dampak-perceraian

Waspada, Ini 4 Dampak Negatif Perceraian terhadap Finansial

"Bercerai, Gisel jual mobil Mini Cooper hadiah dari Gading Marten!"

Tajuk berita entertainment itu seketika membuat orang bertanya-tanya. Apakah Gisel yang jebolan Indonesia Idol itu mengalami kesulitan keuangan sebagai akibat perceraian dengan aktor Gading Marten?

Penyanyi bernama asli Gisella Anastia memang diketahui menjual Mini Cooper-nya. Ini terlihat dari unggahan story Instagram di akunnya. Dia menjual mobil tersebut lewat pihak ketiga. 

Tak pelak lagi, macam-macam opini soal pemasukan yang tipis akibat perceraian beredar di mana-mana. Apalagi netizen di era milenial ini bisa dengan mudahnya menyebar segala informasi meski belum diketahui kebenarannya.

Untungnya tak lama kemudian Gisel memberikan klarifikasi. Dia menjual mobil mewah hadiah dari suaminya karena ingin ganti yang baru. Sebab, mobil itu sudah tak nyaman dikendarai. Kondisi yang mirip-mirip proses perceraiannya dengan Gading, ya.

Tapi itulah klarifikasinya. Namun ternyata klarifikasi itu tak menghentikan rumor yang terlanjur beredar bahwa Gisel bangkrut akibat perceraian.

Sejatinya, hal itu wajar. Memang sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perceraian bisa mengakibatkan kebangkrutan.

Di luar negeri, yang lebih terbuka, sederet artis dan pesohor diketahui jatuh miskin setelah bercerai. Di antaranya Emmanuel Eboue yang pernah menjadi pemain bintang klub sepak bola Arsenal, Inggris, serta Mel B, bekas anggota girlband Spice Girls.

Menurut penelitian yang dilakukan Stephens Jenkins dari University of Essex, Inggris, bahkan perempuan lebih berpotensi jatuh ke jurang kemiskinan setelah bercerai ketimbang pihak laki-laki. Angkanya mencapai 27 persen.

Dampak Finansial Perceraian

Perceraian memang membawa dampak yang sangat besar terhadap kondisi finansial kedua belah pihak yang bercerai. Dampak itu lebih dirasakan pihak yang sebelumnya tidak berperan sebagai pencari nafkah.

Di Indonesia, dan mungkin di banyak negara lain, peran itu lebih sering dijalani para istri. Hal ini yang kemungkinan besar mempengaruhi hasil penelitian Stephen Jenkins kenapa pihak perempuan yang lebih berisiko jatuh miskin setelah bercerai ketimbang suami.

(Baca: 8 Kesalahan Mengatur Keuangan Ini akan Kamu Sesali di Hari Tua)

Namun suami bukan berarti lepas dari ancaman bangkrut akibat perceraian. Dalam pernikahan, suami dan istri sama-sama memiliki peran penting sebagai penyokong keuangan. Keduanya bekerja sama agar bangunan yang disangga tetap berdiri.

Maka, ketika keduanya terpisah, fondasi finansial itu pun terancam runtuh. Setiap pihak harus segera mencari cara untuk menyokong pilar di depannya yang telah beralih. 

Karena itu, bercerai adalah keputusan yang harus diambil dengan matang. Tak bisa dilandasi emosi semata. Berikut ini contoh masalah keuangan yang mungkin terjadi akibat perceraian.

1. Pemasukan berkurang, bahkan hilang

Bila pihak istri dan suami sama-sama bekerja dan punya tabungan bersama, perceraian bisa membuat satu sumber pemasukan berkurang. Ini akan lebih berbahaya jika hanya salah satu yang bekerja, dan itu bukan dirimu.

Misalnya kamu sebagai suami sedang tidak bekerja karena sebelumnya mengalami pemutusan hubungan kerja, sementara istri bekerja. Saat bercerai, kamu akan dilanda krisis finansial karena tak ada pemasukan. Berbeda dengan istri, yang masih bisa bertahan karena punya gaji bulanan. 

Demikian juga jika ada usaha bersama. Karena bercerai, tidak mustahil usaha itu ikut kolaps. Artinya, tak ada lagi pemasukan buat kedua belah pihak.

2. Aset menipis

Jika dalam keluarga menerapkan harta bersama, aset yang sebelumnya dimiliki bersama akan berkurang akibat perceraian. Akan ada pembagian harta gono-gini sesuai dengan aturan yang berlaku.

Masalah lebih runyam apabila ada perjanjian pra-pernikahan yang mengatur pemisahan harta. Perjanjian ini dilakukan sebelum kedua pihak menikah untuk mengatur urusan harta dan utang.

Dalam perjanjian, harta dan utang salah satu pihak sebelum pernikahan menjadi urusan pihak tersebut. Pihak lain tak boleh dan tak bisa ikut campur.

Misalnya kamu punya rumah sebelum menikah dan hendak melakukan perjanjian pra-pernikahan. Jika nantinya bercerai, rumah itu tidak akan dibagi-bagi dengan pihak istri atau suami. 

Bila kamu yang menjadi pihak lawan atau tidak punya aset, berarti kelak ketika bercerai tak memegang aset. Makin dekat saja ke jurang kebangkrutan.

3. Pendidikan anak terancam

Ini bisa dikatakan sebagai dampak lanjutan akibat perceraian. Bagi yang sudah punya anak, keputusan untuk bercerai seharusnya lebih sulit diambil.

Lantaran pemasukan atau aset berkurang, bahkan hilang, pendidikan anak terancam. Sebab, biaya pendidikan mereka tergantung kondisi finansial orangtua.

Masalah pendidikan bisa jadi lebih ringan jika hak asuh anak jatuh ke pihak yang lebih kokoh secara finansial. Misalnya sudah punya aset sendiri dengan penghasilan tinggi.

Buat pihak sebaliknya, pekerjaan rumah ini bakal lebih berat. Harus putar otak untuk menjaga anak terus bisa menempuh pendidikan. Meski begitu, masa depan anak adalah tanggung jawab orangtua meski keduanya sudah bercerai. 

Karena itu, masalah biaya pendidikan seyogianya diatasi bersama. Kecuali memang ada kasus yang memisahkan keduanya, misalnya salah satu pihak melakukan kekerasan dalam rumah tangga sehingga dilarang dekat-dekat dengan anak atau bahkan masuk penjara.

4. Berpikir sendiri, bekerja sendiri

Dengan tidak adanya pihak yang bisa diajak bekerja sama dalam urusan finansial, otomatis kamu mesti berpikir dan bekerja sendiri untuk mencari nafkah. Ini termasuk memikirkan pengaturan keuangan saat ini dan masa depan, baik jangka pendek, menengah, maupun panjang.

Pengaturan keuangan bukanlah tugas yang mudah buat sebagian orang. Dibutuhkan kecermatan, ketelitian, kesabaran, dan kejelian untuk mengatur keuangan agar aman demi masa depan.

Itu artinya bukan hanya keahlian mencari uang yang dibutuhkan, tapi juga kemampuan mengatur keuangan. Ketika masih bersama, dua peran itu bisa dipisahkan dan dikolaborasikan menurut keahlian masing-masing.

Risiko pengaturan keuangan yang berantakan tidak main-main. Tak peduli seberapa besar penghasilanmu, kebangkrutan menanti jika tak ada pengaturan keuangan yang apik. 

(Baca: 7 Cara Mengatur Keuangan ala Miliarder Dunia)

Bersiap Hadapi Perceraian

Sederet akibat perceraian di atas harus menjadi pertimbangan sebelum memastikan perpisahan. Pertimbangan itu termasuk persiapan untuk menghadapi kondisi pasca-perceraian yang mengganggu kondisi finansial tersebut.

Misalnya ada pembicaraan soal biaya pendidikan anak kelak. Mungkin nantinya biaya itu dibagi rata 50 persen : 50 persen buat ayah dan ibu. Atau bisa jadi persentase lebih besar buat yang penghasilannya juga lebih besar.

Biasanya, pihak suami diminta menafkahi pihak istri setelah bercerai. Hitung berapa nafkah yang diperlukan agar dapur terus bisa mengepul.

Bila tak ada perjanjian pra-nikah, menurut Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, harus ada pembagian harta gono-gini. Harta itu termasuk harta bawaan yang sudah dimiliki kedua pihak sebelum menikah dan harta perolehan atau harta milik suami ataupun istri setelah menikah yang didapatkan dari hibah, wasiat, atau warisan. 

Pembagian ini harus dilakukan secara adil agar nantinya harta yang menjadi bagiannya bisa dimanfaatkan untuk terus memutar roda kehidupan. Tekan seminimal mungkin konflik yang bisa berujung pada sengketa, terlebih jika sudah memiliki anak yang menjadi tanggung jawab kedua pihak.

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Semestinya tidak mudah menuntut cerai, kecuali ada masalah pelik berujung kriminal. Tentu tidak ada orang yang menikah hanya untuk bercerai. Sebab, akibat perceraian bisa membuat orang jatuh dalam kebangkrutan.