Solusi Terlilit Utang

Tolong, Saya Terlilit Utang di Bank. Apa yang Harus Dilakukan?

Pak Budi tak menyangka usahanya harus gulung tikar dalam waktu singkat. Jangankan untung, balik modal sekalipun belum sempat didapat. Padahal modal usaha yang dia dapat dari kredit tanpa agunan (KTA) di sebuah bank belum terbayar lunas. Utang di bank tersebut masih tersisa Rp 300 juta.

Pak Budi memang masih memiliki sumber penghasilan dari bisnisnya yang lain. Namun, membayar cicilan utang di bank yang tak sedikit, ditambah biaya kebutuhan sehari-hari keluarganya, tetap membuat Pak Budi kewalahan.

Apalagi, dibanding produk pinjaman bank lainnya, bunga pinjaman KTA terhitung cukup tinggi. Maklum, bank harus mengantisipasi risiko nasabah gagal bayar sehingga membebani pinjaman dengan bunga tinggi.

Stres? Sudah pasti. Jika Pak Budi terlambat membayar cicilan utang, bunga yang dibebankan bisa beranak pinak. Lambat laun, jika utang dibiarkan menumpuk, bank juga bisa menyita berbagai aset Pak Budi hingga membawa kasus utang ini ke pengadilan. 

Mau tak mau, Pak Budi harus segera mencari cara agar kondisi finansialnya membaik. 

Punya permasalahan serupa dengan Pak Budi? Berikut ini tiga langkah penyelesaian yang bisa dilakukan.

1. Menjual aset pribadi

Untuk melunasi tunggakan KTA, menjual aset dapat menjadi solusinya. Meskipun terasa berat, langkah ini dapat membantumu terlepas dari jeratan utang. Kamu bisa menjual aset pribadi seperti mobil, rumah, tanah, dan aset lainnya untuk menutup utang di bank.

Namun, perlu diingat bahwa menjual aset dalam bentuk properti terkadang membutuhkan waktu yang tak sebentar. Bahkan tak jarang, untuk lekas mencairkan aset yang dimiliki harga jual terpaksa diturunkan. Untung yang didapat pun jadi tak seberapa besar.

2. Negosiasi dengan pihak bank

Sebetulnya, nasabah dapat melakukan negosiasi dengan pihak bank dalam menyelesaikan utang yang dimiliki. Umumnya, negosiasi dapat dilakukan ketika cicilan utang sudah mencapai 60 persen dari pendapatan bulanan nasabah. 

Negosiasi pelunasan utang ini tak hanya menguntungkan nasabah, tapi juga dapat menguntungkan pihak bank. Daripada terjadi gagal bayar hingga bank perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk menggunakan juru tagih atau debt collector, negosiasi bisa jadi alternatif solusi.

Nasabah dapat meminta keringanan bunga atau bahkan penghapusan bunga pinjaman. Konsekuensinya, bank biasanya memajukan tenggat waktu pelunasan utang atau perubahan ketentuan lainnya.

Namun, tak sedikit pula negosiasi yang tak membuahkan hasil. Jika hal tersebut terjadi, nasabah dapat menempuh langkah penyelesaian utang terakhir, yaitu mediasi perbankan. 

3. Mediasi perbankan

Mediasi perbankan adalah proses penyelesaian sengketa antara nasabah dengan bank yang difasilitasi oleh Bank Indonesia. Merujuk pada Peraturan Bank Indonesia No. 8/5/PBI/2006 Mediasi Perbankan, Bank Indonesia bertindak sebagai mediator atau penengah yang berada pada posisi netral. 

Namun, pada Januari 2014, tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan mediasi perbankan dialihkan ke OJK alias Otoritas Jasa Keuangan. Dengan begitu, OJK mengambil alih peran BI sebagai mediator. 

Mediator akan membantu nasabah dan bank dalam mengkaji ulang sengketa untuk memperoleh kesepakatan yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. 

Beberapa upaya yang ditawarkan OJK dalam menyelesaikan sengketa utang, antara lain:

(Baca: 5 Hal yang Harus Diwaspadai Saat Apply KTA Online)

Upaya menyelesaikan sengketa utang

1. Rescheduling (Pembayaran Ulang Pembayaran)

Upaya penyelesaian sengketa utang dengan mengubah beberapa syarat kredit. Misalnya, penjadwalan ulang jangka waktu pelunasan atau penjadwalan ulang pembayaran.

2. Reconditioning (Pengkondisian Kembali)

Mengubah sebagian atau seluruh syarat kredit. Misalnya, pengubahan jadwal pembayaran, tenggat waktu pembayaran, keringanan denda, dan persyaratan lainnya. Reconditioning dapat dilakukan selama tidak mengubah jumlah saldo kredit. 

3. Restructuring (Restrukturisasi)

Mengubah komposisi pembiayaan pemberian kredit. Misalnya, penurunan suku bunga kredit, perpanjangan jangka waktu, pengurangan tunggakan bunga, dan sebagainya. Upaya ini merupakan langkah terakhir yang dipilih bank.

Syarat pengajuan mediasi

  1. Nasabah telah mengajukan upaya penyelesaian kepada bank namun merasa tidak puas dengan solusi yang diberikan bank
  2. Pengajuan sengketa tidak lebih dari 60 hari kerja sejak tanggal surat hasil penyelesaian pengaduan yang disampaikan bank kepada nasabah
  3. Sengketa belum pernah dimediasi sebelumnya, baik oleh BI atau lembaga mediasi lainnya
  4. Sengketa tidak sedang dalam proses lembaga peradilan dan belum terdapat kesepakatan yang difasilitasi oleh lembaga mediasi lainnya
  5. Sengketa yang diajukan memiliki nilai finansial paling banyak Rp 500 juta

Langkah-langkah mengajukan mediasi

Untuk mengajukan mediasi perbankan, berikut langkah yang perlu kamu lakukan:

1. Nasabah mencari informasi mediasi pada bank terkait

Nasabah dapat meminta prosedur penyelesaian sengketa melalui mediasi perbankan pada bank terkait. Nasabah pun perlu memastikan apakah sengketa yang ingin diajukan telah memenuhi persyaratan pengajuan mediasi.

2. Nasabah mengajukan permohonan mediasi

Pengajuan sengketa dilakukan secara tertulis dengan mengisi formulir pengajuan penyelesaian sengketa yang bisa didapatkan dari bank terkait. Formulir dikirim bersama dokumen lainnya, berupa:

  • Fotokopi surat hasil penyelesaian pengaduan yang diberikan bank kepada nasabah
  • Fotokopi bukti identitas nasabah yang masih berlaku
  • Surat pernyataan yang ditandatangi di atas materai bahwa sengketa tidak dalam proses atau telah mendapatkan keputusan dari lembaga peradilan atau lembaga mediasi lainnya.
  • Fotokopi dokumen pendukung terkait dengan sengketa yang diajukan
  • Fotokopi surat kuasa, jika penyelesaian sengketa dikuasakan pada orang lain

Seluruh dokumen tersebut dikirimkan kepada:

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan

u.p. Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen

Menara Radius Prawiro – Lantai 2

Komp. Perkantoran Bank Indonesia

Jl. M.H. Thamrin No. 2

Jakarta 10350

*dengan tembusan yang disampaikan kepada Bank

3. Mengikuti proses mediasi

Baik bank dan nasabah diwajibkan mengikuti proses mediasi. Nantinya, kedua belah pihak akan menandatangani perjanjian mediasi dan akta kesepakatan dengan bank. Proses mediasi dilakukan paling lama 30 hari kerja sejak nasabah dan bank menandatangani perjanjian mediasi. 

4. Mematuhi akta kesepakatan

Proses mediasi akan menghasilkan kesepakatan antara nasabah dan bank yang dituangkan dalam akta kesepakatan. Dengan begitu, kedua belah pihak harus mematuhi akta kesepakatan yang telah dibuat. 

(Baca: 5 Ciri Pinjaman Cepat Cair yang Menipu)

Sekalipun gratis, proses mediasi tetaplah memakan waktu, tenaga, hingga pikiran. Oleh sebab itu, sebaiknya hindari risiko gagal bayar pinjaman di bank. Salah satunya dengan melakukan perencanaan yang matang saat mengajukan pinjaman, termasuk memperhitungkan kemungkinan munculnya masalah yang dapat menghambat proses pelunasan.