film-keluarga-cemara

Dari Film Keluarga Cemara, Kamu Bisa Dapat 5 Pelajaran Keuangan Ini

Film Keluarga Cemara langsung meledak setelah ditayangkan perdana pada awal 2019 ini. Film ini memang ditunggu-tunggu, terutama oleh generasi 90’an yang hendak bernostalgia.

Dulu, Keluarga Cemara tayang di televisi dari 1996 hingga 2002, lalu lanjut tahun 2004 sampai tamat pada 2005. Selama kurun waktu itu, Keluarga Cemara menjadi salah satu sinetron terfavorit pemirsa.

Memang, ada perbedaan antara film Keluarga Cemara dan versi sinetronnya. Perbedaan itu termasuk jalan cerita dan latar karakter pemainnya.

Namun inti jalan ceritanya sama. Semuanya mengacu ke cerita bersambung karya Arswendo Atmowiloto.

Keluarga Cemara digemari karena ceritanya yang menarik. Di balik cerita itu, ada banyak pelajaran yang bisa diambil, dari tentang moral hingga finansial.

Di sini akan kita bahas khusus soal pelajaran finansial yang tersembunyi di balik drama yang menjadi inti utama cerita Keluarga Cemara. Berikut ini di antaranya:

1. Kegagalan bukanlah akhir segalanya

Dalam Keluarga Cemara, dikisahkan Abah bangkrut karena usahanya ditipu orang. Orang itu bahkan termasuk keluarga sendiri.

Karena penipuan itu, keluarga Abah yang tadinya hidup serba berkecukupan jadi jatuh miskin. Mereka pun terpaksa pindah dari Jakarta ke desa pinggiran di Bogor.

Namun Abah dan keluarganya tak lantas putus asa akibat kegagalan usaha tersebut. Mereka berusaha bangkit dengan cara masing-masing. Intinya adalah hidup keluarga Abah memang hancur, tapi tidak berakhir. 

Begitu juga jika kamu terjerat masalah keuangan, misalnya utang bertumpuk. Jangan gampang menyerah, coba cari solusi dengan berpikir jernih.

Lari dari masalah bukanlah jawaban. Saat punya utang banyak ke bank, umpamanya, datangilah bank itu dan terus terang. Mungkin ada pemecahan masalah yang ditawarkan bank, contohnya refinancing. Bank pasti akan berusaha membantu bila kamu mau terbuka.

(Baca: 7 Cara Melunasi Utang dengan Cepat dan Mudah)

2. Hidup sederhana itu menyenangkan

Jatuhnya usaha Abah, membuat Emak, Euis, dan Ara menjalani hidup sederhana di desa. Tapi ternyata hidup sederhana bukanlah mimpi buruk. Malah, ada dinamika di dalamnya yang membuat hidup jadi menyenangkan.

Euis misalnya, secara pribadi jadi tahu siapa teman-teman sejatinya, bukan teman yang dekat karena materi.

Hidup sederhana pun membantu keluarga Abah membangun fondasi finansial yang sempat ambruk. Bisa dikatakan mereka terpaksa hidup sederhana dan harus menurunkan kelas gaya hidupnya dibanding ketika masih berjaya.

Namun pada akhirnya, mereka justru enggan balik ke Jakarta setelah berhasil menata hidup. Ini adalah bukti bahwa hidup sederhana itu menyenangkan. Uang yang bisa dihemat dari gaya hidup itu pun berguna buat masa depan, misalnya pendidikan anak.

Kamu yang saat ini hidup berkecukupan juga bisa mengambil manfaat dari hidup sederhana seperti keluarga Abah. Apalagi jika sedang berkesusahan.

Tak jarang ditemui orang yang sebenarnya hidup susah atau pas-pasan justru gaya hidupnya sok mewah. Ini seperti bom waktu yang suatu saat siap meledak dan menghancurkan hidup orang itu.

3. Bersatu kukuh, bercerai runtuh

Sebagai drama keluarga, film Keluarga Cemara berhasil menunjukkan betapa berharganya keutuhan sebuah keluarga. Termasuk dalam upaya bangkit dari kebangkrutan finansial.

Masalah keuangan yang mendera menjadi pelajaran berharga buat keluarga Abah. Bukannya tercerai-berai, mereka malah makin solid sebagai keluarga. Memang, ada konflik di sana-sini dalam perjalanan. Tapi keluarga mana sih yang tak punya konflik?

Kuncinya adalah kemampuan dan kerelaan untuk mengendalikan konflik tersebut. Dalam hal ini, Abah dan Emak menjadi tokoh sentral.

Faktanya, banyak dijumpai suami-istri yang bercerai karena masalah keuangan. Yang paling sering adalah suami dianggap tak mampu menafkahi istri sepenuhnya.

Padahal ketika menikah, dua orang itu seharusnya berikrar untuk senasib sepenanggungan. Bila ada masalah, harus dipecahkan bersama. Bukan malah bertengkar.

Coba bila Abah dan Emak ribut lalu bercerai. Rumah tangga jadi makin amburadul. Yang jadi korban selanjutnya adalah masa depan anak-anak.

(Baca: Waspada, Ini 4 Dampak Negatif Perceraian terhadap Finansial)

4. Bekerja keras untuk lebih baik

Ketika hidup keluarga Abah tak lagi senyaman sebelumnya, semua orang di dalam rumah berusaha dengan cara masing-masing demi meraih hal yang lebih baik. Pekerjaan sebagai kuli pun dilakoni Abah, juga jadi sopir ojek online.

Hasilnya memang tak seberapa dibanding pendapatan Abah saat masih punya bisnis sendiri. Namun kerja keras yang dilakukan berhasil membuat dapur terus mengepul.

5. Investasi dan dana darurat itu penting

Pelajaran keuangan yang tersembunyi dari film Keluarga Cemara yang terakhir ini berasal dari kesalahan besar keluarga Abah. Kesalahan itu adalah tidak memiliki investasi sebagai penopang finansial.

Boleh jadi Abah berpikir bahwa bisnisnya sudah kuat dan terus berkembang. Karena itu, tidak ada investasi yang dilakukan. Misalnya menabung emas, atau beli properti untuk investasi.

Alhasil, saat rumahnya disita karena dijadikan jaminan oleh ipar sendiri, Abah jadi kelimpungan tak punya tempat tinggal.

Coba kalau Abah punya investasi. Dana investasi bisa ditarik atau dicairkan untuk mengatasi masalah keuangan yang menimpa.

Bahkan dana darurat pun Abah tak punya. Padahal dana darurat penting pada saat-saat seperti itu, saat terjadi malapetaka yang membuat keuangan terganggu.

Pelajaran keuangan bisa diambil dari mana saja, termasuk film Keluarga Cemara. Drama yang dipertontonkan memang menarik, tapi ada pesan-pesan yang juga disampaikan kepada penonton melalui cerita yang disajikan.

Menangis, tertawa, geram, segala perasaan yang muncul ketika menikmati film Keluarga Cemara akan lebih sempurna jika penonton mampu menangkap pelajaran yang terkandung di dalamnya.