masalah-keuangan

Ternyata Begini Cara Orang Indonesia Mengatasi Masalah Keuangan

Masalah keuangan bisa menimpa siapa saja, berapapun penghasilannya. Pendapatan atau gaji yang diperoleh tak selalu menjadi alasan kondisi keuangan yang berantakan. 

Seringkali, penyebab keuangan tidak stabil adalah ketidakmampuan dalam mengelola uang dengan baik. 

Masalah keuangan juga dapat berasal dari faktor eksternal yang tak terduga. Misalnya, pemutusan hubungan kerja alias PHK atau kondisi pandemi yang membuat bisnis jadi sepi.

Intinya, siapa saja dapat mengalami masa-masa sulit finansial. Tapi, strategi atau solusi yang dipilih untuk mengatasi kesulitan keuangan tersebut, yang bisa memberikan hasil berbeda bagi tiap orang. 

Mengatasi masalah keuangan, dari tabungan hingga pinjaman

Ada banyak cara yang bisa dilakukan saat mengalami kesulitan keuangan. Beberapa orang mengandalkan dana darurat, yang lain menjual aset yang dimiliki. Meski, tak bisa dipungkiri, bahwa tak semua strategi dapat berhasil menjadi solusi. 

Bagaimana dengan kita? Apa cara yang dilakukan oleh orang Indonesia saat mengalami masalah keuangan?

Gobear Indonesia mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui riset bertajuk.  Financial Health Index (FHI). Riset FHI adalah survei keuangan yang melibatkan lebih dari 4.000 responden dari empat negara di Asia, yaitu Singapura, Hong Kong, Thailand, dan Indonesia.  

Adapun respondennya berasal dari kelas ekonomi menengah dan berusia antara 18-65 tahun. 

Dari hasil riset FHI, diketahui bahwa saat mengalami kesulitan untuk memenuhi biaya hidup, ada dua strategi yang paling banyak dipilih orang Indonesia, yaitu memangkas pengeluaran (66 persen) dan menarik uang dari tabungan dana darurat (59 persen).   

Dengan persentase yang sedikit berbeda, hal yang sama juga ditemukan pada masyarakat Singapura, Hong Kong, dan Thailand.  

(Baca:  Ternyata, Begini Cara Orang Indonesia Menyimpan Uangnya)

Tabel hasil riset FHI cara orang Indonesia mengatasi kesulitan finansial

 

masalah keuangan

Dapat dilihat dari tabel di atas, bahwa selain kedua strategi tersebut, sebanyak 39 persen responden Indonesia memilih untuk bekerja lembur atau melakukan pekerjaan sampingan untuk mendapat penghasilan tambahan. Ini serupa dengan masyarakat Hong Kong (40 persen), Singapura (38 persen), dan Thailand (38 persen).

Dibandingkan negara lainnya, sekitar 29 persen responden Indonesia tidak merasa malu untuk mengajukan pinjaman kepada keluarga dan teman. Terutama bagi mereka yang berusia antara 18 hingga 25 tahun. 

Sementara itu, masyarakat Singapura dan Hong Kong lebih mungkin untuk mengandalkan subsidi dari pemerintah dibandingkan masyarakat dari negara lain. 

Secara umum, sebetulnya tidak ada perbedaan yang signifikan pada cara mengatasi masalah keuangan antara orang Indonesia dengan Singapura, Hong Kong, maupun Thailand. 

Meski begitu, bisa dilihat pada tabel hasil riset FHI bahwa ternyata orang Indonesia cenderung lebih mengandalkan pinjaman dibandingkan bantuan subsidi dari pemerintah. 

Bagaimana denganmu?

Pentingnya meningkatkan literasi keuangan

Kamu mungkin sepakat bahwa mencari sumber penghasilan tambahan dapat jadi solusi yang cukup efektif. Penghasilan bertambah, kebutuhan hidup bisa lebih terjamin. 

Sayangnya, asumsi ini tak sepenuhnya benar. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, besarnya pemasukan tidak menjamin kondisi keuangan bisa lebih stabil. Yang sering terjadi, peningkatan penghasilan justru diikuti dengan peningkatan kebutuhan alias pengeluaran.

Untuk itu, kemampuan mengelola uang tak kalah penting dibandingkan kemahiran mendapatkan uang. Sebagai permulaan, kamu bisa mulai membuat anggaran keuangan untuk memantau pengeluaran dan pemasukan secara rutin. 

Selanjutnya, mulailah rencanakan tujuan keuangan yang dapat menyehatkan kondisi finansial. Misalnya, dengan menyiapkan dana darurat hingga dana pensiun.

Kalau merasa kurang akrab dengan berbagai produk keuangan, jangan ragu untuk mengikuti kelas seminar atau workshop keuangan yang berlangsung di kotamu. 

Investasi ilmu sedari muda sebagai bekal berharga di masa depan. Sepakat?

(Baca:  Belum Melek Finansial, Ini Skor Literasi Keuangan Orang Indonesia)