MRT Jakarta Ratangga

Tarif MRT Jakarta, KRL, dan Transjakarta, Mana Lebih Murah?

Sudah coba naik moda raya terpadu alias MRT Jakarta? Seperti yang kita tahu, tanggal 24 Maret 2019, MRT Jakarta telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Kini, masyarakat dapat menikmati sistem transportasi kereta bawah tanah pertama di Indonesia.

Sebagai informasi, layanan MRT yang diberi nama Ratangga ini baru tersedia dari wilayah Selatan Jakarta ke Pusat Jakarta, sepanjang 16 km. Rencananya, pembangunan MRT fase selanjutnya akan menjangkau wilayah Barat hingga Timur Jakarta, serta sepanjang 78 kilometer dari Cikarang hingga Balaraja. 

Ratangga fase 1 sendiri, terdiri dari 16 rangkaian kereta (1 rangkaian terdiri dari 6 kereta) yang akan melewati 13 stasiun dari Bundaran HI menuju Lebak Bulus. 

Tiap satu rangkaian Ratangga diperkirakan mampu menampung hingga 1.950 penumpang. Sebagai perbandingan, kapasitas kereta rel listrik alias KRL adalah sebanyak 2.000 penumpang.

Dari 13 stasiun Ratangga, tujuh di antaranya merupakan stasiun layang, sementara sisanya merupakan stasiun bawah tanah. Berikut daftar lengkapnya:

  1. Stasiun Lebak Bulus
  2. Stasiun Fatmawati
  3. Stasiun Cipete Raya
  4. Stasiun Haji Nawi
  5. Stasiun Blok A
  6. Stasiun Blok M
  7. Stasiun Sisingamangaraja
  8. Stasiun Senayan (bawah tanah)
  9. Stasiun Istora (bawah tanah)
  10. Stasiun Benhil (bawah tanah)
  11. Stasiun Setiabudi (bawah tanah)
  12. Stasiun Dukuh Atas (bawah tanah)
  13. Stasiun Bundaran HI (bawah tanah)

Semua stasiun ini akan beroperasi dari pukul 05.00-24.00. Untuk menghindari lonjakan penumpang, waktu keberangkatan Ratangga dijadwalkan berbeda-beda pada jam tertentu. 

Misalnya pada waktu sibuk, Ratangga akan berangkat setiap lima menit sekali, sedangkan pada waktu lainnya, Ratangga akan berangkat setiap 10 menit. Biar lebih jelas, cek jadwalnya di bawah ini.

  • Pada pukul 05.00-06.00 WIB, 09.00-16.00 WIB, dan 19.00-24.00: MRT Jakarta berangkat setiap 10 menit sekali.
  • Pada pukul 06-09.00 WIB dan 16.00-19:00 WIB: MRT jakarta berangkat setiap 5 menit sekali.

Harga tiket MRT Jakarta 

Meski sempat mengalami perubahan, akhirnya pada 26 Maret 2019, tarif MRT resmi ditetapkan sesuai dengan usulan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. 

Tarifnya sebesar Rp 10.000  per 10 km, dengan tarif minimum sebesar Rp 3.000 dan tarif maksimum sebesar Rp 14.000 untuk jarak terjauh. Dengan begitu, rata-rata tarif MRT Jakarta adalah sebesar Rp 8.500.

Berikut ini daftar lengkap tarif MRT antar stasiun:

Tarif MRT Jakarta
Instagram.com/aniesbaswedan/
Tarif MRT Jakarta
Instagram.com/aniesbaswedan/

 

Untuk dapat menggunakan MRT Jakarta, ada dua jenis tiket yang bisa dibeli, yaitu single trip seharga Rp 15 ribu dan multi trip seharga Rp 25 ribu. Tak jauh berbeda dengan KRL, tiket MRT Jakarta dapat diperoleh di loket penjualan tiket maupun mesin tiket otomatis alias ticket vending machine yang tersedia di tiap stasiun.

Tapi, tanpa membeli tiket ini, kamu tetap bisa naik MRT Jakarta dengan menggunakan uang elektronik alias e-money. Adapun e-money yang saat ini telah terintegrasi dengan sistem pembayaran MRT Jakarta adalah Brizzi BRI, TapCash BNI, e-Money Mandiri, dan Flazz BCA. 

Besaran tarif tiket MRT Jakarta ternyata menuai pro-kontra. Ada yang menganggap tarif MRT Jakarta cukup murah, ada juga yang menilai tarif MRT masih tergolong mahal. Bagaimana menurutmu? 

Ratangga, KRL, dan Transjakarta. Mana yang Paling Hemat?

Seperti yang kita tahu, ibu kota punya Transjakarta dan KRL yang kerap jadi moda transportasi pilihan banyak pekerja di Jakarta. Sama-sama punya jalur terpisah dari kendaraan lainnya, keduanya dinilai dapat menghemat banyak waktu perjalanan.

Memang sih, ada kalanya penumpang Transjakarta tetap terjebak kemacetan, karena tak sedikit pengendara nakal yang menggunakan jalur busway. 

Secara terperinci, komponen tarif MRT Jakarta senilai Rp 10 ribu per 10 km terdiri dari boarding fee sebesar Rp 1.500 per km dan sisanya merupakan total tarif per 10 km sebesar Rp 8.500 (Rp 850 per 1 km). Dilansir dari CNN Indonesia, jika tanpa subsidi, tarif MRT Jakarta adalah sebesar Rp 1.900 per km. 

Adapun, tarif KRL mulai dari Rp 3.000-6.000  untuk 1-25 km pertama. Besaran ini telah disubsidi sebesar Rp 3.000 per penumpang. Sedangkan untuk Transjakarta, tarif yang dikenakan adalah sebesar Rp 2.000-3.500. 

Untuk jarak tempuh dekat, misalnya satu sampai tiga stasiun, tarif Transjakarta, MRT Jakarta, maupun KRL tak jauh berbeda. Namun, untuk jarak jauh, tarif MRT Jakarta terhitung lebih mahal. 

Misalnya, dari stasiun MRT Lebak Bulus menuju Senayan dengan jarak tempuh sekitar 10 km, tarif tiket yang dikenakan sebesar Rp 10.000. Dengan jarak tempuh yang sama, tarif tiket KRL hanya seharga Rp 3.000. Tak jauh berbeda dengan Transjakarta yang punya tarif tetap sebesar Rp 3.500.

Meski begitu, jika dibandingkan dengan tarif ojek online, tarif MRT Jakarta tetap terhitung lebih terjangkau. Sebagai contoh, dilansir dari CNN Indonesia, per November 2018 tarif Go-Ride dari aplikasi Gojek sebesar Rp 1.600 per km. Artinya, untuk jarak tempuh 10 km, tarif Go-Ride adalah sebesar Rp 16.000. Tarif ini pun bisa lebih tinggi pada waktu sibuk.

Ongkos menggunakan MRT Jakarta, Transjakarta, maupun KRL juga sangat ditentukan oleh lokasi tempat tinggal dan kantor ataupun lokasi tujuan lainnya. 

Jika kantor terhubung dengan stasiun MRT Jakarta, sangat mungkin biaya transportasi menggunakan MRT jadi jauh lebih hemat dibanding moda transportasi lain.

Sebaliknya, jika kantor berjarak lebih dekat dengan stasiun KRL dibandingkan stasiun MRT, menggunakan KRL tentu lebih efisien. Apalagi jika kamu tak perlu menggunakan transportasi umum tambahan lainnya untuk tiba tepat di depan kantor.

(Baca: Apakah penggunaan Grab lebih murah dari pada mobil pribadi)

Fasilitas Ratangga

Sebetulnya, tak aneh jika tarif Ratangga alias MRT Jakarta lebih tinggi dibandingkan tarif KRL maupun Transjakarta. Sebab, fasilitas yang dimiliki Ratangga terbilang lebih lengkap dibanding kedua transportasi umum tersebut.

Berikut ini fasilitas-fasilitas Ratangga yang bisa menunjang kenyamanan para penumpang.

  1. Tangga dan eskalator untuk akses masuk dan keluar penumpang umum, serta elevator khusus untuk manula, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
  2. Toilet umum, ruang ibadah, ruang menyusui, dan ruang pertolongan pertama.
  3. Penyejuk ruangan di area stasiun bawah tanah, serta desain yang mengoptimalkan sirkulasi udara terbuka pada stasiun layang.
  4. Kantor penjualan tiket.
  5. Kantor pelayanan bagi pelanggan.
  6. Gerbang penumpang biasa dan gerbang khusus untuk pengguna kursi roda selebar 90 cm.
  7. Public announcement dan tactile untuk penyandang disabilitas.
  8. Jaringan nirkabel dan penampang informasi untuk menampilkan status kedatangan dan keberangkatan kereta.
  9. Lantai gerai komersial.
  10. Peron menunggu kereta dengan platform screen door dan tempat duduk.

Selain lebih nyaman, menggunakan Ratangga juga bisa menghemat banyak waktu. Bagaimana tidak, untuk jarak terjauh yang melewati jalur sepanjang 16 km, waktu yang diperlukan hanya sekitar 30 menit. 

Jika menggunakan KRL, dengan jarak tempuh yang sama, waktu yang diperlukan mungkin tak jauh berbeda. Namun, jika menggunakan kendaraan pribadi, perbedaan waktu tempuhnya bisa 30-1 jam lebih lama. 

MRT Jakarta sendiri akan terintegrasi dengan moda transportasi lainnya, seperti KRL, Transjakarta, hingga LRT yang saat ini dalam proses pembangunan. Misalnya, Halte Bundaran HI terintegrasi dengan Stasiun MRT Bundaran HI.

Transjakarta juga akan dikerahkan sebagai feeder alias bus pengumpan, dengan mengisi rute-rute yang tidak dilalui MRT. 

Tak hanya itu, sistem pembayaran Ratangga, Transjakarta, dan KRL pun akan terintegrasi, sehingga kamu cukup punya satu jenis kartu untuk bisa menggunakan ketiga transportasi tersebut. Ini tentu semakin memudahkan penumpang, terutama saat berpindah ke transportasi lainnya.

(Baca: Motor Masuk Tol, Bikin Untung atau Buntung?)

Bagaimana menurutmu?