Cara beli rumah tanpa riba

Selain KPR Syariah, Ini 3 Cara Lain Beli Rumah Tanpa Riba

Bisa beli rumah sendiri adalah impian banyak orang. Apalagi bagi pasangan yang baru menikah dan ingin hidup mandiri. 

Adanya sistem kredit pemilikan rumah (KPR) sebetulnya memudahkan impian itu bisa lekas terwujud. Dengan fasilitas perbankan ini, kamu bisa membeli rumah dengan cara mencicil selama kurun waktu tertentu, sesuai dengan kemampuan.

Masalahnya, ada anggapan bahwa skema KPR mengandung riba yang seharusnya dihindari umat Muslim. Alasannya, karena ada bunga pinjaman dalam KPR yang dianggap sebagai riba. Jika sepaham dengan anggapan ini, kamu tentu harus cari cara lain beli rumah tanpa riba.

Tapi, memangnya ada cara beli rumah tanpa riba? Ada! Empat cara beli rumah tanpa riba ini bisa jadi solusi ideal untukmu.

1. Beli rumah secara tunai

Jika kamu punya dana yang memadai, membeli rumah secara tunai atau cash keras adalah pilihan terbaik. Sebab, kamu terbebas dari kewajiban membayar utang cicilan tiap bulannya.

Jika dihitung-hitung, membeli rumah secara tunai jauh lebih menguntungkan karena biaya yang dikeluarkan jadi lebih sedikit dibanding dengan skema cicilan. Kamu juga tak memerlukan pihak ketiga, seperti bank, sehingga prosesnya jauh lebih mudah dan cepat.

Selain itu, kelengkapan surat-surat rumah yang dibeli bisa langsung dimiliki. Dengan begitu, jika terjadi situasi mendesak, rumah dapat segera dijadikan jaminan pinjaman ke bank.

Tentunya, membeli rumah secara tunai membuatmu terbebas dari risiko riba. Bukan hanya tak perlu risau tambahan bunga, kamu juga tak perlu mengeluarkan sejumlah biaya administrasi yang diperlukan jika membeli secara kredit.

Meski begitu, tak dapat dipungkiri bahwa opsi ini lumayan berat karena memerlukan dana yang besar. Harga rumah yang mengalami kenaikan tiap tahunnya membuat banyak orang kesulitan mengumpulkan uang untuk membeli rumah secara tunai.

2. Beli rumah secara tunai bertahap

Jika membeli rumah secara tunai masih terlalu memberatkan, membeli rumah dengan pembayaran soft cash atau tunai bertahap dapat menjadi alternatifnya.

Sama seperti sistem pembayaran tunai, kamu bisa mendapatkan rumah dengan harga yang lebih murah dibanding dengan pembayaran sistem KPR. Namun, sesuai namanya, pembelian rumah dengan skema pembayaran ini dilakukan secara bertahap, antara satu hingga lima tahun. Hal ini berbeda dengan pembayaran cicilan KPR yang bisa dilakukan hingga belasan tahun.

Pembelian rumah secara bertahap biasanya mensyaratkan adanya down payment (DP) seperti pada skema KPR, dengan jumlah yang telah disepakati oleh penjual dan pembeli. Namun, ada pula pengembang atau developer yang langsung membagi jumlah pembayaran sesuai tahapan yang disepakati.

3. Cicilan nol persen ke pengembang syariah

Belum memiliki cukup dana untuk membeli rumah secara bertahap, apalagi cash keras? Pilihan beli rumah tanpa riba selanjutnya adalah mencicil dengan bunga nol persen dari pengembang syariah.

Cara membeli rumah tanpa riba yang satu ini bisa dilakukan dengan lebih ringan. Sebab, tenor cicilan yang ditawarkan cukup panjang seperti pada KPR konvensional.

Untuk menggunakan fasilitas ini, kamu harus mencari proyek perumahan yang sedang dikembangkan oleh developer syariah. Kamu bisa mencari tahu informasi terkait hal ini melalui Developer Property Syariah Indonesia (DPSI).

DPSI merupakan asosiasi pengembang perumahan syariah yang menawarkan pembelian rumah dengan cicilan tanpa perantara bank.

Berbeda dengan skema KPR, pembelian rumah langsung dari pengembang syariah tidak melibatkan pihak ketiga, seperti bank. Selain itu, dalam mengajukan cicilan, kamu pun tak perlu melalui proses BI checking.

Tapi perlu dipahami bahwa tak adanya proses BI checking bisa menjadi pisau bermata dua, baik bagi pengembang maupun konsumen. Sebab, tanpa ada peranan industri keuangan, kamu pun tidak dapat “mengadu” ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jika timbul sengketa di kemudian hari.

Secara umum, prosedur pembelian rumah dari pengembang syariah adalah sebagai berikut:

  1. Calon pembeli melakukan pemesanan ke developer syariah yang dipilih dengan membuat Surat Pemesanan Pembelian Rumah (SPPR).
  2. Calon pembeli dan pengembang melakukan perjanjian, serta menandatangani SPPR di hadapan notaris.
  3. Pembeli melakukan pembayaran DP dan pelunasan sesuai kesepakatan.

Jika tertarik membeli rumah dengan cara ini, pastikan memilih pengembang dengan rekam jejak yang bagus dan terpercaya.

4. KPR syariah

Sekalipun KPR identik dengan riba, namun ada pula KPR yang menggunakan prinsip syariah sehingga cocok untuk kamu yang tak mau terjerat riba. Inilah KPR syariah, produk pembiayaan rumah yang juga banyak ditawarkan oleh bank-bank di Indonesia.

Apa bedanya dengan KPR konvensional? Tentunya bukan hanya namanya saja yang berbeda.

Secara sederhana, skema pada KPR konvensional adalah meminjamkan uang kepada nasabah untuk pembelian rumah. Dengan begitu, keuntungan yang didapatkan bank berupa bunga pinjaman yang dibebankan pada nasabah. Adanya bunga inilah yang dikhawatirkan sebagian orang sebagai riba yang perlu dihindari.

Sementara, pada KPR syariah, skema yang digunakan adalah jual beli (murabahah). Bank sebagai penyedia KPR syariah membeli rumah yang diinginkan nasabah dari pengembang dan menjualnya kepada nasabah. Bank memperoleh keuntungan dari margin harga jual yang telah disepakati dengan nasabah terkait. 

Selain itu, jika pada KPR konvensional jumlah cicilan dapat berubah tergantung pada suku bunga Bank Indonesia, pada KPR syariah, jumlah cicilan akan bersifat tetap hingga cicilan terakhir.

Selain skema jual beli, produk KPR syariah juga menggunakan beberapa skema atau akad lain, seperti akad sewa beli (ijarah muntahia bittamleek), akad kepemilikan bertahap (musyarakah mutanaqisah), dan sebagainya.

Kelebihan KPR syariah dibanding KPR konvensional

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa jumlah cicilan pada KPR syariah akan bersifat tetap sesuai kesepakatan di awal. Dengan begini, kamu bisa melakukan perencanaan keuangan keluarga secara lebih pasti.

Selain terhindar dari riba, tidak adanya sistem bunga pada KPR syariah juga bisa membuatmu lebih tenang karena tidak akan terpengaruh oleh kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI).

Jika ingin melunasi pembayaran lebih awal, kamu pun tak akan dikenakan penalti atau denda seperti pada KPR konvensional.

Kekurangan KPR syariah

Keuntungan KPR syariah yang tidak dipengaruhi kenaikan suku bunga BI juga bisa jadi kelemahan. Sebab, bunga BI juga dapat mengalami penurunan. Nah, jika hal ini terjadi, nasabah KPR syariah tidak bisa menikmati pembayaran cicilan rendah saat suku bunga turun.

Di sisi lain, ada pula KPR konvensional yang menerapkan skema bunga tetap atau fixed rate. Namun, skema ini umumnya berlaku pada tahun-tahun awal cicilan saja. Selanjutnya, tetap akan menggunakan bunga mengambang atau floating rate yang mengacu kepada kondisi pasar atau suku bunga BI.

Selain itu, margin KPR syariah pun biasanya lebih tinggi dibanding suku bunga yang dikenakan pada KPR konvensional.

(Baca: Butuh Dana? Ini 4 Pilihan Pinjaman Syariah Bebas Riba)

Lebih untung mana?

Dengan skema bunga mengambang yang mengikuti suku bunga acuan, biaya cicilan pada KPR konvensional bisa bertambah saat suku bunga acuan naik. Tapi, bisa juga jadi lebih ringan saat suku bunga acuan turun.

Dengan kata lain, kekurangan KPR konvensional bisa juga menjadi kelebihan. Artinya, sulit mengatakan bahwa KPR syariah pasti lebih untung dari KPR konvensional ataupun sebaliknya. Sebab, jika suku bunga acuan tidak mengalami kenaikan atau bahkan turun, jelas KPR konvensional jauh lebih untung. Sebaliknya, jika suku bunga acuan mengalami kenaikan, bukan tak mungkin biaya KPR syariah jadi lebih ringan.

Namun, jika kamu mencari cara beli rumah tanpa riba, KPR syariah bisa jadi pilihan yang lebih ideal.

Apa pun metode pembiayaan yang kamu pilih, jika dilakukan secara mencicil, perhatikan empat tips melunasi cicilan rumah berikut ini agar impian punya rumah idaman segera terwujud.

1. Hitung kemampuan bayar cicilan

Jangan karena tergiur iming-iming penawaran dari pengembang ataupun bank, kamu malah terkena kredit macet karena kesulitan bayar cicilan. 

Oleh sebab itu, buatlah anggaran keuangan untuk mengetahui kemampuanmu dalam membayar cicilan tiap bulannya.

Agar tak mengganggu pos keuangan lainnya, sebaiknya cicilan bulanan tak lebih dari 30 persen penghasilan bulanan. Jika memiliki dana lebih, bayarlah DP lebih banyak agar cicilan bulanan jadi lebih ringan.

2. Periksa penawaran cicilan dengan cermat

Baik sales bank maupun sales pengembang perumahan tentu punya banyak cara untuk menarik minat calon pembeli. Sekalipun tak bermaksud menipu, terkadang penawaran yang diberikan membuat calon pembeli salah paham dalam memahami penawaran yang diberikan.

Tugas kita sebagai pembeli untuk mempelajari dengan baik persyaratan dan ketentuan penawaran yang diberikan agar tidak merasa dirugikan.

3. Hitung biaya tambahan lainnya

Tak hanya biaya cicilan pokok dan uang muka, saat membeli rumah, apalagi dengan skema mencicil, terdapat sejumlah biaya lain yang perlu dipersiapkan. 

Misalnya, biaya administrasi, pajak, asuransi, hingga biaya notaris. Oleh sebab itu, jangan lupa perhitungkan pula sejumlah biaya tambahan tersebut agar tidak kewalahan saat menyiapkan dananya.

4. Prioritaskan alokasi keuangan untuk pelunasan KPR

Biaya yang diperlukan untuk membeli rumah dengan KPR tentu tak sedikit. Jangan sampai ditambah lagi dengan denda keterlambatan bayar. Oleh sebab itu, pastikan alokasi keuangan untuk cicilan KPR tidak diganggu gugat.

Jika memiliki uang lebih, tak ada salahnya memprioritaskan alokasi uang tersebut untuk pelunasan KPR. Namun, perhatikan ketentuan cicilan yang berlaku. Pahami apakah pelunasan di awal bisa mengurangi biaya bunga atau justru dikenai biaya penalti.

(Baca: KTA Syariah Vs KTA Konvensional, Apa Bedanya?)

Itulah empat cara beli rumah tanpa riba yang bisa kamu coba. Semoga impian memiliki rumah sendiri bisa segera terwujud ya!