Rumah DP 0

Gaji Rp 4 Juta Mau Beli Rumah DP 0 di Jakarta, Realistiskah?

Seperti yang sudah kita tahu, rumah DP 0 rupiah atau 0 persen merupakan salah satu janji kampanye pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno saat belum menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. 

Setelah lama dinantikan, akhirnya Anies pun meluncurkan rumah DP (down payment) 0 rupiah yang diberi nama Samawa. 

Rumah Samawa atau solusi rumah warga yang dimaksud Anies merupakan rumah rusun sederhana milik alias rusunami yang berada di Klapa Village, Jakarta Timur. Terdapat total 780 unit hunian dan empat tower di lahan 1,5 hektar ini. Rusunami tersebut ditargetkan rampung pada Juli 2019. 

Seperti yang dilansir dari Kompas, Pemprov DKI Jakarta mengalokasikan dana talangan untuk uang muka pembelian rumah DP 0 rupiah maksimal 20 persen. Artinya, sekalipun disebut rumah DP 0 rupiah, DP tetap dibayar dalam bentuk dana talangan dari pemerintah DKI dulu. Pembeli kemudian membayarnya melalui skema cicilan yang disertakan dalam angsuran bulanan.  

Rumah tersedia dalam dua tipe, yaitu tipe 21 dan 36. Unit tipe 21 dijual seharga Rp 184,8 juta hingga Rp 213,4 juta sebanyak 420 unit. Sementara tipe 36 berkisar Rp 304,92 juta hingga Rp 310 juta sebanyak 360 unit. 

Masih dari Kompas, menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman DKI Jakarta Meli Budiastuti, Rusunami Samawa dapat dicicil antara Rp 2,1 juta sampai Rp 2,6 juta selama 20 tahun. 

Rusunami Samawa mungkin bisa jadi solusi buat yang ingin punya rumah tapi belum punya cukup tabungan untuk bayar uang muka dalam jumlah besar. Dengan DP 0 rupiah, warga yang berminat hanya perlu membayar cicilan selama periode waktu yang telah ditentukan. 

Tertarik?

Tunggu dulu. Tentunya ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi agar program pemerintah ini tak disalahgunakan. 

Berikut di antaranya:

  • Warga ber-KTP DKI yang telah tinggal di Jakarta minimal 5 tahun
  • Tidak pernah menerima subsidi rumah
  • Belum punya rumah sendiri
  • Taat membayar pajak
  • Prioritas bagi warga yang telah menikah
  • Berpenghasilan Rp 4 juta sampai Rp 7 juta per bulan
  • Warga yang terpilih wajib memiliki rekening Bank DKI

Syarat-syarat di atas tampaknya tidak terlalu sulit buat dipenuhi sebagian besar warga Jakarta. Meski begitu, tetap perlu pertimbangan yang matang sebelum memutuskan membeli. 

Umumnya bank hanya mengizinkan pinjaman jika besar cicilan per bulan tidak lebih dari 30 persen total pendapatan rutin. Sekalipun diperbolehkan, rasanya tidak realistis jika dipaksakan tetap mencicil melebihi porsi ideal utang.

Tidak percaya? Coba cek dulu contoh kasus di bawah ini.

Sebut saja Budi, karyawan swasta asal Jakarta yang memiliki penghasilan Rp 4 juta per bulan. Dengar kabar peluncuran rumah Samawa, Budi jadi tertarik untuk membeli. Sudah lama Budi ingin tinggal di rumah sendiri. Semua syarat pun sudah terpenuhi. 

Sebelum memutuskan membeli, Budi menghitung alokasi keuangannya agar tak berakhir tekor. Berikut rinciannya:

Konsumsi 

Sebagai karyawan kantoran, Budi masih bisa menghemat biaya makan dengan membeli di warung nasi alias warteg dengan harga Rp 8-12 ribu per porsi. Tapi, sekali-kali Budi juga suka makan di food court dekat kantor sehingga bujet yang dibutuhkan menjadi Rp 25-30 ribu per porsi. 

Dengan begitu, kira-kira dalam sehari Budi membutuhkan sekitar Rp 15 ribu untuk sekali makan. Dalam sebulan, alokasi uang konsumsi menjadi Rp 15 ribu x 3 x 30 hari = Rp 1,35 juta.

Transportasi

Buat transportasi ke kantor, Budi yang tinggal di daerah Tanjung Barat memilih menggunakan commuter line karena murah dan cepat. Setelah itu, ia menyambung dengan ojek online hingga tiba di kantor yang berjarak 1 km dari Stasiun Sudirman. 

Tarif maksimum commuter line: Rp 3.000 x 22 (hari kerja) x 2 (pulang pergi) = Rp 132 ribu 

Estimasi tarif ojek online: Rp 8.000 per km x 22 (hari kerja) x 2 (pulang pergi) = Rp 352 ribu 

Dengan demikian, biaya transportasi yang dikeluarkan Budi tiap bulannya adalah sebesar Rp 484 ribu.

(Baca: Harga BBM Naik, Jangan Lewatkan 4 Promo Ini
)

Biaya lain-lain

Untungnya karena masih tinggal bersama orangtua, Budi tidak perlu mengeluarkan biaya sewa tinggal. Meski begitu pengeluaran Budi tidak cuma pada dua pos di atas. Masih ada biaya lain-lain yang harus tetap dianggarkan. 

Setelah bekerja dari Senin sampai Jumat, Budi merasa wajar kalau sesekali nongkrong bareng teman saat weekend. Setidaknya nonton satu kali dalam sebulan atau ngopi-ngopi di coffee shop. Selain itu, zaman sekarang anak muda di Jakarta tidak mungkin hidup tanpa Internet. Jadi, Budi juga harus siapkan bujet untuk pulsa atau membeli paket data.

Dengan demikian biaya hiburan yang Budi butuhkan minimal sebagai berikut:

Biaya hiburan: Rp 50 ribu (1 x nonton) + Rp 100 ribu ( 1 x  ngemall) + Rp 100 ribu ( 2 x ngopi di cofee shop) + Rp 150 ribu (pulsa) = Rp 400 ribu.

Dari tiga pos pengeluaran di atas, maka penghasilan Budi hanya tersisa:

Sisa penghasilan =  Penghasilan - (biaya konsumsi + biaya transportasi + biaya lain-lain/hiburan)

Sisa penghasilan = Rp 4 juta - (Rp 1,35 juta + Rp 484 ribu + Rp 400 ribu)

                            = Rp 4 juta - Rp 2,234 juta

                            = Rp 1,766 juta

Dari perhitungan di atas, Budi jadi sadar bahwa sisa penghasilannya belum cukup untuk membayar cicilan rumah Samawa. 

Selain itu, idealnya Budi juga mengalokasikan penghasilannya untuk tabungan, dana darurat,  dan investasi. Masing-masing setidaknya sebesar 10 persen dari penghasilan atau sekitar Rp 1,678 juta. 

Alokasi keuangan Budi bisa ideal jika mengalokasikan sisa penghasilannya tersebut untuk pos tabungan, dana darurat, dan investasi, tanpa ada cicilan untuk rumah DP 0 rupiah. 

Jadi, sekalipun memenuhi persyaratan, realistiskah membeli rumah DP 0 dengan penghasilan Rp 4 juta? Silakan dinilai berdasarkan simulasi di atas ya.

Buat kamu yang bernasib mirip dengan Budi, disarankan alih-alih menekan banyak bujet demi membayar cicilan rumah, lebih bijak untuk mengalokasikannya untuk tabungan atau mencari penghasilan tambahan lain. Setidaknya lakukan hal tersebut sampai kondisi finansial lebih aman untuk membeli atau mengajukan KPR rumah. Jangan berkecil hati ya!