MRT Jakarta

Fakta-Fakta MRT Jakarta, Sebentar Lagi ke Kantor Makin Irit

Siapa yang sudah tidak sabar untuk bisa menggunakan mass rapid transit alias MRT Jakarta? 

Tenang, kamu tak perlu menunggu lama lagi. Sebab akhir Maret 2019 nanti, MRT Jakarta bakal beroperasi. Kamu yang sering terjebak macet di jalan hingga kehabisan energi begitu tiba di kantor, sekarang bisa bernapas lega. 

MRT Jakarta memang membawa angin segar bagi warga ibu kota, terutama bagi para pekerja. Pasalnya, bukan hanya bisa menempuh perjalanan dengan cepat, MRT Jakarta juga memiliki fasilitas dengan standar Internasional. Jadi, soal kenyamanan tak perlu diragukan.

Di dalam stasiun MRT Jakarta tersedia ruang menyusui, ruang pertolongan pertama, toilet umum, tempat duduk, customer service untuk layanan penumpang, loket tiket, serta tactile untuk penyandang disabilitas. 

Bagi penumpang yang menggunakan kursi roda, dapat memilih jalur wide passenger gate dengan lebar 90 cm sehingga lebih mudah melintas. Selain itu, meski berada di bawah tanah alias dalam terowongan dengan kedalaman 20 meter, sinyal telekomunikasi tetap bisa diakses tanpa gangguan. 

Stasiun bawah tanah dilengkapi dengan penyejuk udara, sementara stasiun layang akan mengoptimalkan sirkulasi udara terbuka,  sehingga tetap nyaman saat menunggu MRT Jakarta datang.

Mau tahu apakah MRT Jakarta bakal melewati rute ke kantor kamu? Cek rutenya di bawah ini.

Rute MRT Jakarta

Tersedia 14 set kereta yang akan beroperasi untuk melintasi wilayah utara hingga selatan. Pada fase pertama, rute MRT Jakarta meliputi Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia dengan total jarak tempuh sekitar 16 kilometer. 

Selanjutnya, pada fase kedua, MRT Jakarta akan melayani rute Bundaran Hotel Indonesia hingga Kampung Bandan.

Adapun, stasiun MRT Jakarta fase pertama tersebar di beberapa area berikut ini:

  1. Stasiun Lebak Bulus
  2. Stasiun Fatmawati
  3. Stasiun Cipete Raya
  4. Stasiun Haji Nawi
  5. Stasiun Blok A
  6. Stasiun Blok M
  7. Stasiun Sisingamangaraja (stasiun layang)
  8. Stasiun Senayan
  9. Stasiun Istora
  10. Stasiun Bendungan Hilir
  11. Stasiun Setiabudi
  12. Stasiun Dukuh Atas
  13. Stasiun Bundaran Hotel Indonesia

Rencananya, MRT jakarta fase kedua akan terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah, yaitu sebagai berikut:

  1. Stasiun Sarinah
  2. Stasiun Monas
  3. Stasiun Harmoni
  4. Stasiun Sawah Besar
  5. Stasiun Mangga Besar
  6. Stasiun Glodok
  7. Stasiun Kota

Di setiap stasiun MRT Jakarta, tersedia area pejalan kaki untuk melanjutkan perjalanan dengan moda transportasi publik lain, seperti angkutan kota atau ojek online. 

Namun, khusus untuk stasiun Dukuh Atas, akan terhubung dengan empat moda transportasi terpadu lainnya, yaitu commuter line (KRL), LRT, kereta bandara, dan Transjakarta. Sangat memudahkan, bukan?

Langkah-langkah naik kereta MRT

Cara naik kereta MRT Jakarta tak jauh berbeda dengan naik KRL. Berikut ini langkah-langkahnya.

  1. Masuk ke stasiun MRT terdekat.
  2. Beli tiket melalui loket atau mesin penjual tiket. Kamu dapat membeli single trip ticket atau multi trip ticket.
  3. Jika tiket sudah di tangan, masuklah ke dalam peron kereta dengan menempelkan tiket di gerbang penumpang.
  4. Demi keamanan dan kenyamanan, berdirilah di belakang garis aman dan di dalam garis antrian saat menunggu datangnya kereta. Jangan lupa, dahulukan penumpang turun sebelum masuk ke dalam kereta.
  5. Setelah tiba di stasiun tujuan, tempelkan kembali tiket di gerbang penumpang untuk keluar dari stasiun dan melanjutkan perjalanan.

Catat, jadwal keberangkatan MRT Jakarta

Agar perjalananmu lancar, ketahui jadwal keberangkatan MRT Jakarta, serta perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai stasiun tujuan. 

Keberangkatan kereta dijadwalkan setiap lima menit sekali pada jam sibuk dan 10 menit sekali di luar jam sibuk, mulai pukul 05.00-24.00 WIB setiap harinya. 

Misalnya, pada pukul 06.00-09.00 WIB dan 16.00-19.00 WIB, kereta tersedia setiap lima menit sekali. Sementara, di luar waktu tersebut, kereta akan tersedia setiap 10 menit sekali. Adapun perjalanan antar stasiun membutuhkan waktu sekitar 2-3 menit. 

(Baca: Motor Masuk Tol, Bikin Untung atau Buntung?)

Perbedaan MRT, LRT, dan KRL

Selain MRT, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga sedang membangun light rapid transit alias LRT. Secara kasat mata LRT, MRT, maupun KRL tampak tak jauh berbeda. Ketiganya sama-sama merupakan transportasi berbasis rel dan digerakkan oleh aliran listrik dari bagian atas.

Meski begitu, terdapat sejumlah perbedaan antara LRT, MRT, dan KRL. Sudah tahu apa saja bedanya? Simak ulasannya berikut ini.

1. Kapasitas 

MRT maksimal  terdiri dari enam rangkaian kereta dengan kapasitas sekitar 1.950 penumpang. Angka ini hampir menyamai KRL, yang terdiri dari 8-12 rangkaian kereta dengan kapasitas hingga 2.000 penumpang. 

Sedangkan, LRT memiliki rangkaian kereta yang paling sedikit, yaitu 2-4 kereta, sehingga hanya sanggup mengangkut maksimal 600 penumpang.

Dengan kapasitas tersebut, MRT ditargetkan mampu mengangkut hingga 173.400 penumpang tiap harinya dan KRL ditargetkan mampu mengangkut hingga 1,2 juta penumpang per hari. Sementara, LRT ditargetkan mengangkut sebanyak 360 ribu penumpang per hari.

2. Perlintasan

Semua rute KRL merupakan jalur di atas tanah, kecuali jalur yang menghubungkan Manggarai-Jakarta Kota, yang berupa jalur layang. Dengan begitu, jika terjadi penambahan rute atau kereta KRL, dibutuhkan perlintasan yang bisa berdampak pada kemacetan. 

Bayangkan saja, jika semakin banyak kereta, palang pintu kereta akan semakin sering ditutup, sehingga pengendara transportasi darat pun harus menunggu lebih lama. 

Hal serupa, tidak akan terjadi pada MRT dan LRT, sebab semua perlintasan LRT direncanakan dibangun dengan jalur layang. Sementara, perlintasan MRT dibangun dalam dua jenis jalur, yaitu jalur layang dan bawah tanah. Dengan begitu, tidak akan berdampak pada kelancaran lalu lintas moda transportasi lain.

Adapun rute LRT dan KRL akan menjangkau area Jabodetabek, sementara rute MRT baru akan tersedia di Jakarta.

Tarif tiket MRT

Dengan fasilitas dan keunggulan yang dimiliki MRT Jakarta, kira-kira berapa tarif tiket yang dikenakan ya?

Sayangnya, meski sudah memasuki tahap uji coba, tarif MRT masih dalam pembahasan. Namun, pihak MRT Jakarta mengusulkan harga tiket MRT sebesar Rp 8.500 per km, dengan tarif setiap 1 km berikutnya sebesar Rp 2.200 per km. 

Sementara, tarif tiket LRT Jabodetabek sudah ditetapkan, yaitu senilai Rp 12 ribu berlaku flat pada setiap perjalanan. 

Tarif kedua transportasi tersebut memang lebih tinggi dibanding tarif KRL yang hanya sebesar Rp 3.000-7.000. Namun, kisaran tarif MRT dan LRT masih terhitung terjangkau jika dibandingkan dengan moda transportasi publik lain, seperti bus kota, angkutan umum, ataupun kendaraan online. 

Di sisi lain, fasilitas serta kecepatan yang dijanjikan MRT dinilai sebanding dengan kisaran harga tiket yang ditetapkan. Apalagi, mengingat penumpang MRT tidak perlu terjebak macet yang bisa menguras energi dan bensin. 

Dengan kata lain, keberadaan MRT nantinya tak hanya membuat waktu terpangkas, pengeluaran juga bisa jauh berkurang. Sebagai bonus, berkurangnya kendaraan di jalanan Jakarta secara tak langsung juga akan mengurangi polusi kendaraan dan pastinya tingkat kemacetan. Betul tidak?

(Baca: Ini 6 Cara Mengatur Keuangan ala Orang Tionghoa, Yuk Tiru!)

Bagaimana? Makin tak sabar menantikan MRT Jakarta?