kartu-pra-kerja

Kartu Pra-Kerja: Insentif Baru untuk Calon Karyawan dan Wirausaha

Beberapa waktu belakangan sedang ramai soal program baru pemerintah yang bernama Kartu Pra-Kerja. Informasi yang berkembang adalah warga yang berstatus pengangguran digaji lewat program ini.

Tapi, usut punya usut, program pengangguran digaji ini tidak seperti yang disangka banyak orang. Betul, orang-orang pengangguran alias tidak atau belum mendapat pekerjaan akan mendapat dana dari pemerintah.

Namun dana itu tidak cuma-cuma. Ada sederet syarat yang mesti dipenuhi untuk menerima insentif tersebut.

Menurut Muhammad Misbakhun, politikus di kubu pemerintah, setidaknya ada 8 poin yang mesti dijelaskan untuk meluruskan informasi mengenai program Kartu Pra-Kerja:

1. Kartu Pra-Kerja adalah program untuk pekerja, pencari kerja yang baru saja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), atau mengikuti pelatihan vokasi dan/atau sertifikasi kompetensi kerja. Pelatihan vokasi berupa peningkatan keterampilan untuk masuk dunia kerja atau menjalankan usaha.

2. Peserta program Kartu Pra-Kerja akan mendapat bantuan, dijembatani dengan industri yang dinilai cocok dengan kemampuan pencari kerja.

3. Peserta program berusia minimal 15 tahun dan bukan hanya mereka yang hendak mencari kerja. Warga yang berniat membuka usaha boleh mendaftar.

4. Peserta program harus mengikuti pelatihan dan sertifikasi selama dua bulan.

5. Insentif atau gaji diberikan hanya sampai peserta mendapat pekerjaan atau membuka usaha maksimal selama 12 bulan setelah lulus dari program pelatihan.

6. Peserta program yang merupakan korban PHK mendapat gaji atau insentif hanya selama 3 bulan maksimal setelah lulus.

7. Pekerja yang ikut pelatihan atau sertifikasi mendapat insentif sebagai ganti upah hingga lulus.

8. Peserta program ditargetkan mencapai 2 juta orang dan bisa bekerja pada 2020.

Dari penjelasan tentang Kartu Pra-Kerja di atas, yang difokuskan bukanlah semata-mata pengangguran digaji pemerintah. Sebab, bahkan pekerja yang ikut pelatihan atau sertifikasi pun mendapat insentif.

Lebih dari desas-desus bahwa pengangguran digaji, ada upaya untuk memberdayakan pekerja atau calon pekerja untuk menambah daya saing atau mempersiapkan diri dalam menghadapi dunia kerja. Setidaknya itulah janji atau tujuan yang digaungkan dalam program tersebut.

Tidak Hanya di Indonesia

Nyatanya, program “pengangguran digaji” ini tidak hanya ada di Indonesia. Puluhan negara lain menerapkan program serupa, dari Amerika Serikat, Jepang, Inggris, hingga Meksiko. Ada yang namanya benefit pengangguran, ada pula asuransi pengangguran serta kompensasi pengangguran.

Negara pertama yang mengadopsi program semacam ini adalah Inggris. Di bawah pemerintahan Perdana Menteri H.H. Asquith, terbit Undang-Undang Asuransi Nasional 1911.

Aturan ini dibuat untuk kelas pekerja Inggris waktu itu. Setelah menganggur selama seminggu, pekerja bisa menerima 7 shilling per minggu maksimal 15 minggu dalam setahun. Hingga 1913, sebanyak 2,3 juta orang berlindung di bawa skema asuransi untuk pengangguran ini.

Tak lama, skema asuransi buat para penganggur itu menyebar ke negara-negara lain di Eropa, terutama Jerman. Seusai Perang Dunia II, banyak yang ikut mengadopsi skema serupa, termasuk Amerika Serikat.

Setiap negara memiliki aturan main sendiri soal pemberian insentif. Semuanya antara lain tergantung kemampuan keuangan negara tersebut.

Inilah yang menjadi bahan kritik terhadap program Kartu Pra-Kerja yang diluncurkan pemerintah. Sebab, sudah lama diketahui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara selalu terbatas. Bahkan utang belum lunas.

Meski demikian, tentunya pemerintah sudah memikirkan matang-matang mengenai pembiayaan program itu. Toh, hasilnya akan kembali ke masyarakat, yaitu tingkat kesejahteraan meningkat ketika sudah bekerja atau punya usaha.

Bekerja vs Buka Usaha

Bila melihat pelurusan program insentif yang disampaikan Misbakhun tersebut, warga yang hendak mengikuti program Kartu Pra-Kerja bukan hanya yang ingin mencari kerja. Mereka yang berniat buka usaha juga bisa mengikutinya.

(Baca: Raup Untung, Ini 6 Ide Usaha yang Menjanjikan di 2019)

Tapi mesti digarisbawahi, insentif yang diberikan selama mengikuti pelatihan bukanlah modal kerja. Pemerintah hanya memberikan modal berupa skill alias keterampilan. Insentif atau gaji dikucurkan hanya sebagai penyambung hidup selama tidak ada pemasukan rutin dari pekerjaan. 

Jadi bisa dikatakan Kartu Pra-Kerja adalah program yang menyempurnakan program-program pelatihan dari pemerintah sebelumnya. Sudah ada lembaga pelatihan kerja pemerintah yang menangani sumber daya manusia di Indonesia.

Bahkan lembaga pelatihan kerja swasta juga banyak. Belum lagi seminar-seminar atau lokakarya-lokakarya tentang dunia kerja dan usaha. Yang belum ada adalah lembaga yang memberikan pelatihan sekaligus gaji kepada pesertanya.

Maka, layaknya peserta pelatihan kerja, warga yang merupakan pemilik Kartu Pra-Kerja—jika program ini jadi diwujudkan—bisa memanfaatkan keterampilan yang didapatkan untuk membuka usaha.

Tentunya pemerintah senang jika ada warganya yang menjadi wirausaha. Sebab, dengan demikian, masalah pengangguran bisa lebih dikurangi. Setidaknya tercipta lapangan kerja baru untuk menampung angkatan kerja yang berlimpah-ruah. 

Bila berniat mengikutinya, coba ubah dulu pemikiran bahwa setelah lulus harus cari kerja atau jadi karyawan. Pilihannya ada dua: jadi anak buah atau bos.

Anak buah tentu maksudnya adalah karyawan atau buruh, yang hidup dari gaji. Sedangkan bos adalah pemilik usaha atau mereka yang menjalankan usaha, yang menggaji anak buah.

Karena itu, tidak ada salahnya mengharapkan program Kartu Pra-Kerja pemerintah Joko Widodo terwujud. Hasil akhirnya kelak masyarakat sendiri yang menikmati, asalkan urusan pembiayaan beres tanpa masalah.

Tambahan Modal Kerja

Sayangnya, bila hendak buka usaha, keterampilan saja tidak cukup. Harus ada kapital alias modal untuk menjadi wirausaha. Mungkin pemerintah akan menambahkan program kredit untuk pemilik Kartu Pra-Kerja, mungkin juga tidak.

Namun banyak jalan menuju Roma. Solusi untuk memenuhi tujuan tidak hanya satu jika mau mencari.

Sebelum terlena menerima gaji bulanan, kukuhkan tekad dan niat untuk menjadi wirausaha. Modal bisa didapatkan dari lembaga keuangan, terutama bank.

(Baca: 7 Pinjaman KTA Terbaik 2019, Bunga Mulai dari 0,68%)

Hanya, mesti diperhatikan lembaga keuangan yang dimintai bantuan kredit usaha itu. Bank adalah pilihan paling aman, meski tidak sepenuhnya bebas dari ancaman.

Salah satunya kredit usaha rakyat (KUR) dari pemerintah. KUR disalurkan oleh banyak bank, terutama yang berstatus badan usaha milik negara (BUMN).

KUR BRI, misalnya, memberikan plafon pinjaman hingga Rp 500 juta. KUR mikro bahkan bisa didapatkan tanpa perlu memberikan agunan atau jaminan, meski maksimal hanya Rp 25 juta. Namun untuk mengakses pinjaman ini usaha harus jalan dulu minimal enam bulan. 

Untuk menyiasatinya, insentif yang diperoleh dari program Kartu Pra-Kerja bisa dimanfaatkan sebagai dana awal buat buka usaha. Besaran insentif memang belum bisa dipastikan. 

Tapi tak ada salahnya menyimpan harapan bahwa insentif cukup sebagai modal awal usaha, plus tabungan bila ada. Bila dirasa sangat kurang, bisa coba kerja sambilan selama ikut pelatihan.

Intinya adalah mantapkan niat untuk buka usaha. Ditambah ilmu keterampilan dari pelatihan, bukan mustahil usaha itu bisa berkembang dan mendatangkan keuntungan yang dapat diputar sebagai modal tambahan.

Bila berhasil melakukan hal tersebut, tak perlu lagi KUR atau kredit modal kerja lainnya. Program Pra-Kerja ini memang sepertinya bagus. Tapi ya itu, jangan mengiranya sebagai program abadi sehingga menggantungkan hidup pada insentif tanpa perlu memeras keringat.