cara-menghitung-bunga-deposito

Cara Menghitung Bunga Deposito Secara Sederhana

Cara menghitung bunga deposito mutlak diketahui sebelum seseorang menanamkan dananya ke salah satu jenis investasi ini. Pengetahuan soal bunga deposito bahkan seharusnya menjadi faktor utama ketika memutuskan untuk buka rekening deposito.

Deposito merupakan simpanan dana yang pencairannya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Jangka waktu terpendek adalah satu bulan. Sedangkan yang terlama 12 bulan.

Makin lama jangka waktu simpanan, makin besar potensi keuntungan yang bisa diraih. Sebab, makin lama periode simpanan, makin tinggi bunga yang diberikan.

Misalnya deposito dengan kontrak 12 bulan dan bunga 6 persen. Maka duit di deposito bisa dicairkan dengan bunga full 6 persen saat jatuh tempo 12 bulan kemudian.

Tapi, kalau pencairan dipercepat, umpamanya baru 6 bulan dana sudah ditarik, bunga deposito itu tidak maksimal memberikan keuntungan. Selain itu, ada penalti alias biaya tambahan lantaran mencairkan dana sebelum waktunya.

Dua Macam Deposito

Deposito bisa dibedakan menjadi dua jenis, yakni deposito berjangka dan sertifikat deposito. Cara menghitung bunga deposito keduanya serupa. Tapi ada perbedaan mendasar di antara keduanya, antara lain:

Deposito Berjangka

- Simpanan yang pencairannya berdasarkan periode waktu tertentu
- Periode simpanan biasanya 1, 3, 6, atau 12 bulan. Ada juga yang sampai 24 bulan
- Diterbitkan atas nama perorangan ataupun lembaga
- Bunga deposito bisa dibayarkan setiap bulan atau setelah jatuh tempo
- Pencairan bisa lewat tunai ataupun non-tunai (transfer ke rekening tabungan)
- Terdapat pajak bunga deposito untuk nominal simpanan tertentu
- Ada denda atau penalti jika deposito dicairkan sebelum jatuh tempo

Sertifikat Deposito

- Simpanan yang pencairannya berdasarkan periode waktu tertentu, biasanya 1, 3, 6, atau 12 bulan
- Kepemilikan deposito dalam bentuk sertifikat tanpa nama pemilik
- Sertifikat dapat diperjualbelikan
- Sertifikat dapat diturunkan atau diberikan secara langsung sebagai warisan

Baik deposito berjangka maupun sertifikat deposito bisa dijadikan sarana investasi masa depan. Buat pemula, investasi deposito sangatlah aman karena dana yang disimpan dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) maksimal Rp 2 miliar.

Artinya, jika terjadi sesuatu, misalnya bank tempat menyimpan deposito kolaps, danamu masih bisa kembali. Selain itu, nyaris tak ada risiko kerugian karena cara kerja deposito mirip dengan tabungan. Hanya, tidak ada potongan administrasi per bulan.

(Baca: Untung Maksimal dari Investasi Reksadana, Begini Caranya)

Kelebihan dan Kekurangan Deposito

Seperti disinggung sekilas di atas, deposito adalah sarana investasi yang pasti menguntungkan. Buat yang memiliki rekening tabungan, pasti tak akan mengalami kesulitan saat membuka rekening deposito.

Namun setiap jenis investasi pasti memiliki kekurangan. Berikut ini kelebihan (+) dan kekurangan (-) deposito:

+ Dapat dijadikan agunan atau jaminan kredit

+ Bunga umumnya lebih tinggi dari bentuk simpanan lain

+ Bisa dijadikan sarana untuk merencanakan pemenuhan kebutuhan dalam jangka waktu pendek, menengah, ataupun panjang.

+ Dijamin oleh Lembaga Penjaminan Simpanan

- Hasil atau return lebih kecil ketimbang investasi lain

- Ketika butuh dana mendadak, ada penalti jika hendak dicairkan

Cara Menghitung Bunga Deposito

Ketika akan menyimpan dana dalam bentuk deposito, hal pertama yang harus dijadikan pertimbangan adalah berapa bunganya. Media bisnis Kontan memiliki pusat data yang menampilkan informasi bunga deposito bank terbaru setiap hari.

Di situ kamu bisa membandingkan suku bunga deposito satu bank dan bank lain. Ada yang dalam mata uang rupiah, ada juga yang dolar.

Cara menghitung bunga deposito setiap bank itu sama. Tapi sebelum mengetahui bunganya, perlu pahami dulu peraturan pajak depositonya.

Ada setidaknya tiga dasar tentang peraturan soal pajak deposito, yaitu:

- Peraturan Pemerintah Nomor 131 Tahun 2000 tentang PPh atas bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI.

- Keputusan Menteri Keuangan 51/KMK.04/2001 tentang pemotongan PPh atas bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI.

- Surat Edaran Dirjen Pajak 01/PJ.43/2001 tentang PP 131 Tahun 2000.

Menurut peraturan itu, pajak bunga deposito adalah 20 persen dari bunga, jika nominal simpanan lebih dari Rp 7,5 juta. Berikut ini ilustrasi cara menghitung bunga deposito:

David dan Desi berencana buka rekening deposito. Desi memiliki dana Rp 10 juta. Sedangkan David Rp 5 juta. Keduanya hendak menyimpan dana itu selama 12 bulan. Bunga per tahun untuk deposito tersebut sebesar 5 persen.

Bunga deposito David

= jumlah simpanan x bunga per tahun x periode simpanan: 12
= Rp 5 juta x 5% x 12 : 12
= Rp 250 ribu per bulan

Bunga deposito Desi  

= jumlah simpanan x bunga per tahun x 80%* x periode simpanan: 12
= Rp 10 juta x 5% x 80% x 12 : 12
= Rp 400 ribu per bulan

* 80% mengacu pada peraturan bahwa nominal deposito di atas Rp 7,5 juta terkena pajak sebesar 20 persen. Karena jumlah simpanan Desi Rp 10 juta, ada potongan pajak 20 persen. Sedangkan deposito David tidak terkena potongan karena hanya Rp 5 juta.

Cara menghitung bunga deposito tersebut berlaku untuk deposito berjangka ataupun sertifikat deposito. Secara umum, hasil yang diterima nasabah deposito lebih besar ketimbang jika menabung biasa.

Tabungan biasa paling banter bunganya 1 persen. Itu pun masih dipotong biaya administrasi bulanan. Tak akan kuat melawan inflasi.

(Baca: Cara Meraup Untung dari Investasi Emas buat Pemula)

Risiko Deposito

Investasi melalui deposito bisa menjadi batu loncatan sebelum terjun ke instrumen investasi lain yang lebih menjanjikan, misalnya reksa dana atau saham.

Tapi meski minim risiko, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan jika hendak investasi deposito:

- Pastikan bank memberikan bilyet atau surat berharga sebagai bukti kepemilikan deposito
- Hitung dengan pasti hasil deposito saat jatuh tempo yang terdiri atas pokok dana dan bunga setelah dipotong pajak (jika ada)
- Pencairan deposito sah jika sudah ada tanda tangan dari pemilik deposito
- Cermati tingkat suku bunga deposito yang ditargetkan dan pastikan sesuai dengan aturan Lembaga Penjamin Simpanan
- Teliti apakah deposito menggunakan skema Automatic Roll Over (ARO) atau Non-Automatic Roll Over (Non-ARO). Jika pakai ARO, deposito otomatis diperpanjang plus hasil bunganya. Sedangkan Non-ARO tidak ada perpanjangan otomatis setelah jatuh tempo.

Deposito selain menjadi sarana investasi bisa pula dijadikan jaminan untuk memenuhi kebutuhan atau modal usaha. Pinjaman BNI Instant, misalnya, khusus diperuntukkan bagi nasabah pemilik deposito/tabungan/giro yang diterbitkan BNI.

Bila memiliki deposito, peluang pinjaman disetujui BNI bakal lebih besar. Makin banyak nominal dana deposito, makin besar jumlah pinjaman yang bisa dicairkan.

Artinya pemilik deposito bisa menikmati setidaknya dua manfaat dari deposito yang dimiliki. Cara buka deposito pun amat mudah.

Tak perlu punya rekening tabungan di bank terkait, yang penting setorkan dana dan isi formulir deposito. Petugas bank akan dengan senang hati memberikan uluran tangan buat siapa pun yang berminat investasi deposito.

(Baca: Deposito BCA: Cara Buka dan Apa Saja Keuntungannya)