melindungi-keuangan

Lindungi Keuangan dengan Lakukan 6 Hal Ini Saat Ada Bencana

Hidup di Indonesia itu bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, negeri ini indah bukan kepalang panoramanya. Di sisi lain, keelokan itu menyimpan ancaman tiada tara.

Peristiwa bencana yang terjadi dua dekade terakhir adalah buktinya. Pada 2004, misalnya, Aceh dan sekitarnya dilanda gempa dan tsunami yang merenggut nyawa ratusan ribu orang.

Awalnya adalah gempa yang diperkirakan bermagnitudo 9,1-9,3. Tak lama setelah guncangan gempa, air laut di Samudra Hindia surut. Tiba-tiba air laut itu meninggi dan mencapai daratan dengan cepat.

Banyak penduduk yang tak sempat menyelamatkan diri karena gelombang tsunami begitu cepat menghantam. Maka bukan hanya nyawa, harta benda pun banyak yang hilang akibat bencana.

Bencana lain yang memakan banyak korban jiwa adalah gempa Yogyakarta, gempa Sumatera Barat, gempa Lombok, gempa dan likuefaksi Sulawesi Tengah, hingga gempa dan tsunami Selat Sunda. Sederet peristiwa itu seharusnya dijadikan cermin bahwa hidup di Indonesia harus siap menghadapi bencana.

Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, ada lebih dari 10 jenis kejadian yang dikategorikan sebagai bencana. Semuanya memiliki ancaman terhadap nyawa dan harta benda manusia.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selaku instansi yang bertanggung jawab mengurusi masalah bencana pun telah merilis informasi mengenai kesiagaan menghadapi bencana. Kesiagaan ini penting untuk mencegah kerugian ganda: hilangnya nyawa dan harta.

Siasat menghadapi setiap bencana berbeda, tergantung jenis bencananya. Saat terjadi gempa bumi, misalnya, warga diminta segera meninggalkan gedung dan berada di lapangan terbuka. Bila berada di dekat pantai, harus segera menuju dataran tinggi untuk mengantisipasi tsunami.

Sayangnya, bencana alam ini tak bisa dicegah. Nyawa harus diutamakan ketimbang harta benda. Meski begitu, kamu bisa meminimalkan kerugian materiil akibat bencana dengan sejumlah tips berikut ini:

1. Sedia makanan kaleng

Reputasi buruk makanan kaleng sebagai makanan tak sehat memang mengkhawatirkan. Tapi bukan berarti makanan dan juga minuman kaleng harus dihindari sepenuhnya dalam hidup. Buat yang hidup di Indonesia, stok makanan kaleng seyogianya selalu ada.

Gunanya adalah sebagai persediaan makan dan minum jika dilanda bencana tak terduga. Tak perlu banyak-banyak, stok logistik itu setidaknya bisa dimanfaatkan untuk tiga-lima hari. Harapannya, bantuan sudah datang atau situasi sudah kembali normal tiga-lima hari sesudah bencana.

Makanan kaleng ini harus siap santap, tak perlu dimasak. Misalnya sarden dan kacang polong. Saat ini pun sudah ada makanan tradisional siap makan dalam kaleng, seperti gudeg, rawon, bahkan rendang. Pastikan selalu mengecek tanggal kedaluwarsa makanan-makanan ini dan periksa secara rutin saat disimpan agar tidak lupa. 

Ketersediaan logistik penting untuk mencegah skenario terburuk, yaitu kelaparan dan kehausan di tengah bencana. Saat terjadi bencana, pasti akan sangat sulit mencari makanan. Jikapun ada yang menjual, harganya pasti selangit.

2. Amankan dokumen penting

Dokumen seperti sertifikat rumah, akta kelahiran, hingga BPKB kendaraan mestinya disatukan di satu tas khusus. Selain itu, bungkus dokumen itu dengan plastik, bukan hanya dimasukkan ke amplop kertas.

Bencana bisa menimbulkan kerugian dan kerepotan sesudahnya jika dokumen amblas. Misalnya banjir datang dan merusak dokumen penting itu, bisa dibayangkan kerepotan sesudahnya untuk mengurusnya.

Harus ke kepolisian dulu untuk meminta surat kehilangan, lalu ke RT/RW hingga kecamatan, dan seterusnya. Padahal situasi pascabencana pasti ribet untuk berbenah.

Ujungnya menggunakan jasa calo untuk mengurus surat-surat penting. Itu artinya mesti keluar dana lebih banyak. Makanya semua dokumen sebaiknya disimpan khusus dan mudah dijangkau, misalnya di dalam lemari kamar. Saat terjadi bencana, bisa langsung menyambar tas dan pergi menyelamatkan diri.

3. Simpan uang di bank

Sudah bukan zamannya lagi menyimpan uang di laci lemari atau bawah tempat tidur. Selain tidak aman, uang yang disimpan di sana rentan jika terjadi bencana.

Uang sebaiknya dimasukkan ke bank demi keamanan dan kemudahan transaksi. Bila bank tempat menyimpan uang hancur lebur, uang tetap aman karena ada program Lembaga Penjamin Simpanan. 

Kamu tetap bisa menarik uang yang tersimpan di bank sesudah bencana. Bahkan saat bencana pun bisa, selama ATM dan jaringan bank berfungsi.

(Baca: KlikBCA: Panduan Registrasi dan Transaksi Online dengan Aman)

4. Siapkan investasi

Bencana yang meremukkan harta benda bisa membawa petaka berupa kebangkrutan karena tak ada kekayaan tersisa. Siasat untuk hadapi risiko ini adalah menyiapkan investasi untuk dijadikan pegangan.

Misalnya investasi reksa dana. Duit yang diputar di instrumen investasi itu bisa menjadi penyelamat bila menjadi korban bencana. Selain dana bisa ditarik sepenuhnya, ada imbal hasil yang menjanjikan untuk membangun kembali kejayaan yang disapu bencana.

Investasi yang sederhana seperti emas juga bisa menjadi pilihan. Bila berinvestasi emas batangan, simpan emas dan sertifikatnya di tas dokumen. Tapi yang lebih aman adalah menitipkan emas itu di bank.

Menabung emas adalah pilihan termudah dan teraman untuk investasi emas. Yang pasti, sertifikat emas harus diamankan dengan disatukan di tas dokumen.

(Baca: Ini 5 Investasi Terbaik 2019 yang Direkomendasikan Para Ahli)

5. Punya dana darurat

Menyimpan dana di bank saja mungkin tidak cukup untuk membangun hidup dari awal setelah diterpa bencana. Pada saat inilah dana darurat terlihat manfaatnya.

Seperti tersurat dari namanya, dana darurat digunakan untuk kebutuhan darurat alias mendesak. Salah satunya ketika terjadi bencana.

Dana darurat adalah dana yang dihimpun dari menyisihkan penghasilan per bulan secara rutin sampai mencapai nominal tertentu. Jumlah dana darurat untuk lajang dan keluarga berbeda.

Nominal yang disarankan untuk lajang adalah 5-7 kali gaji. Adapun untuk keluarga mencapai 10 kali gaji.

Misalnya gaji seorang pria lajang Rp 5 juta per bulan, berarti dana darurat yang disarankan adalah Rp 25-35 juta. Dana ini dikumpulkan sedikit demi sedikit tiap bulan. 

Umpamanya tiap bulan menyisihkan Rp 500 ribu. Itu artinya  dana darurat bisa terkumpul dalam 4-5 tahun. Sesuaikan dengan rencana keuangan bulanan agar upaya mengumpulkan dana darurat tidak menjadi beban berlebih, atau malah sebenarnya bisa lebih banyak karena ada banyak anggaran yang sisa.

6. Ikut asuransi

Asuransi penting sebagai langkah antisipasi mencegah rugi. Ibaratnya sedia payung sebelum hujan. Asuransi yang bisa diikuti antara lain asuransi jiwa, kendaraan, dan properti.

Tapi pastikan perlindungan asuransi itu mencakup risiko bencana. Asuransi standar kendaraan, contohnya, tidak mencakup perlindungan terhadap risiko bencana.

Memang, harga polis lebih mahal ketimbang polis standar. Karena itu, diperlukan pertimbangan khusus apakah perlu membeli perluasan polis. Bila tinggal di wilayah rawan bencana, sepertinya pilihan itu patut diambil.

(Baca: Ingin Punya Asuransi Mobil? Ini Panduan Lengkap Memilihnya)

Enam siasat hadapi bencana di atas sekadar contoh. Tentu tidak ada yang mau sudah jatuh tertimpa tangga. Kita tak bisa mencegah bencana, hanya bisa mengantisipasi dampak yang timbul setelahnya.

Akan lebih baik jika instansi yang bersangkutan dapat memberikan peringatan lebih dini perihal akan datangnya bencana sehingga waktu untuk menyelamatkan nyawa dan harta benda lebih banyak. Sayangnya, terwujudnya harapan ini masih harus ditunda.

Selagi masih menikmati keindahan Indonesia, tak ada salahnya bersiap menghadapi ancaman yang terkandung di dalamnya. Nasib orang siapa yang tahu?