Peer to Peer Lending (P2P)

P2P Lending Indonesia: Cara Untung Cari Pinjaman dan Investasi

Melihat judul artikel ini, pasti banyak yang bertanya-tanya. Jadi, sebenarnya apa itu P2P lending? Apakah jasa penyedia pinjaman atau salah satu produk investasi? Jawabannya adalah keduanya.

Gampangnya begini: kamu ingin meminjam uang kepada temanmu. Dengan kesepakatan bersama, ditetapkanlah biaya jasa yang harus kamu bayar kepada temanmu tersebut sebagai pihak yang meminjamkan dana. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa kamu adalah peminjam alias borrower dan temanmu adalah pendana atau investor.

Itulah konsep sederhana P2P lending atau peer to peer lending. Bedanya, melalui P2P lending, penyedia pinjaman tak terbatas kepada satu orang ataupun orang yang telah dikenal sebelumnya. Di sisi lain, kamu pun bisa memberikan pinjaman kepada siapa pun melalui platform fintech ini.

Untuk memahami P2P lending secara lengkap, yuk simak ulasannya berikut ini.

Apa itu peer to peer lending (P2P lending)?

Ibarat marketplace, P2P lending merupakan “wadah” yang mempertemukan pemberi pinjaman dan penerima pinjaman. Penerima pinjaman bisa mendapatkan dana dengan bunga kompetitif. Di sisi lain, pemberi pinjaman bisa memperoleh imbal hasil yang tak kalah menguntungkan dibandingkan instrumen investasi konvensional lain, seperti reksadana.

Tanpa melalui lembaga resmi, seperti bank, koperasi, dan sebagainya, proses P2P lending bisa dikatakan jauh lebih sederhana. Namun, setiap risiko yang ada merupakan tanggung jawab pemberi pinjaman dan penerima dana.

Dengan kata lain, jika terjadi gagal bayar atau kredit macet, tidak ada lembaga maupun otoritas negara yang akan bertanggung jawab atas risiko tersebut. 

Namun, tak perlu terlalu khawatir, sebab P2P lending sudah diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Peraturan OJK nomor 77/POJK.01/2016

Artinya, selama kamu memahami cara kerja dan risiko P2P lending dengan baik, P2P lending tetap bisa menjadi pilihan produk investasi maupun alternatif sumber pembiayaan yang menguntungkan. 

Cara kerja peer to peer lending (P2P lending)

Setiap situs P2P lending memiliki laman khusus untuk peminjam dan pendana. Sebab, keduanya memiliki cara kerja yang berbeda. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Sebagai peminjam

Untuk mengajukan pinjaman, kamu bisa mengunjungi situs P2P lending pilihanmu, lalu melengkapi informasi serta aplikasi pinjaman yang diminta. Biasanya, kamu pun perlu mengunggah beberapa dokumen secara online, seperti identitas diri dan laporan keuangan.

Selanjutnya, tim analisis P2P lending terkait akan menganalisis kelayakan kredit yang diajukan. Jika permohonan disetujui, permohonan pinjamanmu akan ditawarkan kepada pendana yang tersedia di situs P2P tersebut. 

Namun, jika permohonan ditolak, kamu harus memperbaiki atau melengkapi hal-hal yang menjadi alasan penolakan pengajuan pinjaman tersebut. 

Sebagai investor/ pendana

Sebagai investor atau pendana, kamu bisa menelusuri pengajuan pinjaman yang tampil pada dashboard di situs P2P lending terkait. Kamu juga dapat menganalisis data-data pengajuan pinjaman, seperti riwayat keuangan, tujuan peminjaman, hingga penghasilan peminjam sebagai bahan pertimbangan sebelum memberikan dana pinjaman. Selanjutnya, kamu dapat menentukan sendiri jumlah pendanaan yang mau kamu keluarkan. 

Keuntungan yang bisa kamu dapatkan sebagai investor berupa bunga atau imbal hasil yang menarik, yang dapat diinvestasikan kembali untuk pendanaan pinjaman selanjutnya. 

Apakah tepat meminjam dana di P2P lending?

Ada berbagai kemudahan yang bisa diperoleh peminjam di P2P lending. Pengajuan pinjaman di P2P lending dapat dilakukan secara online melalui aplikasi maupun situs resmi terkait. Persyaratan yang diperlukan pun tidak menyulitkan. Salah satunya, pinjaman dapat dilakukan tanpa memberikan jaminan atau agunan. 

Meski tanpa agunan, plafon pinjaman yang ditawarkan P2P lending tergolong besar, bahkan hingga senilai Rp 2 miliar. Pencairan dana pun tak memakan waktu lama, dan jauh lebih singkat jika dibandingkan pencairan dana pinjaman dari bank. 

Jika memiliki reputasi kredit yang buruk, pengajuan pinjaman masih mungkin diterima dengan konsekuensi bunga pinjaman yang dikenakan menjadi lebih tinggi. 

Umumnya, suku bunga pinjaman P2P lending berkisar antara 12-20 persen per tahun. Angka ini masih lebih rendah dibanding suku bunga kartu kredit yang umumnya sebesar 27 persen per tahun.

Namun, sekalipun permohonan pinjaman disetujui, tidak ada jaminan pengajuan pinjaman dana terpenuhi. Sebab, jika kamu mengajukan pinjaman dana sebesar Rp 50 juta, namun dana yang terpenuhi hanya Rp 30 juta atau kurang dari 80 persen target pinjaman, maka pengajuan pinjaman akan gagal dan dana yang terkumpul harus dikembalikan kepada investor terkait.

Selain itu, dibandingkan penyedia pinjaman lainnya, jangka waktu pinjaman P2P lending tergolong singkat. Umumnya, tenor pinjaman berkisar antara 3-24 bulan. 

Apakah menguntungkan investasi di P2P lending?

Umumnya, imbal hasil P2P lending berkisar antara 12 persen hingga 20 persen per tahun. Jika dibandingkan dengan imbal hasil instrumen lain, seperti reksadana, imbal hasil investasi di P2P lending masih cenderung lebih menarik. 

Dilansir dari Bareksa, imbal hasil tertinggi reksadana pasar uang misalnya, dalam setahun ke belakang (per 4 Januari 2018) adalah sebesar 7,88 persen per tahun. 

Selain itu, investasi di P2P lending juga tak memerlukan modal besar, sehingga cocok untuk para investor pemula yang ingin belajar berinvestasi. Salah satu contohnya, platform P2P KoinWorks yang menawarkan investasi mulai dari Rp 100 ribu. 

Meski begitu, sejalan dengan keuntungan yang ditawarkan, risiko yang dimiliki pun cukup tinggi. Penetapan suku bunga pinjaman dan imbal hasil pun ditentukan oleh besarnya risiko pinjaman. 

Tim analis dari penyedia P2P lending terkait akan melakukan penilaian terhadap kelayakan kredit peminjam. Pinjaman dengan nilai yang cukup aman (risiko rendah) akan mendapatkan suku bunga yang rendah. Sebaliknya, jika pinjaman punya risiko tinggi, imbal hasil yang bisa didapatkan pun lebih besar.

Risiko terbesar saat berinvestasi P2P lending adalah gagal bayar. Kondisi gagal bayar terjadi ketika peminjam tidak melakukan pembayaran cicilan selama beberapa waktu.

Meski pihak P2P lending akan membantu menagihkan pembayaran sesuai aturan yang berlaku dalam hukum di Indonesia, risiko gagal bayar tetap akan ditanggung oleh investor. 

(Baca: Pasti Untung, Ini 5 Deposito dengan Suku Bunga di Atas 6%)

7 Tips investasi P2P lending untuk meraup untung maksimal 

Setelah memahami risiko dan keuntungan investasi P2P lending, jika tertarik berinvestasi, berikut ini tujuh hal yang harus kamu perhatikan. 

1. Cek ketersediaan proteksi dana

Sebaiknya, pilihlah P2P lending yang menawarkan fasilitas perlindungan dana untuk meminimalisir kerugian modal investasi, apabila terjadi gagal bayar. 

Perhatikan pula perhitungan biaya serta nilai perlindungan dana yang diberikan. Dengan memiliki perlindungan dana, sebagai investor, jika terjadi hal yang tak diinginkan, kamu tidak perlu menanggung kerugian secara penuh.

2. Sesuaikan dengan tujuan keuangan

Investasi di peer to peer lending ditujukan untuk investasi jangka pendek, sebab mayoritas tenor pinjaman yang disediakan adalah mulai dari 3 hingga 24 bulan. Dengan memahami hal ini, kamu bisa menetapkan tujuan investasi yang ingin dicapai.

3. Analisa profil usaha peminjam dengan cermat

Meski tiap peminjam telah mendapatkan nilai kelayakan kredit dari tim analis P2P lending terkait, namun sebagai investor kamu juga harus menganalisa sendiri kelayakan kredit calon peminjam. 

Selain memperhatikan riwayat keuangan calon peminjam, kamu juga bisa mengecek potensi bisnis yang akan dijalankan peminjam.

Misalnya, jika peminjam membutuhkan dana untuk modal usaha yang baru akan dirintis, cek website bisnis tersebut (jika ada). Pertimbangkan pula prospek bisnis calon peminjam.

4. Perhitungkan biaya tambahan lain

Perhitungkan biaya-biaya yang akan dikenakan saat berinvestasi. Misalnya, biaya administrasi, biaya perlindungan dana, biaya transaksi, serta pajak hasil investasi. 

Gunakan fitur simulasi yang tersedia pada situs P2P lending terkait atau tanyakan langsung secara detail kepada customer service yang bertugas.

5. Jangan menaruh modal besar

Bagi investor pemula, disarankan untuk tidak menempatkan dana dalam jumlah besar. Mengingat adanya risiko hilangnya pokok pinjaman, sebaiknya kamu pun tidak menggunakan dana tabungan sebagai modal investasi. 

Tapi, jika dana investasi telah dilengkapi perlindungan dana, kamu bisa lebih fleksibel dalam menentukan modal investasi.

6. Lakukan diversifikasi pinjaman

Untuk meminimalkan risiko yang mungkin terjadi, tempatkanlah dana investasi pada lebih dari satu peminjam. Misalnya, jika kamu memiliki dana senilai Rp 10 juta, kamu bisa memberikan pinjaman sebesar Rp 5 juta pada dua peminjam yang berbeda. 

Dengan begitu, jika terjadi risiko gagal bayar, modal yang kamu punya tak sepenuhnya hilang. 

7. Pastikan P2P lending terdaftar di OJK

Sebelum menempatkan dana pada salah satu fintech penyedia P2P lending, lakukanlah riset dengan cermat. Saat ini tak sulit untuk mengecek kredibilitas penyedia P2P lending

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan memastikan P2P lending yang akan dipilih telah terdaftar dan diawasi oleh OJK.

Kamu juga bisa bergabung dengan komunitas terkait P2P lending untuk mendapatkan informasi terkini mengenai fintech P2P lending, serta pilihan P2P lending yang paling banyak direkomendasikan.

(Baca: 7 Aplikasi Pinjaman Online Langsung Cair Tanpa Ribet)

Rekomendasi 6 peer to peer lending terbaik 2019

Nah, untuk memudahkanmu dalam memilih P2P lending yang terpercaya, berikut ini enam pilihan platform P2P lending yang bisa dicoba.

1. Amartha

Amartha merupakan P2P lending yang menghubungkan pengusaha mikro dengan pemilik modal secara online. Untuk menjadi peminjam di Amartha, kamu harus membentuk kelompok yang terdiri dari 15-20 orang yang berdomisili berdekatan. 

Amartha menawarkan plafon pinjaman mulai dari Rp 3 juta dengan jangka waktu 12 bulan. Tak hanya mendapatkan pendanaan, peminjam juga akan mendapatkan pelatihan mengenai pengelolaan keuangan, serta strategi memajukan usaha yang dijalani.

Sebagai investor, kamu bisa mendapatkan imbal hasil hingga 15 per tahun dengan minimal investasi senilai Rp 3 juta. Bagusnya, Amartha bekerja sama dengan perusahaan penjamin kredit Jamkrindo dan asuransi jiwa untuk mengurangi risiko pendanaan investor.

2. Investree

Investree menawarkan dua jenis pendanaan, yaitu berupa modal usaha tambahan dan pembiayaan tagihan atau invoice financing. Plafon pinjaman yang ditawarkan mulai dari Rp 2 juta hingga Rp 2 miliar dengan tenor pinjaman berkisar antara 3-24 bulan. Sementara, bunga pinjaman yang dikenakan mulai dari 12 persen hingga 20 persen per tahun.

Bagi investor, imbal hasil yang bisa didapatkan mulai dari 12 persen hingga 20 persen per tahun, dengan lama pendanaan mulai dari 30 hingga 180 hari. Investor bisa menempatkan dana pinjaman mulai dari Rp 5 juta hingga Rp100 juta.

Selain menyediakan layanan pendanaan dan pinjaman konvensional, Investree juga memiliki pendanaan syariah serta pembiayaan usaha syariah.

3. KoinWorks

KoinWork menawarkan imbal hasil yang kompetitif, yaitu senilai 18 persen per tahun dengan skema bunga efektif. Dibandingkan P2P lainnya, penempatan dana di KoinWork terhitung paling terjangkau, yaitu mulai dari Rp 100 ribu.

Investor juga bisa mendapatkan perlindungan dana melalui fitur Dana Proteksi yang tersedia di platform KoinWorks.

Di sisi lain, peminjam di platform KoinWorks bisa mendapatkan bunga terjangkau, mulai dari 0,75 persen hingga 1,67 persen per bulan. Peminjam juga tidak dikenakan denda atau biaya tambahan, jika ingin melakukan pelunasan pinjaman lebih awal.

Terdapat tiga jenis pinjaman di KoinWorks yang bisa dipilih, yaitu Pinjaman Bisnis, Pinjaman Pendidikan, serta Pinjaman Kesehatan. Tiap jenis memiliki plafon minimum serta tenor pinjaman yang berbeda.

4. Modalku

Modalku merupakan platform P2P lending yang menyediakan pendanaan untuk kebutuhan modal usaha, mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 2 miliar, dengan tenor 3-24 bulan.  

Suku bunga pinjaman yang ditawarkan Modalku, mulai dari 7 persen hingga 40 persen per tahun, tergantung kepada penilaian kelayakan kredit calon peminjam. Selain bunga pinjaman, peminjam juga akan dikenakan biaya administrasi sebesar 3 persen dari jumlah pinjaman yang disetujui.

Sementara itu, untuk menjadi investor di Modalku, kamu perlu menempatkan dana minimal Rp 3 juta dan mendanai pinjaman mulai dari Rp 100 ribu dan kelipatannya. Sementara, imbal hasil yang ditawarkan sebesar 8 persen hingga 45 persen, menggunakan skema bunga efektif.

Saat ini, Modalku bekerja sama dengan Askrindo untuk memberikan perlindungan dana pinjaman yang ditempatkan oleh para investor.

5. Danamas

Danamas merupakan perusahaan yang berdiri di bawah naungan Sinarmas Financial Service. Dengan misi membantu pelaku usaha kecil, Danamas menawarkan suku bunga kompetitif yang bisa disesuaikan dengan kemampuan usaha peminjam. 

Pinjaman modal bisa didapatkan, mulai dari Rp 50 ribu, dengan jangka waktu mulai dari satu minggu hingga satu tahun.

Sementara, investor P2P lending bisa mendapatkan imbal hasil hingga 20 persen per tahun, dengan minimal pemberian pinjaman senilai Rp 50 ribu. Berbeda dengan P2P lainnya, di Danamas, investor dapat menarik dana yang dipinjamkan sebelum jatuh tempo.

6. Akseleran

Akseleran merupakan P2P lending yang menghubungkan pelaku UKM dengan para pemberi pinjaman. Peminjam harus telah memiliki usaha yang telah berjalan selama lebih dari satu tahun, serta berhasil mencetak laba bersih dalam satu tahun terakhir.

Jika pengajuan pinjaman disetujui, situs Akseleran akan menayangkan penggalangan dana pinjaman selama 30 hari. Peminjam baru bisa mendapatkan pinjaman jika pendanaan yang didapatkan minimal sebesar 80 persen dari target pinjaman. 

Begitu pula dengan pemodal alias investor. Jika dana yang terkumpul kurang dari 80 persen, maka dana yang kamu tempatkan akan dikembalikan ke akun Akseleran-mu. Adapun imbal hasil yang bisa didapatkan investor mulai dari 18-21 persen per tahun. Sementara, suku bunga pinjaman berkisar antara 6.48-17 persen per tahun.

Sekarang, kamu sudah mengetahui keuntungan serta risiko P2P lending, kan?

(Baca: Cara Meraup Untung dari Investasi Emas buat Pemula)

Peer to peer lending dapat menjadi pilihan sumber modal usaha, sekaligus alternatif investasi yang menguntungkan. Namun, pastikan kamu telah mengetahui serta mempertimbangkan berbagai risiko yang mungkin terjadi, agar keuntungan yang didapat bisa maksimal. 

Selamat mencoba!