Asuransi Kesehatan

Sebelum Membeli Asuransi Kesehatan, Ajukan 7 Pertanyaan Ini

Setelah memahami pentingnya memiliki asuransi kesehatan, pertanyaan selanjutnya: bagaimana memilih produk asuransi kesehatan yang tepat? 

Pasalnya, saat ini jumlah perusahaan asuransi terhitung cukup banyak. Tiap perusahaan pun memiliki beragam produk dengan manfaat dan nilai premi yang bervariasi. Jika tak jeli, produk yang dibeli bisa jadi bukan produk yang benar-benar dibutuhkan. Alhasil, uang melayang tanpa manfaat maksimal. 

Memilih asuransi kesehatan yang tepat tak bisa ditentukan hanya dari besarnya nilai premi ataupun limit tanggungan. Dua hal tersebut memang penting, tapi masih banyak faktor yang harus dijadikan pertimbangan. 

Tak seperti membeli gadget yang manual book-nya dapat kita abaikan, membeli produk asuransi baru boleh dilakukan jika kamu sudah benar-benar paham syarat dan ketentuan, serta keuntungan yang bisa didapatkan. 

Tak sedikit lho orang yang merasa tertipu perusahaan asuransi. Padahal, sebetulnya itu terjadi lantaran mereka tak paham manfaat dan aturan main produk yang dibeli. Jangan sampai hal serupa kamu alami, apalagi setelah bertahun-tahun membayar premi. 

Untuk menentukan produk yang sesuai untukmu, pastikan kamu membaca dan memahami semua klausul polis asuransi sebelum menandatanganinya. Baca dan tanyakan segera kepada agen asuransi jika ada pernyataan yang tak dipahami. 

Selain itu, ada tujuh pertanyaan penting yang wajib diajukan sebelum memutuskan membeli. Berikut daftarnya: 

1. Berapa total biaya premi dan bagaimana cara membayarnya?

Tiap asuransi memiliki ketentuan yang berbeda-beda. Ada yang mengharuskan nasabah membayar selama 10 tahun dengan manfaat seumur hidup, ada pula yang mewajibkan pembayaran premi hingga usia 70 tahun, bahkan seumur hidup.

Tanyakan pula mengenai jadwal pembayaran premi. Apakah per bulan, per semester, atau per tahun?

Semakin tinggi premi, biaya pertanggungan pun semakin besar. Namun, pertimbangkan dengan cermat apakah fasilitas yang diberikan memang kamu perlukan. Misalnya, jika kamu sudah merasa nyaman dengan fasilitas rawat kelas II, perlukah memilih premi untuk kelas VIP?

Perhatikan ketentuan ini agar bisa disesuaikan dengan kapasitas keuanganmu ya. 

2. Apa saja yang dapat di-cover oleh asuransi?

Perlu diketahui bahwa tidak semua penyakit dan kondisi ditanggung oleh asuransi kesehatan. Oleh sebab itu, konsultasikanlah kepada agen asuransi secara lengkap mengenai risiko penyakit dan kondisimu, baik yang ditanggung perusahaan asuransi, maupun yang tidak.

Tak hanya jenis penyakit, pahami pula tindakan-tindakan yang ditanggung asuransi, seperti biaya medical check up, konsultasi, dan sebagainya. 

3. Apa saja syarat dan prosedur klaim?

Umumnya, perusahaan asuransi menerapkan dua sistem pembayaran uang pertanggungan, yaitu sistem cashless dan sistem reimbursement. Pada sistem cashless, nasabah hanya perlu menunjukkan kartu untuk melakukan pendaftaran ataupun menggunakan layanan kesehatan di rumah sakit. 

Pada sistem reimbursement, nasabah harus membayar terlebih dulu, baru mengajukan klaim ke perusahaan asuransi. Nah, jika perusahaan asuransi menggunakan sistem ini, perhatikan apa saja persyaratan klaim yang harus dilengkapi.

Sistem cashless tentu lebih praktis. Namun, umumnya sistem ini baru bisa digunakan di rumah sakit yang telah bekerja sama dengan perusahaan asuransi terkait. Jika berobat di rumah sakit non rekanan, maka kemungkinan besar sistem reimbursement-lah yang akan digunakan.

4. Seberapa luas jaringan rumah sakit rekanan?

Semakin luas jaringan rumah sakit rekanan, tentu semakin baik untukmu. Artinya, kamu bisa dengan mudah mendapatkan pelayanan medis di mana pun. Kemungkinan membayar dengan sistem cashless pun jadi lebih besar. 

Selain itu, luasnya cakupan rumah sakit rekanan juga dapat menjadi indikasi kredibilitas perusahaan asuransi tersebut. Oleh sebab itu, pilihlah asuransi yang memiliki banyak rumah sakit rekanan, terutama di sekitar tempat tinggalmu. 

5. Apa akibatnya jika terlambat bayar premi?

Sebagai nasabah, wajib membayar premi sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Jika tidak, maka ada kompensasi yang harus ditanggung. 

Jika premi tak kunjung dibayar, beberapa perusahaan asuransi dapat menangguhkan sementara status kepesertaan nasabah sehingga nasabah tidak dapat melakukan klaim asuransi. 

Ada pula perusahaan yang menerapkan denda sekian persen dari total premi dan lama keterlambatan. Pada aturan polis standar AAUI (Asosiasi Asuransi Umum Indonesia), keterlambatan pembayaran melebihi waktu yang ditentukan bahkan dapat membuat polis menjadi batal alias hangus. 

Konsultasikan pada agen asuransi mengenai dampak keterlambatan bayar, serta dispensasi yang ditawarkan jika mengalami kesulitan membayar premi sesuai jadwal. 

Untuk menghindari telat bayar karena lupa, kamu dapat menggunakan fasilitas auto debit rekening pada tenggat waktu pembayaran.

6. Berapa limit pertanggungan yang diterima?

Setiap produk asuransi memiliki limit atau plafon klaim biaya kesehatan. Jika tidak sesuai dengan kebutuhan, tanyakan alternatif produk lain dengan premi yang masih terjangkau.  

Umumnya, asuransi menawarkan dua jenis penetapan limit, yaitu limit per perawatan dan limit gabungan semua perawatan. 

Pada limit per perawatan, plafon pertanggungan dihitung untuk masing-masing jenis perawatan. Misalnya, biaya rawat inap sebesar Rp 20 juta per tahun, biaya operasi sebesar Rp 15 juta per tahun, biaya konsultasi sebesar Rp 10 juta per tahun, dan sebagainya.

Sementara pada limit gabungan, limit dihitung untuk total gabungan seluruh jenis perawatan. Misalnya, maksimal sebesar Rp 300 juta dalam setahun. Dibandingkan tipe limit yang pertama, tipe limit ini membuat nasabah dapat menggunakan berbagai layanan perawatan yang diperlukan dengan lebih fleksibel, selama limit masih terpenuhi.

(Baca: 4 Produk Asuransi yang Wajib Dimiliki oleh Keluarga)

7. Apakah produk merupakan asuransi murni atau rider dari unit link?

Sebaiknya pilihlah asuransi kesehatan murni, bukan rider (asuransi tambahan) dari kombinasi asuransi dan investasi alias unit link. 

Pada unit link, premi akan dibagi untuk asuransi jiwa, investasi, baru asuransi kesehatan. Dengan begitu, umumnya premi akan lebih mahal dari asuransi murni, namun proteksi atau pertanggungannya jauh lebih sedikit. 

Hal ini berbeda dengan asuransi murni yang preminya diperuntukkan hanya untuk tanggungan biaya kesehatan. Oleh sebab itu, preminya pun terhitung lebih murah untuk nilai pertanggungan yang lebih tinggi. 

Itulah tujuh pertanyaan yang perlu diajukan kepada agen atau konsultan asuransi. Agar benar-benar paham, mintalah ilustrasi dari setiap jawaban yang diberikan. 

Hindari menerima tawaran asuransi kesehatan melalui telepon atau telemarketing. Sebab, informasi yang disampaikan seringkali tidak lengkap karena terbatasnya waktu dan ringkasnya proses penawaran. 

(Baca: Beragam Cara Beli Asuransi Perjalanan Online dan Offline)

Pelajari polis dengan seksama dan jalin komunikasi yang baik dengan agen asuransi agar tidak terjadi kesalahpahaman, serta dapat memaksimalkan manfaat asuransi kesehatan yang kamu miliki.