burung-murai

Mengupas Cara Ternak Burung Murai dan Prospek Bisnisnya

Pada akhir Maret 2019, muncul kabar mengejutkan dua gadis yang masih berusia anak baru gede alias ABG ketahuan mencuri burung murai. Keduanya ditangkap warga dan sempat ditampar, tapi untung tidak sampai terjadi penganiayaan massal.

Masalah itu pun berakhir damai setelah burung murai yang dicuri dikembalikan. Namun ada satu teman si ABG yang buron. Pencurian ini pun memprihatinkan karena bukanlah yang pertama.

Coba saja ketikkan “pencuri murai” di Google, pasti banyak berita tentang pencurian murai yang terjadi di banyak daerah. Di antaranya di Sumatera, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan lain-lain.

Maraknya pencurian murai ditengarai karena nilai jualnya yang mahal, bisa mencapai puluhan juta rupiah per ekor. Karena itulah ketika ditanya apa alasan mencuri burung murai, mereka menjawab tak jauh dari urusan duit. Salah satunya bahkan buat bayar cicilan sepeda motor.

Mungkin mereka belum tahu cara ternak burung murai sehingga memilih jalan pintas untuk menikmati keuntungan dari tren burung ini dengan mencuri. Padahal risikonya besar. Dijebloskan ke penjara masih mending. Bagaimana jika nyawa melayang karena jadi korban amukan massa?

Nah, daripada urusannya panjang, alangkah baiknya sedikit berusaha dengan mencari tahu cara ternak burung murai. Usaha ternak burung murai sangat menggiurkan. Terlebih saat ini sedang booming murai. Di jalan-jalan sering dijumpai pengendara sepeda motor memboncengkan kurungan berisi murai, bukan orang.

(Baca: Raup Untung, Ini 6 Ide Usaha yang Menjanjikan di 2019)

Burung murai betina bisa bertelur hingga delapan kali dalam setahun. Sekali bertelur, ada dua hingga tiga butir yang dihasilkan. Berikut ini hitung-hitungan prospek bisnis ternak burung murai secara sederhana dengan contoh indukan murai Medan.

Modal Usaha

Sepasang murai Medan indukan = Rp 8.000.000
Kandang dari bata merah berukuran 2 x 2 x 1,5 meter = Rp 5.000.000
Kandang atau sangkar untuk anakan = Rp 1.000.000

Total = Rp 14.000.000

Biaya Operasional Setiap 4 Bulan

Penyusutan kandang 120 hari: Rp 8.000.000 x 4/120 = Rp 266.666
Penyusutan sangkar 60 hari: Rp 1.000.000 x 4/60 = Rp 66.666
Pakan pur/pelet 4 bungkus @Rp 25.000 = Rp 100.000
Jangkrik 1 karung = Rp 50.000
Kroto kering 1 kg = Rp 150.000

Total = Rp 683.332

Pemasukan Penjualan Selama 4 Bulan

6 Trotolan Anakan Usia 1,5-2 Bulan @Rp 1.000.000 = Rp 6.000.000

Keuntungan Selama 4 Bulan

Biaya Penjualan-Biaya Operasional: Rp 6.000.000 – Rp 683.332 = Rp 5.316.668

Itu hitung-hitungan kasar dengan biaya minimal dan hanya untuk sepasang murai Medan. Bila menambah jumlah indukan, tentu potensi keuntungan bisa lebih besar. Itu belum termasuk hadiah jika ikut dalam kompetisi kicau dan menang.

Jenis murai pun beragam. Murai Medan dikenal banyak peminatnya sehingga peluang pasarnya lebih besar. Murai bisa dijual secara langsung ketika ada kontes kicau atau via online.

Tapi murai tak bisa dikirim lewat jasa ekspedisi. Umumnya transaksi murai dilakukan dengan bertemu muka sekaligus untuk melihat kondisi burung yang dijual.

Tips Ternak Murai

Ada beberapa hal  yang mesti digarisbawahi dalam soal cara ternak murai. Salah-salah bukan untung yang didapatkan, tapi malah buntung.

1. Kandang

Cara ternak burung murai yang baik memperhatikan lokasi kandangnya. Kandang itu harus dibuat semirip mungkin dengan habitat aslinya. Biasanya kandang dibangun di pekarangan rumah dan dilengkapi dengan susuh atau ranting-ranting kering sebagai tempat bertelur dan mengeram serta tempat buat bertengger.

Kelembapan juga harus dijaga. Kandang tidak boleh terlalu lembap, tapi juga jangan sampai kelewat kering. Yang tak kalah penting adalah lokasi kandang harus jauh dari keramaian agar murai tidak stres. Selain itu, ukurannya harus disesuaikan dengan jumlah burung yang ada di dalamnya.

Bila kandang terlalu kecil, murai akan susah bergerak sehingga bisa mempengaruhi siklus bertelurnya dan bahkan bisa membuat burung itu mati. Sedangkan jika kebesaran, murai bisa cepat lelah dan sakit karena terlalu sering terbang ke sana-kemari.

2. Jaga kebersihan

Lingkungan yang kotor, terutama di dalam kandang, bisa membuat murai terkena penyakit. Selain itu, murai bisa mengalami stres dan akhirnya mati. Untuk menjaga kebersihan, lakukan beberapa tips ini:

- Tempat pakan dan minum harus dibersihkan tiap hari minimal sekali.
- Pakan dan minum harus disediakan yang baru setiap pagi. Sisa kemarin dibuang.
- Tempat penampungan kotoran di sangkar harus dibersihkan tiap hari.
- Gunakan disinfektan dan obat antikuman untuk membersihkan kandang dan sangkar.
- Cuci seluruh sangkar dan kandang minimal empat hari sekali.

3. Pakan

Tak apa keluar biaya lebih banyak untuk pakan premium. Terlebih buat bisnis ternak murai. Sebab, pakan menentukan kualitas anakan. Di habitat aslinya, murai banyak memakan serangga. Maka selain pur dan kroto, sesekali berikan ulat atau serangga lain sebagai asupan tambahan.

4. Bisa poligami, tapi...

Cara ternak murai juga bisa menggunakan metode poligami. Satu kandang bisa diisi satu ekor jantan dan tujuh betina. Tapi disarankan poligami hanya dengan tiga betina untuk meminimalkan kegagalan. Betina yang akan dipoligami harus disatukan sejak anakan untuk menghindari perkelahian memperebutkan satu jantan. Yang juga penting, indukan jantan yang diternakkan dengan poligami haruslah yang punya riwayat subur dan lebih tua daripada betina.

5. Pakan anakan

Murai biasa merawat sendiri anaknya seperti di habitat asli. Cara ini bisa ditempuh. Tapi bisa juga memisahkan anak setelah berumur kira-kira 14 hari agar bisa mendapat perawatan lebih intensif, terutama soal pakan. 

6. Murai perlu mandi

Kebersihan tubuh murai penting agar terbebas dari kuman penyakit. Karena itu, murai harus dimandikan setidaknya sehari sekali. Sediakan wadah berisi air untuk mandi sendiri. Bisa juga menggunakan spray dengan menaruh murai di sangkar terlebih dahulu. Setelah mandi, jemur selama kira-kira 20-30 menit. Maka waktu terbaik untuk memandikan murai adalah pukul 07.00-09.00.

Bisnis ternak burung murai terbilang amat menjanjikan. Namun sebelumnya harus ada kecintaan terhadap satwa ini sehingga bisa total dalam melakukan budi daya.

Modal pun bisa dikatakan sangat minimal. Namun, untuk hasil yang lebih menggiurkan, diperlukan modal lebih besar untuk mendapatkan lebih banyak indukan berkualitas.

Seperti diketahui, induk murai yang gacor alias bersuara merdu akan menghasilkan anakan yang tokcer pula. Tapi harganya tentu lebih mahal, apalagi jika pernah menjuarai kontes kicau.

Dalam hal ini, mengakses kredit usaha atau pinjaman dari bank bisa menjadi solusi. Hanya, pastikan sudah memiliki rencana bisnis yang matang agar tidak terjerat utang karena gagal bayar.

Rencana bisnis juga menjadi syarat kredit usaha kecil di sejumlah bank. Tak apa repot sedikit demi keuntungan yang menjanjikan, ketimbang mengambil risiko dihakimi massa karena menjadi pencuri murai.

(Baca: Kredit Usaha Rakyat (KUR): Pinjaman Tanpa Agunan untuk Bisnis)