UMP DKI Jakarta 2019

UMP DKI Jakarta 2019 Naik 8,03%. Apa Sudah Ideal?

Sudah berganti tahun, sudah tahu belum berapa kenaikan upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta 2019? 

Sejak 1 Januari 2019, UMP DKI Jakarta 2019 mengalami kenaikan sebesar 8,03 persen dari UMP Jakarta 2018. Sebelumnya, UMP Jakarta 2018 sebesar Rp 3.648.035. Dengan kenaikan tersebut, UMP DKI Jakarta menjadi Rp 3.940.973 pada 2019.

Sebagai informasi, UMP adalah upah bulanan terendah yang berlaku untuk seluruh kabupaten atau kota di satu provinsi. Seperti yang telah diketahui bersama, bahwa setiap tahunnya gubernur akan menetapkan dan mengumumkan kenaikan UMP secara serentak pada tanggal 1 November. 

Perusahaan yang membayar pekerjanya di bawah UMP yang telah ditetapkan dapat dikenakan sanksi pidana, yaitu ancaman penjara maksimal empat tahun. 

Dibandingkan dengan provinsi lain, UMP DKI Jakarta tentu saja lebih besar, bahkan merupakan yang tertinggi di Indonesia. Misalnya, dibandingkan dengan UMP DIY alias Yogyakarta sebesar Rp 1,57 juta, UMP DKI dua kali lipat lebih tinggi. 

Hal ini dianggap wajar mengingat biaya hidup di Jakarta juga terhitung jauh lebih tinggi dibanding biaya hidup di provinsi lainnya.

Apakah cukup UMP DKI Jakarta 2019?

Penetapan UMP DKI Jakarta 2019 tentu tak sembarangan. Besaran kenaikan UMP ini didasarkan pada kebutuhan hidup layak (KHL), yaitu standar kebutuhan seorang pekerja untuk dapat hidup layak secara fisik dalam satu bulan. 

Untuk mendapatkan standar KHL, Ketua Dewan Pengupahan Provinsi akan membentuk tim survey dan melakukan survey pasar. Tim survey ini terdiri dari perwakilan serikat pekerja, pengusaha, pemerintah, dan pihak netral dari akademisi. 

Hasil survey pasar tersebut digunakan untuk menentukan nilai harga KHL yang selanjutnya diserahkan kepada gubernur provinsi masing-masing sebagai salah satu pertimbangan penetapan UMP. 

Selain KHL, penetapan UMP juga memperhitungkan kenaikan inflasi, pertumbuhan ekonomi, kondisi pasar, serta pertimbangan dari dewan pengupahan provinsi.

Atas sejumlah perhitungan dan pertimbangan itulah, UMP DKI Jakarta 2019 ditetapkan sebesar Rp 3,94 juta. Bila dihitung-hitung, benarkah angka tersebut cukup untuk hidup layak di ibu kota? Mari simak perhitungannya di bawah ini.

Ilustrasi hidup di Jakarta dengan UMP DKI Jakarta 2019

Ayu adalah seorang lajang yang bekerja di PT ABCD. Tiap bulannya, ia mendapat penghasilan sebesar UMP Jakarta, yaitu sebesar Rp 3,94 juta. Ayu baru bisa mendapatkan penghasilan tambahan jika bekerja lembur.

Setiap bulan, Ayu perlu menyiapkan biaya untuk kebutuhan bulanan meliputi: konsumsi, transportasi, sewa tempat tinggal, hiburan, dan tabungan. Jika dihitung-hitung, berikut ini total pengeluaran yang Ayu perlukan dalam sebulan:

1. Konsumsi

Jika mau berhemat, Ayu bisa membeli makan di warung nasi dengan harga Rp 8-12 ribu per porsi. Meski begitu, sesekali Ayu juga makan di food court dekat kantor dengan bujet Rp 25-30 ribu per porsi.

Dengan begitu, rata-rata Ayu mengeluarkan sekitar Rp 15 ribu untuk sekali makan atau sebesar Rp 45 ribu dalam sehari. Dalam sebulan, uang konsumsi Ayu pun menjadi Rp 1,35 juta. Jika Ayu rutin memasak sendiri makanannya, tentu pengeluaran konsumsi Ayu bisa jauh lebih sedikit.

2. Sewa tempat tinggal

Tarif kos di Jakarta cukup bervariasi. Jika tinggal di pemukiman pusat kota, harga sewa kamar kos mulai dari Rp 1 juta per bulan. Namun, jika mencari tempat tinggal di area sekitar Jakarta, seperti Depok, Ayu masih bisa mendapatkan harga sewa kos-kosan mulai dari Rp 500 ribu per bulan.

Anggaplah, Ayu memilih tinggal di pusat kota sehingga dekat dengan lokasi kantor dan hemat biaya transportasi. Dengan begitu, tiap bulannya Ayu mengeluarkan Rp 1 juta untuk biaya sewa tempat tinggal.

3. Transportasi

Untuk menuju ke kantor, Ayu biasa menggunakan transportasi online dengan rata-rata tarif Rp 10 ribu per perjalanan. Dengan begitu, setidaknya dalam sehari ia perlu mengeluarkan sebesar Rp 20 ribu untuk biaya transportasi.

Dalam sebulan, biaya transportasi Ayu menjadi Rp 20 ribu x 22 hari kerja = Rp 440 ribu.

4. Tabungan

Biarpun sebesar batas UMP, Ayu tetap menyisihkan 20 persen penghasilannya untuk dana tabungan. Artinya, setiap bulan Ayu menabung sebesar Rp 788 ribu.

Dengan begitu, total kebutuhan pokok Ayu dalam sebulan adalah sebesar:

Konsumsi = Rp 1.350.000

Tempat tinggal = Rp 1.000.000

Transportasi = Rp 440.000

Tabungan = Rp 788.000 

Total = Rp 3.578.000

Dari perhitungan di atas, Ayu masih memiliki sekitar Rp 362 ribu yang bisa digunakan sebagai bujet hiburan atau membeli barang-barang yang Ayu inginkan. 

Jika menggunakan ilustrasi di atas, bagi lajang, UMP Jakarta 2019 terhitung cukup memadai untuk hidup layak di Jakarta. Apalagi, umumnya perusahaan hanya menggunakan upah minimum sebagai patokan gaji pokok. Jika ditambah dengan tunjangan lainnya, penghasilan yang diterima dapat melampaui UMP DKI Jakarta. 

Meski begitu, sekalipun upah yang diterima sebesar batas UMP Jakarta 2019, angka tersebut masih mampu memenuhi kehidupan yang layak bagi seorang lajang di Jakarta. Bahkan, masih ada sisa yang bisa disisihkan untuk tabungan masa depan.

Bagaimana menurutmu?

Fasilitas Kartu Pekerja bikin pengeluaran makin irit

Sebelum ditetapkannya besaran UMP DKI Jakarta 2019, serikat pekerja mengusulkan kenaikan UMP DKI Jakarta 2019 sebesar Rp 4.373.820, sehingga besaran UMP DKI jakarta 2019 saat ini dinilai belum memuaskan. 

Tapi tenang, tak hanya menetapkan besaran UMP DKI Jakarta 2019, Pemprov DKI juga memberikan tambahan fasilitas Kartu Pekerja yang dapat digunakan untuk menikmati subsidi pangan, perumahan, dan transportasi. 

Fasilitas ini diyakini dapat meringankan beban materi yang ditanggung oleh para pekerja. Mau tahu apa saja manfaat kartu pekerja yang bisa bikin pengeluaran makin irit? Berikut ini beberapa di antaranya:

  1. Gratis naik Transjakarta di 13 koridor.
  2. Bantuan biaya pendidikan anak dengan Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus.
  3. Dapat mengikuti program DP Rp 0 SAMAWA.
  4. Subsidi pangan murah dengan selisih harga lebih dari 50 persen dibanding harga pasar, meliputi daging sapi, daging ayam, telur, beras, ikan, dan susu.

(Baca: 8 Kesalahan Mengatur Keuangan Ini akan Kamu Sesali di Hari Tua)

Cara membuat Kartu Pekerja

Untuk bisa mendapatkan Kartu Pekerja, berikut mekanisme pengajuan yang harus diikuti:

  1. Pemohon mengumpulkan fotokopi KTP, KK, NPWP, slip gaji, dan surat keterangan dari perusahaan.
  2. Pemohon mendaftarkan diri melalui Dinas dan Suku Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DKI Jakarta atau melalui tim kerja (serikat pekerja atau Disnaker).
  3. Disnakertrans DKI Jakarta melakukan verifikasi data permohonan.
  4. Pemohon melakukan pembukaan rekening Bank DKI dengan minimal deposit Rp 50 ribu. Selanjutnya, Bank DKI akan mencetak kartu bagi pemohon yang lolos verifikasi.
  5. Disnakertrans DKI Jakarta dan Bank DKI akan mendistribusikan kartu di beberapa titik yang telah ditentukan serikat pekerja.

Bagi para perantau, tak perlu cemas. Fasilitas Kartu Pekerja tak hanya bisa dinikmati pekerja dengan KTP DKI Jakarta, tapi juga untuk kamu yang tak memiliki KTP DKI Jakarta. 

Meski demikian, fasilitas Kartu Pekerja hanya diberikan untuk mereka yang berpenghasilan sebesar UMP DKI 2019 dan maksimal 10 persen dari UMP atau sekitar Rp 4,33 juta. 

(Baca: Pasti Untung, Ini 5 Deposito dengan Suku Bunga di Atas 6%)

Bagaimana menurutmu? Lumayan membantu menekan pengeluaran, bukan? 

Jika dikelola dengan bijak, gaji UMP DKI Jakarta 2019 ditambah fasilitas Kartu Pekerja, hidup layak dan sejahtera di Jakarta bisa tercapai. Sepakat?