perhitungan-thr

Ini Perhitungan THR Masa Kerja Setahun dan Kurang, Plus Pajak 

Perhitungan THR atau tunjangan hari raya sering kali ditanyakan terutama oleh karyawan yang belum genap setahun bekerja. Bahkan ada yang bertanya apakah pegawai dengan masa kerja kurang dari setahun berhak atas THR.

Di Indonesia, segala hal tentang tenaga kerja diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Undang-undang ini mengatur tunjangan untuk pekerja.

Sayangnya, peraturan tentang THR tidak ada dalam undang-undang tersebut. Tapi tenang. Perhitungan THR dan berbagai hal yang berkaitan dengannya ada dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

Aturan perhitungan THR memang sengaja dipisahkan dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan, karena peraturan menteri merupakan turunan undang-undang. Fungsinya sebagai peraturan pelaksana.

Jadi, ketika ada revisi terhadap aturan perhitungan THR, tak perlu sampai mengutak-atik undang-undang sebagai peraturan induk. Cukup memperbarui peraturan menteri saja agar proses tak repot dan memakan waktu.

Nah, berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan tentang THR tersebut, semua pegawai berhak atas THR. Status tenaga kerja tidak berhubungan dengan kewajiban pemberi kerja memberikan THR.

Itu artinya pegawai kontrak, honorer, dan harian, termasuk pekerja lepas alias freelance, berhak atas THR. Namun perhitungan THR untuk buruh harian atau pekerja lepas berbeda, karena mendapat upah bukan secara bulanan.

Meski begitu, ada satu syarat yang tak bisa ditawar dalam soal hak atas THR: masa kerja pegawai minimal satu bulan secara terus-menerus. Dengan demikian, kalau kamu baru tiga minggu kerja sebagai pekerja freelance, tidak ada THR buatmu.

Secara tidak langsung pernyataan di atas menjawab pertanyaan apakah pegawai dengan masa kerja kurang dari setahun berhak atas THR. Jawabannya adalah ya, sangat berhak, asalkan sudah kerja minimal sebulan.

Tapi, menurut peraturan menteri tentang THR, perhitungan THR untuk masa kerja kurang dari setahun dan setahun lebih berbeda. Begini perbedaan perhitungan THR itu:

- Masa kerja setahun atau lebih = 1 x upah sebulan

- Masa kerja kurang dari setahun = masa kerja : 12 x upah sebulan

Upah sebulan adalah gaji pokok plus tunjangan tetap. Tunjangan tetap adalah tunjangan yang diberikan dengan angka tetap dan rutin setiap bulan. Contohnya tunjangan jabatan.

Tunjangan tidak tetap seperti uang transportasi, uang makan, atau uang pulsa tidak masuk komponen perhitungan THR. Sebab, pemberiannya tergantung kehadiran setiap pekerja.

Perhitungan THR untuk Pekerja Biasa

perhitungan-thr

 

Berdasarkan rumus di atas, kita bisa melakukan perhitungan THR sendiri dengan contoh kasus:

1. Masa kerja setahun atau lebih

Budi sudah bekerja di PT Makmur Sejahtera selama dua tahun. Gaji pokoknya Rp 3 juta. Uang makan dan transportasinya Rp 1 juta. Ia juga mendapat tunjangan perumahan Rp 200 ribu per bulan.

Maka perhitungan THR untuk Budi adalah 

1 x (Rp 3.000.000 + Rp 200.000) = Rp 3.200.000

2. Masa kerja kurang dari setahun

Desi baru bekerja 6 bulan di PT Indah Sentosa. Gaji pokoknya Rp 4 juta dengan tunjangan transportasi dan makan Rp 1,5 juta. Selain itu, tidak ada upah atau tunjangan yang ia terima.

Maka perhitungan THR untuk Desi:

(6 bulan : 12 bulan) x Rp 4.000.000 = Rp 2.000.000

Perhitungan THR untuk Pekerja Harian atau Freelance

Lalu bagaimana dengan perhitungan THR untuk pekerja harian atau freelance? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita cermati dulu apa yang dimaksud dengan upah yang menjadi dasar perhitungan THR.

Berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan, upah adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pemberi kerja yang ditetapkan dan dibayarkan menurut perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan. Upah di sini termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarganya.

Adapun dasar penetapan upah adalah satuan waktu dan/atau satuan hasil. Upah berdasarkan satuan waktu ditetapkan secara harian, mingguan, atau bulanan. Sedangkan upah berdasarkan satuan hasil ditetapkan sesuai dengan hasil pekerjaan yang telah disepakati.

perhitungan-thr

 

1. Pekerja harian/freelance 12 bulan atau lebih

Perhitungan THR untuk pekerja harian atau freelance yang sudah bekerja selama 12 bulan atau lebih adalah upah satu bulan yang dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum hari raya keagamaan yang bersangkutan.

Misalnya Jacky bekerja sebagai penulis freelance di PT Waras Abadi selama 13 bulan. Dia mulai bekerja pada 1 Mei 2018. Selama 13 bulan itu, upah yang ia terima pada tiga bulan pertama sebesar Rp 2 juta per bulan. Sedangkan selama 10 bulan terakhir upahnya Rp 2,5 juta.

Upah selama 12 bulan terakhir:

(Rp 2 juta x dua bulan pertama) + (Rp 2,5 juta x 10 bulan terakhir) = Rp 4 juta + Rp 25 juta = Rp 29 juta

Upah rata-rata selama 12 bulan terakhir sebelum hari raya:

Rp 29 juta : 12 bulan = Rp 2.416.666

Maka perhitungan THR sebulan gaji untuk Jacky adalah Rp 2.416.666 sesuai dengan rata-rata sebulan gaji.

2. Pekerja harian/freelance kurang dari 12 bulan

Perhitungan THR untuk pekerja freelance/harian yang masa kerjanya kurang dari 12 bulan ditetapkan berdasarkan rata-rata upah yang diterima tiap bulan selama masa kerja.

Misalnya Karin baru bekerja selama delapan bulan sebagai desainer grafis di PT Surya Jaya. Upahnya berubah-ubah selama delapan bulan itu karena tergantung job yang diberikan. Rinciannya:

- Oktober = Rp 1 juta
- November = Rp 800 ribu
- Desember = Rp 2 juta
- Januari = Rp 1 juta
- Februari = Rp 500 ribu
- Maret = Rp 700 ribu
- April = Rp 1 juta
- Mei = Rp 1,5 juta

Total = Rp 8,5 juta

Perhitungan THR Karin: Rp 8,5 juta : 8 bulan = Rp 1.062.500

Demikianlah perhitungan THR untuk pekerja harian/freelance dan reguler, baik yang sudah bekerja selama 12 bulan atau lebih maupun belum genap sebulan. Namun perhitungan THR itu belum memasukkan komponen pajak.

(Baca: 10 Cara Cari Uang Tambahan Bagi Karyawan Sibuk)

Perhitungan THR dengan Pajak

Untuk mengetahui perhitungan THR plus pajak, peraturan yang menjadi rujukan adalah Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.

Menurut undang-undang itu, THR termasuk objek pajak penghasilan karena merupakan tambahan kemampuan ekonomis yang diterima/diperoleh wajib pajak yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan.

Dengan demikian, perhitungan THR mesti memasukkan PPh 21. Perhitungannya pun dilakukan secara tahunan, sama seperti pajak penghasilan.

(Baca: Cara Lapor SPT Tahunan Online Melalui e-Filing, Lengkap!)

Penghasilan yang kena pajak minimal Rp 4,5 juta per bulan atau Rp 50 juta dalam setahun. Besarannya 5 persen.

Dengan contoh kasus Budi di atas, rincian penghasilannya:

- Gaji pokok =Rp 3.000.000
- Uang transpor dan makan = Rp 1.000.000
- Tunjangan = Rp 200.000

Total = Rp 4.200.000

Berarti penghasilannya tidak kena pajak karena total penghasilannya cuma Rp 4,2 juta. Maka demikian juga perhitungan THR Budi tidak kena pajak.

Untuk mengetahui perhitungan THR bagi penghasilan yang kena pajak, kita buat contoh kasus Muhammad yang gajinya Rp 7 juta sebulan. Muhammad punya istri yang tidak bekerja dan dua anak (K/2). 

Status keluarga ini nantinya akan menjadi pengurang pajak atau penghasilan tidak kena pajak. Besarannya diatur dalam undang-undang tentang pajak, dan berubah tergantung undang-undang tersebut.

Pajak Atas Upah

Gaji setahun: 12 bulan x Rp 7.000.000 = Rp 84.000.000

Penghasilan tidak kena pajak K/2 = Rp 67.500.000

Penghasilan kena pajak: Rp 84.000.000 – Rp 67.500.000 = Rp 16.500.000

PPh 21 = 5% x Rp 16.500.000 = Rp 825.000

Pajak Atas Upah Plus THR

Gaji setahun + THR = Rp 84.000.000 + Rp 7.000.000 = Rp 91.000.000

Penghasilan tidak kena pajak K/2: Rp 67.500.000

Penghasilan kena pajak: Rp 91.000.000 – Rp 67.500.000 = Rp 23.500.000

PPh 21 = 5% x Rp 23.500.000 = Rp 1.175.000

Pajak THR

PPh 21 THR: PPh atas upah plus THR – PPh atas upah
Rp 1.175.000 – Rp 825.000 = Rp 350.000

THR adalah hak setiap pekerja sesuai dengan aturan. Karena itu, harus cermat dalam perhitungan THR agar tidak rugi.

THR pun tidak boleh diganti dengan barang, harus berupa uang tunai. Batas maksimal pemberian THR paling lambat tujuh hari atau satu pekan sebelum hari raya.

Perhitungan THR untuk pegawai yang resign dalam kurun 30 hari sebelum hari raya sama dengan mereka yang tidak resign. Artinya mereka mendapat THR sesuai dengan peraturan menteri. Sedangkan karyawan yang resign lebih dari 30 hari sebelum hari raya, tidak ada THR.

Karena THR menjadi hak, pengusaha atau pemberi kerja wajib memenuhinya. Ada sanksi yang diatur dalam peraturan menteri pemberi kerja yang melanggar aturan tersebut, yakni denda 5 persen dari THR karyawan.

Dengan begitu, pemberi kerja akan merugi secara finansial karena harus membayar THR penuh plus 5 persen dari THR itu kepada karyawan yang haknya belum dipenuhi. Sudah dapat THR? Gunakan dengan bijak, ya, agar tidak langsung habis tak bersisa.