dita-soedarjo

Sekaya Apa Sih Keluarga Dita Soedarjo? Ini Jawabannya

Mungkin tidak banyak yang mengetahui nama Dita Soedarjo sebelum pacaran - dan akhirnya putus - dengan Denny Sumargo. Denny lebih terkenal baik sebagai atlet maupun aktor.

Tapi Dita sudah punya nama di kalangan sosialita. Maklum, Dita adalah cucu Kartini Muljadi, orang terkaya nomor 49 di Indonesia per 2018 menurut majalah Forbes.

Kartini Muljadi merupakan pemilik multikorporasi Tempo Group. Bukan media massa Tempo yang menerbitkan majalah, koran, dan portal online, melainkan Tempo yang memiliki unit usaha terbesar PT Tempo Scan Pacific dengan produk utama produk konsumsi dan farmasi.

Ibu Dita yang merupakan anak Kartini Muljadi juga pengusaha, yakni Dian Muljadi yang memiliki bisnis media online. Adapun ayah Dita adalah Soetikno Soedarjo, pemilik PT Mugi Rekso Abadi (MRA). MRA bergerak di bidang media, kuliner, fashion, hingga otomotif. 

Lewat akun Instagram, Dita Soedarjo sendiri kerap mempromosikan bisnis yang ia jalankan. Di antaranya es krim Haagen-Dasz, produk kecantikan D’licate, dan fashion Woman Dignity.

Dia juga mendirikan yayasan sosial bernama Let’s Share. Yayasan ini berfokus kepada bidang kesehatan buat masyarakat kurang mampu. Maka lengkaplah status sosialita Dita Soedarjo.

Menurut Forbes, kekayaan Kartini Muljadi mencapai US$ 610 juta atau sekitar Rp 8,8 triliun. Adapun data mengenai kekayaan Soetikno Soedarjo ayah Dita tak terungkap. Namun yang pasti pengusaha ini punya harta kekayaan berlimpah dari usahanya yang menggurita.

Inspirasi Bisnis Keluarga Dita Soedarjo

Baik Kartini Muljadi maupun Soetikno Soedarjo dan Dian Muljadi memiliki peran dalam diri Dita Soedarjo. Tak hanya harta, peran itu juga berupa jiwa pengusaha.

Soetikno sebagai ayah Dita sudah lama terkenal sebagai pengusaha kaya raya berkat bisnisnya di PT MRA. Perusahaan itu ia dirikan bersama Adiguna Sutowo, anak Ibnu Sutowo yang akrab dengan rezim Orde Baru.

(Baca: Cari Sumber Dana untuk Modal Usaha? Ini 5 Pilihannya)

Kesuksesan usaha Soetikno terbukti dari keberadaan rumah tiga lantainya di antara Jalan Brawijaya VIII dan Jalan Brawijaya IX, Jakarta. Rumah ini berada di hook atau belokan. 

Mobil yang dikoleksinya mencakup Ferrari dan Alphard. Adapun fasilitas yang berada di dalamnya, antara lain taman, kolam renang, dan tempat fitness. Untuk mencapai lantai tiga rumah itu, ada lift dan elevator.

Sayangnya, Soetikno belakangan terjerat kasus hukum di Komisi Pemberantasan Korupsi. Dia disangka terlibat korupsi di Garuda Indonesia.

Kisah Kartini sebagai pengusaha pun layak dijadikan inspirasi untuk memulai dan mengembangkan bisnis. Apalagi dia mengawali perjalanan usahanya dari profesi di dunia hukum.

Lahir dari keluarga mapan di Kebumen, Jawa Tengah, pada 17 Mei 1930, Kartini berkesempatan menempuh pendidikan tinggi. Setelah menamatkan pendidikan setingkat sekolah menengah atas, Kartini menuntut ilmu di sejumlah universitas.

Salah satunya di Universitas Indonesia, Jakarta. Di sini, dia mengambil jurusan hukum. Di Jakarta pula dia bertemu dengan orang yang kelak menjadi suaminya, Djojo Muljadi, seorang notaris.

Sempat menjadi hakim di pengadilan Jakarta, Kartini banting setir menjadi notaris setelah ditinggal suaminya untuk selamanya. Di sela kesibukannya mencari nafkah sebagai notaris, Kartini masih bisa menjadi dosen tamu di fakultas hukum sejumlah kampus di Jakarta.

“Saya merasa gaji hakim tidak dapat mencukupi hidup keluarga saya. Daripada korupsi, saya lebih baik mencari nafkah yang cukup sebagai notaris secara terhormat,” kata Kartini seperti dikutip dari HukumOnline.com.

Pada 1990-an, Kartini mendirikan perusahaan konsultan hukum bersama beberapa rekannya. "Kartini Muljadi & Rekan" nama perusahaan konsultan itu. Firma hukum ini masih tegak berdiri hingga sekarang. Fokus kliennya adalah perusahaan dan komersial.

Namun Kartini berhasil meraup pundi-pundi rupiah tidak hanya dari firma hukum itu. Justru penghasilannya lebih banyak datang dari usahanya yang lain, yakni Tempo Group.

Perusahaan ini dimiliki setelah dibeli olehnya. Bisa dikatakan Tempo Group adalah bisnis keluarga Kartini Muljadi. Sebab, bukan hanya dia yang menggerakkan perusahaan ini. Handojo Muljadi, anaknya, berhasil mengepakkan sayap Tempo Group sampai mampu terbang tinggi hingga sekarang ia menjabat sebagai direktur utama Tempo Scan Pacific.

(Baca: 13 Bisnis Online yang Mudah dan Menggiurkan di Era Internet)

Bertahan Saat Krisis

Grup Tempo tidak lempeng saja dalam bisnisnya. Ketika krisis moneter melanda pada 1997-1998, induk perusahaan ini juga terkena imbas. Utangnya yang dalam mata uang dolar tiba-tiba melonjak karena nilai rupiah terjun bebas.

Namun waktu membuktikan, Tempo tidak hancur dihantam krisis. Bisnis ini selamat berkat kejelian dan ketekunan orang-orang di baliknya. Handojo Muljadi bercerita, utang mereka mencapai US$ 140 juta kala itu.

Bisa dibayangkan, saat negara sedang kisruh dan dunia ekonomi terguncang, banyak perusahaan yang kolaps dilibas utang. Tapi Tempo, kata Handojo, berhasil melunasi utang itu bahkan sebelum jatuh tempo yang dipatok selama tiga tahun.

Awak Tempo berhasil membayar lunas utang tersebut tanpa penjadwalan ulang atau meminta keringanan apa pun. Utang lunas berkat kerja keras.

Handojo pun mengaku mendapatkan inspirasi dari sang ibu. Menurut dia, ibunya selalu mengajarkan soal kerja keras dan kejujuran dalam hidup. Itulah yang menjadi inti segala tindakannya dalam berbisnis.

Berkat segala daya upaya itu, keluarga Dita Soedarjo bisa menikmati manisnya pundi-pundi rupiah. Bahkan kekayaan itu disebut sempat membuat Denny Sumargo minder.

Seyogianya perjalanan bisnis yang berbuah manis itu bisa dijadikan inspirasi. Minder malah membuat jalan tersendat, bahkan terjatuh karena tak bersemangat dalam menjalankan bisnis. Coba saja dulu meski dengan modal minim. Siapa tahu malah kita bisa lebih sukses.

(Baca: 12 Bisnis Rumahan yang Populer dan Tahan Lama)