Beli rumah atau beli mobil?

Gaji Rp 10 Juta, Baiknya Beli Rumah atau Mobil Dulu?

Budi baru saja mendapat pekerjaan baru dengan gaji bersih sebesar Rp 10 juta per bulan. Ia pun mulai berpikir untuk memiliki tempat tinggal dan kendaraan pribadi. Saat ini, ia belum menikah sehingga tak punya tanggungan ekstra. Jadi, daripada uangnya habis tanpa jejak, Budi pikir lebih baik ia lekas membeli rumah dan mobil. 

Tapi, punya cicilan rumah dan mobil sekaligus tentu bukan keputusan yang bijak. Jika dipaksakan, penghasilan Budi bisa habis hanya untuk bayar cicilan kredit. Mau tidak mau, Budi pun harus memilih: beli rumah dulu atau mobil saja ya?

Bukan hanya Budi, dilema beli rumah atau mobil juga kerap dialami banyak orang. Tapi, lain orang, lain pula solusinya. Jika kamu juga sedang alami situasi serupa, tak perlu galau lebih lama. Untuk mengetahui mana yang harus kamu pilih, simak ulasan berikut ini.

Beli rumah dulu, jika…

Biaya sewa lebih mahal dari cicilan rumah

Kamu adalah perantau sehingga mau tak mau harus menyewa kosan/kontrakan/apartemen. Kamu pun menyewa tempat tinggal di dekat kantor. 

Sudah jadi rahasia umum kalau menyewa tempat tinggal di sekitar area perkantoran butuh biaya tinggi. Padahal, kalau dihitung-hitung nominal yang sama bisa digunakan untuk mencicil rumah lewat kredit pemilikan rumah (KPR).

Jarak antara kantor dan tempat tinggal dekat

Tak perlu waktu lama untuk menuju ke kantor. Biaya transportasi yang diperlukan juga tak terlalu besar. Naik KRL hanya perlu Rp 3.000, sementara Transjakarta hanya Rp 3.500. Jika ingin menggunakan transportasi online pun kamu biasanya tak menghabiskan lebih dari Rp 10.000. Jika kondisinya seperti ini, mobil bisa jadi belum kamu perlukan. Dengan begitu, uang bisa dialokasikan untuk mencicil rumah.

Sudah mantap menetap di suatu kota

Membeli rumah secara KPR adalah komitmen jangka panjang yang harus dipertimbangkan secara matang. Kamu harus sudah mantap untuk menetap di kota tertentu. Dengan begitu, tak ada penyesalan saat cicilan KPR masih berjalan.

Beli mobil dulu, jika…

Jarak antara kantor dan tempat tinggal jauh

Domisili di Bekasi tapi kantor di Jakarta? Coba perhitungkan berapa biaya transportasi pulang pergi setiap harinya. Tak hanya soal uang, tapi juga alokasi waktu dan tenaga. 

Jika ternyata ongkos dalam sebulan kurang lebih sama atau bahkan lebih tinggi dari biaya cicilan mobil, pertimbangkanlah untuk membeli kendaraan pribadi. 

Punya tempat tinggal sementara

Saat ini kamu masih bisa menetap di rumah orang tua dengan nyaman. Dengan demikian, kebutuhan membeli rumah belum bisa disebut darurat. Kamu pun jadi memiliki kesempatan lebih panjang untuk mengumpulkan uang tanpa terpangkas biaya sewa tinggal.

Mobil sebagai aset yang menghasilkan uang

Apa tujuan kamu membeli mobil? Jika sebatas pengganti transportasi ke kantor, kamu bisa mencari alternatif transportasi umum yang lebih nyaman atau pun lebih hemat. Bisa juga dengan cukup memiliki motor.

Tapi, jika kamu merasa kendaraan umum belum cukup mendukung mobilitas dan produktivitas harianmu, barangkali kebutuhan memiliki mobil tak bisa ditawar lagi. Apalagi jika ternyata kamu telah memiliki rencana untuk memanfaatkan mobil untuk cari penghasilan tambahan.

Misalnya, kamu ingin menjadi driver taksi online di luar jam kerja. Cobalah buat rencana keuangan terhadap usaha sampingan yang ingin kamu lakukan dan perkirakan profit yang bisa didapatkan. Dengan demikian keuntungan yang didapat bisa meringankan bujet cicilan. 

(Baca: Kredit Mobil Murah untuk Pemilik Gaji 3 Juta, Apa Saja Persyaratannya?)

Perhatikan juga hal ini!

Dari dua ilustrasi di atas, kondisi mana yang paling banyak kamu alami? Setidaknya saat ini kamu sudah cukup memiliki gambaran akan prioritas kebutuhanmu bukan? Tapi, jangan ambil keputusan dulu. Masih ada hal lain yang perlu kamu pertimbangkan. Berikut di antaranya.

Biaya-biaya tambahan

Membeli rumah atau mobil, keduanya sama-sama punya biaya tambahan yang perlu diperhitungkan. Misalnya, jika kamu ingin mengajukan KPR rumah, hitung pula biaya pajak, provisi, asuransi rumah, pengurusan KPR seperti biaya notaris, serta biaya renovasi, dan sebagainya.

Begitu pula dengan membeli mobil. Ada biaya-biaya tambahan yang harus disiapkan, seperti biaya servis, pajak STNK tahunan, bensin, tol, dan parkir, hingga asuransi kendaraan, mulai dari biaya klaim asuransi mobil sampai premi per bulan.

Proporsi cicilan

Sekalipun BI telah melonggarkan persyaratan minimum uang muka pembelian rumah secara KPR, namun umumnya para pengembang menerapkan syarat uang muka sebesar 15-20 persen. 

Misalnya, jika Budi ingin membeli rumah seharga Rp 300 juta, maka Budi sebaiknya memiliki uang muka sebesar:

Uang muka = 20 persen x harga rumah

                    = 20 persen x 300 juta

                    = Rp 60 juta

Pokok utang = Rp 300 juta - Rp 60 juta = Rp 240 juta

Idealnya, Budi juga tidak boleh memiliki utang lebih dari 30 persen penghasilan. Dengan demikian, alokasi cicilan rumah sebaiknya tidak lebih dari Rp 3 juta.

Menggunakan simulasi perhitungan dari KPR Mandiri, dengan suku bunga kredit sebesar 13,25 persen per tahun, serta jangka waktu kredit selama 15 tahun, maka rincian angsuran KPR Budi menjadi Rp 3.076.167 per bulan.

beli rumah beli mobil

(Image: Bank Mandiri)

Artinya, jika uang muka kurang dari Rp 60 juta, maka besar cicilan KPR akan melebihi batas ideal utang yang disarankan. 

Dengan kata lain, konsekuensi membeli rumah secara KPR adalah harus siap dengan uang muka sebesar 15-20 persen dari harga total.

Begitu pula dengan membeli mobil. Kamu tetap harus siap dengan uang muka. Bedanya, besar uang muka dan tenor cicilan tentunya tidak sebesar dan sepanjang KPR rumah.

(Baca: Gaji Rp 4 Juta Mau Beli Rumah DP 0 di Jakarta, Realistiskah?)

Jadi, mana yang paling sesuai dengan kondisi finansial dan situasimu saat ini?