalah pendiri Northstar Group, Patrick Walujo, yang berperan sebagai pendorong awal lewat “utang” sebesar US$ 800 ribu untuk mengembangkan Go-Jek. Dari modal awal itu, Nadiem mampu mengolah Go-Jek dan menarik investor-investor lain yang turut meminjamkan dananya sehingga status unicorn Indonesia tersemat pada startup tersebut.

Inspirasi Usaha Unicorn Indonesia

Cerita sukses empat unicorn Indonesia itu bisa menjadi inspirasi dalam usaha. Satu kesamaan di antara keempatnya adalah semua pendirinya merintis bisnis yang memiliki ceruk pasar kosong atau masih sepi.

Dengan demikian, hampir tidak ada pesaing yang menjadi ancaman. Jikapun ada, pesaing itu masih sama-sama berkembang dan mencoba menemukan bentuknya.

Hal ini juga bisa dipraktikkan oleh semua calon pengusaha lain, terutama di bidang digital. TaniHub adalah salah satu contoh bagus dalam hal ini.

TaniHub menghubungkan petani langsung dengan pelanggan. Dengan demikian, harga komoditas tani yang dijual sesuai dengan yang dikehendaki petani. Rantai distribusi menjadi lebih pendek, sehingga petani dan pelanggan sama-sama mendapat untung karena harga jadi lebih miring.

Poin inspirasi lainnya adalah soal “utang”. Keempat unicorn Indonesia itu besar berkat utang berupa modal usaha dari investor. Utang bukanlah hal terlarang dalam bisnis. Sebab, utang tersebut digunakan untuk keperluan produktif alias menjadi investasi.

Memang, dalam soal finansial, utang dan investasi adalah dua hal berbeda. Namun, secara konsep, keduanya serupa. Investor tentu juga mau dana yang diberikan kembali plus mendapat tambahan sebagai keuntungan usaha.

Utang pun begitu. Dana pokok dikembalikan plus bunganya. 

Karena itu, sah-sah saja menjalankan usaha dengan modal berupa pinjaman dana. Yang penting punya rencana bisnis yang kuat dan telah memperhitungkan pengembalian pinjaman itu lewat usaha yang dijalankan.

Jika optimistis dengan usaha itu, tak ada salahnya mencari utang sebagai modal. Terlebih kian banyak pilihan produk pinjaman dengan fitur bersaing, terutama bunganya. Syarat mendapatkan pinjaman pun makin sederhana dan cepat pencairannya.

Dari modal berupa utang itu, siapa tahu bisa mengikuti jejak Traveloka, Go-Jek, Bukalapak, dan Tokopedia menjadi unicorn Indonesia. Bila usahanya bukan di bidang teknologi digital, Astra bisa menjadi acuan.

Perusahaan itu juga besar antara lain berkat utang, di antaranya ke USAID dan bank dalam negeri. Hal itu dijelaskan dengan gamblang di buku Man of Honor yang berkisah tentang perjalanan William Soeryadjaya pendiri Astra. Mau jadi unicorn Indonesia atau Astra, jalankan saja dulu usahanya.