Tahun Baru Imlek 2019

Moncer di Tahun Baru Imlek, Ini 3 Cara Gandakan Uang Angpau

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan penting bagi orang Tionghoa. Perayaan ini umumnya dimulai dengan melakukan sembahyang dan diakhiri dengan perayaan Cap Go Meh pada tanggal ke-15 atau saat bulan purnama.

Serupa dengan hari raya lain, perayaan Imlek juga menjadi sarana silaturahmi bersama keluarga dan kerabat. Dan satu hal yang tak pernah absen dari perayaan Imlek adalah tradisi bagi-bagi angpau. 

Angpau alias amplop berwarna merah memiliki filosofi pemberian kesejahteraan, energi, serta keberuntungan bagi penerimanya.

Tradisi pemberian angpau umumnya dilakukan dari orang yang sudah memiliki pendapatan kepada kerabat yang belum menghasilkan uang secara mandiri. Namun, ada pula yang menyatakan bahwa penerima angpau adalah siapa pun yang belum menikah, sekalipun sudah berpenghasilan. 

Bagaimana denganmu? 

Bagi kamu yang merayakan Tahun Baru Cina dan masih menerima angpau, siap-siap akan kebanjiran rezeki sebentar lagi. Tapi, sudah tahu belum bahwa uang angpau yang kamu terima bisa dilipatgandakan jumlahnya?

Kalau belum tahu, begini cara melipatgandakan uang angpau yang bisa kamu coba.

1. Tabung di produk simpanan bunga tinggi

Menggunakan uang angpau untuk keperluan konsumtif biasanya berujung kepada penyesalan. Apalagi jika uang habis untuk barang-barang yang sebetulnya tidak dibutuhkan. Salah satu cara “mengamankan” uang angpau adalah dengan menyimpannya di produk tabungan dengan bunga tinggi, seperti deposito.

Dibandingkan tabungan biasa, suku bunga deposito bisa dua kali lebih tinggi. Artinya, keuntungan yang didapatkan pun bisa lebih besar. Karena itu, deposito juga kerap dikatakan sebagai produk investasi. 

Salah satu contohnya adalah deposito Panin Bank yang menawarkan suku bunga 6,75 persen atau Maxi Saver dari Jenius yang menawarkan suku bunga hingga 7 persen.

Umumnya, produk deposito memang mensyaratkan minimal setoran yang cukup tinggi, yaitu mulai dari Rp 8-10 juta. Meski begitu, tak sedikit bank yang mengeluarkan produk deposito dengan minimal setoran yang cukup terjangkau, mulai dari Rp 1 juta saja. Misalnya, BNI Deposito iB Hasanah dari Bank BNI Syariah dan Deposito BTN dari Bank BTN.

Kamu bisa mengalokasikan 20-30 persen uang angpau untuk dana hiburan atau membeli barang yang kamu inginkan, sementara sisanya alokasikanlah untuk deposito.

2. Investasikan uang untuk imbal hasil berlipat

Jika merasa kurang puas dengan keuntungan yang didapat dari deposito atau dana yang dimiliki belum mencukupi, produk investasi bisa jadi pilihan yang tepat. 

Sebab, selain memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan deposito, modal yang diperlukan pun lebih terjangkau. Sebut saja, investasi tabungan emas di Pegadaian yang mensyaratkan setoran mulai dari Rp 5 ribuan saja.

Ibarat kendaraan, investasi dipilih sesuai tujuan yang ingin didatangi. Apakah jaraknya dekat atau jauh? Jenis investasi untuk mencapai keinginan membeli rumah dalam waktu tujuh tahun tidak sama dengan jenis investasi untuk tujuan melunasi biaya pendidikan dalam waktu satu tahun.

Selain jangka waktu, profil risiko yang kita punya juga menentukan pemilihan instrumen investasi. Profil risiko menggambarkan tingkat toleransi terhadap risiko atau sejauh mana kita dapat menanggung risiko. 

Seperti yang kita tahu, semua instrumen investasi mengandung risiko, namun dengan tingkat dan jenis yang berbeda-beda. Semakin tinggi imbal hasil yang diberikan, umumnya semakin tinggi pula risiko yang dimiliki. Profil risiko dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu konservatif, moderat, dan agresif. 

Jika kamu mengharapkan keuntungan yang stabil dengan risiko yang rendah, maka profil risikomu adalah konservatif. Jika kamu masih bisa mentolerir risiko menengah, maka profil risikomu adalah moderat. Sementara, profil risikomu adalah agresif, jika kamu mengharapkan instrumen investasi dengan imbal hasil tinggi dan bisa mentolerir risiko yang tinggi pula.

Bagi investor pemula, berikut ini pilihan instrumen investasi yang bisa dicoba:

1. Tabungan Emas Pegadaian

Tabungan Emas Pegadaian bisa jadi alternatif investasi emas dengan bujet tipis. Investasi emas banyak diminati karena dinilai minim risiko dan memberikan keuntungan menggiurkan. 

Emas juga merupakan salah satu instrumen investasi dengan likuiditas cukup tinggi alias mudah diuangkan kembali. Jadi, kalau sewaktu-waktu kamu perlu dana mendesak, emas bisa dijual atau digadaikan dalam waktu singkat.

Untuk membuka rekening Tabungan Emas di Pegadaian, kamu bisa datang ke outlet Pegadaian/Agen Pegadaian dengan mengisi formulir yang disediakan. Kamu juga bisa membuka tabungan emas secara online melalui aplikasi “Pegadaian Digital Service” yang bisa di-install pada iOS maupun Android.

Modal yang diperlukan untuk membuka rekening Tabungan Emas di Pegadaian mulai dari Rp 5 ribuan atau 0,01 gram emas. Untuk menambah tabungan, minimal setoran yang diperlukan sebesar 0,01 gram atau Rp 50 ribu (jika melalui Internet, ATM, dan Mobile banking) dan maksimal setoran sebesar Rp 10 juta per hari.

Mudah dan sangat terjangkau bukan?

Perlu diketahui bahwa saat membuka tabungan emas, kamu akan dikenakan beberapa biaya administrasi, seperti biaya pembukaan rekening, biaya fasilitas titipan, serta biaya materai.

Tabungan emas cocok untuk investor dengan profil risiko konservatif dan tujuan keuangan jangka menengah hingga panjang. Sebab, umumnya keuntungan yang besar belum bisa didapatkan dalam jangka waktu pendek. Sebaiknya, kamu pun mengetahui pergerakan harga emas untuk mendapatkan keuntungan maksimal.

2. Reksadana

Uang angpau juga bisa dialokasikan untuk instrumen reksadana. Sebagai informasi, reksadana adalah wadah investasi berupa dana kolektif para investor. Dana ini dikelola oleh manajer investasi secara profesional dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Sebagai investor, kamu jadi tak perlu repot atau mencemaskan penempatan dana investasi. Tak heran jika investasi reksadana banyak dilirik oleh investor pemula.

(Baca: Untung Maksimal dari Investasi Reksadana, Begini Caranya)

Berdasarkan penempatan dananya, reksadana dibagi menjadi empat jenis. Berikut di antaranya:

1. Reksadana pasar uang

Pada reksadana pasar uang, seluruh dana ditempatkan di pasar uang, seperti deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), atau obligasi, dengan masa jatuh tempo kurang dari setahun. 

Reksadana pasar uang cocok untuk investor dengan profil risiko konservatif karena memiliki potensi keuntungan cenderung stabil dengan tingkat risiko yang minim.

2. Reksadana pendapatan tetap

Reksadana pendapatan tetap adalah reksadana dengan komposisi minimal 80 persen produk obligasi. Reksadana pendapatan tetap menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan reksadana pasar uang.

Namun, tak ada jaminan harga obligasi akan selalu meningkat. Dengan begitu, reksadana ini cocok untuk investor dengan profil risiko konservatif hingga moderat. Investasi reksadana pendapatan tetap umumnya memiliki jangka waktu 1-3 tahun.

3.  Reksadana campuran

Reksadana campuran terdiri dari tiga jenis instrumen investasi, yaitu saham, obligasi, dan pasar uang, secara bersamaan. Dibanding dua jenis reksadana sebelumnya, keuntungan reksadana campuran bisa lebih tinggi, namun risikonya pun lebih besar.

Reksadana campuran cocok untuk investor dengan profil risiko moderat hingga agresif. Reksadana ini umumnya memiliki jangka waktu investasi antara 1-3 tahun.

4. Reksadana saham

Reksadana saham memiliki komposisi minimal 80 persen berupa instrumen pasar modal atau saham. Oleh sebab itu, potensi keuntungan yang bisa didapatkan cukup tinggi, namun risikonya pun paling tinggi dibanding jenis reksadana lainnya.

Reksadana saham biasanya baru memberikan keuntungan yang menggiurkan setelah lebih dari lima tahun. Dengan begitu, reksadana saham cocok untuk investor dengan profil risiko agresif yang memiliki rencana keuangan jangka panjang.

Cara mudah beli reksadana di aplikasi Bareksa

Membeli instrumen reksadana secara aman hanya bisa dilakukan di lembaga yang telah mendapat izin sebagai Agen Penjual Reksa Dana (APERD) dari OJK. 

Salah satu perusahaan teknologi finansial (fintech) yang telah mendapatkan izin ini adalah Bareksa. Melalui Bareksa, kamu juga bisa membeli reksadana secara online dengan modal mulai dari Rp 100 ribu.  Berikut ini caranya:

  1. Download dan install aplikasi “Bareksa” di Play Store atau App Store.
  2. Buka aplikasi, lalu klik simbol profil di pojok kanan atas atau klik “Daftar Sekarang” dan lengkapi data yang diminta.
  3. Klik  “Login” dan isi kolom email dan password dengan data yang telah didaftarkan sebelumnya.
  4. Setelah “Login”, kamu dapat melihat berbagai produk reksadana yang bisa dipilih. Kamu bisa memanfaatkan fitur filter atau “urutkan” untuk melihat jenis reksadana, manajer investasi, serta nama produk reksadana yang dikehendaki.
  5. Setelah menemukan produk reksadana yang ingin dibeli, klik tombol “Beli”.
  6. Selanjutnya, isilah jumlah pembelian pada kolom yang tersedia, lalu klik “Konfirmasi”.
  7. Lakukan pembayaran dengan mengirimkan dana maksimal 1x24 jam setelah melakukan konfirmasi. Setelahnya, jangan lupa melakukan konfirmasi pembayaran dengan meng-upload bukti pembayaran pada fitur “Konfirmasi Pembayaran”.

Jika proses berhasil dilakukan, kamu akan menerima surat konfirmasi transaksi dari bank kustodian. Mudah, bukan?

Selain melalui Bareksa, kamu juga bisa membeli reksadana secara online melalui marketplace seperti Bukalapak dan Tokopedia.

3. Sukuk Tabungan ST-003

Tahun Baru Imlek yang jatuh pada tanggal 5 Februari 2019, berdekatan dengan diterbitkannya Sukuk Tabungan ST-003. Dengan begitu, uang angpau pun bisa langsung dialokasikan ke dalam instrumen investasi yang punya keuntungan menggiurkan ini.

Bagi yang belum tahu, sukuk tabungan merupakan produk investasi yang ditawarkan pemerintah kepada individu Warga Negara Indonesia (WNI) dan diterbitkan berdasarkan prinsip syariah. Sekalipun dikelola berdasarkan prinsip syariah agama Islam, namun semua warga negara Indonesia bisa membeli Sukuk Tabungan ST-003 tanpa terkecuali.

Dana investasi di sukuk tabungan dijamin oleh negara, sehingga tidak perlu cemas kehilangan pokok investasi maupun imbal hasilnya. 

Imbal hasil yang ditawarkan pun cukup besar, yaitu minimal sebesar 8,15 persen dengan sistem mengambang atau float. Artinya, jika suku bunga BI meningkat, imbal hasil pun akan semakin tinggi. Sementara, jika suku bunga BI mengalami penurunan, imbal hasil minimal yang didapatkan investor tetap sebesar 8,15 persen. Menguntungkan, bukan?

Sukuk Tabungan ST-003 bisa dibeli dengan minimal penempatan dana Rp 1 juta dan maksimum Rp 3 miliar. Kamu bisa memesan Sukuk Tabungan ST-003 mulai dari 1-20 Februari 2019.

Pemesanan Sukuk Tabungan ST-003 dapat dilakukan di berbagai mitra distribusi pilihan, di antaranya Trimegah Securities, Mandiri Syariah, Bareksa, Bank Permata, Modalku, Tanam Duit, Mandiri, Bank BNI, Investree, Bank BCA, Bank BTN, Bank BRI, dan Bank BRI Syariah.

3. Gunakan sebagai modal usaha

Cara lain melipatgandakan uang angpau adalah dengan menjadikannya sebagai tambahan modal usaha. Kamu yang sejak lama punya keinginan memiliki usaha sendiri ataupun ingin mengembangkan bisnis yang kamu punya, sekaranglah saatnya.

Jika kamu pengusaha pemula, kamu dapat mencoba merintis bisnis sampingan dengan modal minim, seperti bisnis makanan ringan, bisnis dropship atau reseller, atau bisnis online menggunakan sistem pre-order. 

Sekalipun bermodal minim, jangan lupa untuk menyiapkan strategi dan rencana yang matang agar usaha yang kamu buka berumur panjang.

(Baca: Ini 6 Cara Mengatur Keuangan ala Orang Tionghoa, Yuk Tiru!)

Jadi, sekarang sudah tahu kan cara melipatgandakan uang angpau? Daripada uang habis begitu saja, lebih baik dikelola dengan tepat agar isi rekening terus bertambah. Sepakat?

Selamat mencoba!