asuransi-jiwasraya

Belajar dari Kasus Jiwasraya, Ini 5 Risiko Bancassurance

Salah satu badan usaha milik negara yang terancam bangkrut tapi sempat bangkit, PT Asuransi Jiwasraya (Persero), kini dirundung masalah. Asal-muasal masalah itu adalah kemunculan produk bancassurance JS Saving Plan atau JS Proteksi Plan.

Bancassurance adalah layanan asuransi yang ditawarkan melalui bank. Asuransi ini biasanya berupa perlindungan jiwa dan disatukan dengan layanan investasi jangka panjang (unit link). Sasaran utamanya adalah nasabah bank.

Dalam pemasaran JS Saving Plan, Jiwasraya bekerja sama dengan Bank Tabungan Negara, Standard Chartered Bank, Bank KEB Hana Indonesia, Bank Victoria, Bank ANZ, Bank QNB Indonesia, dan Bank Rakyat Indonesia. Nasabah bank tersebut akan ditawari JS Saving Plan oleh petugas bank terkait untuk dihubungkan dengan Jiwasraya.

Layaknya layanan asuransi, nasabah wajib membayar premi secara berkala kepada Jiwasraya melalui bank. Sebagai imbal balik, nasabah mendapatkan proteksi dan pembayaran hasil investasi sesuai dengan polis pada tanggal jatuh tempo.

Adapun masalah yang menimpa Jiwasraya adalah kesulitan likuiditas yang membuatnya tidak mampu membayar polis saat jatuh tempo. Tidak tanggung-tanggung, per Oktober 2018, nilai polis yang tak bisa dibayarkan mencapai jumlah fantastis: Rp 802 miliar!

Tak pelak, masalah bancassurance ini menarik perhatian banyak kalangan. Nasabah selaku pemilik polis bahkan sampai menyurati presiden dan DPR untuk mengadukan masalah tersebut.

Tapi problem bancassurance Jiwasraya belum terpecahkan hingga sekarang. Yang ada hanya solusi sementara, yakni roll over alias perpanjangan polis hingga ditemukan solusi permanen untuk mengatasi masalah likuiditas Jiwasraya.

Keuntungan dari bancassurance

Sebetulnya, bancassurance adalah layanan yang menguntungkan bagi semua pihak terkait. Baik bank, perusahaan asuransi, maupun nasabah sama-sama mendapat untung. 

(Baca juga: Sebelum Membeli Asuransi Kesehatan, Ajukan 7 Pertanyaan Ini)

Layanan ini pun ramai dimanfaatkan di Eropa, Amerika Latin, dan Asia. Di Indonesia sendiri, bancassurance terbilang sangat diminati dan menjadi andalan perusahan asuransi jiwa. Menurut Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, seperti dilaporkan Kontan, kontribusi bancassurance terhadap total premi sampai kuartal III 2017 yang sebesar Rp 139,27 triliun mencapai 44,1 persen. 

Persentase itu hampir Rp 70 triliun sendiri. Maka tak mengherankan jika bank dan perusahaan asuransi terus menggenjot layanan kerja sama yang menguntungkan ini.

Keuntungan buat bank 

- Mendapat tambahan pemasukan
- Menguatkan hubungan dengan nasabah agar makin loyal
- Memaksimalkan sumber daya sesuai dengan potensi yang dimiliki
- Menjaring nasabah baru

Keuntungan buat perusahaan asuransi

- Penjualan produk bertambah
- Pemasukan bertambah
- Nasabah makin luas
- Kerja mendapatkan nasabah baru lebih mudah memanfaatkan jaringan bank
- Tak perlu menambah sumber daya dan kantor untuk menjaring nasabah

Keuntungan buat nasabah

- Mendapatkan layanan bank dan asuransi sekaligus
- Urusan klaim bisa dibantu bank
- Memiliki proteksi dan sumber investasi jangka panjang, misalnya untuk hari tua atau pendidikan anak

Risiko bancassurance

Tapi, meski banyak manfaatnya buat nasabah, sebagai layanan asuransi sekaligus investasi, ada risiko yang menghantui. Setiap investasi pasti disertai dengan risiko. Rumusnya adalah makin besar risiko, makin besar pula potensi keuntungan.

(Baca: Ini 5 Investasi Terbaik 2019 yang Direkomendasikan Para Ahli)

Berkaca kepada kasus gagal bayar Jiwasraya, ada setidaknya lima risiko yang mesti dihadapi nasabah bancassurance:

1. Dana tidak dijamin LPS

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) adalah lembaga yang berfungsi melindungi dana nasabah di bank. Jika terjadi masalah, misalnya bank kolaps karena krisis, simpanan nasabah di bank itu akan aman pada nominal tertentu. 

Sayangnya, dana di bancassurance tidak masuk kategori produk perbankan. Karena itu, menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, dana tersebut tidak dijamin oleh LPS.

Karena itu, ada risiko dana lenyap karena masalah dalam layanan tersebut. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran para nasabah bancassurance Jiwasraya.

2. Dimonopoli

Menurut Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 12/ 35 /DPNP tanggal 23 Desember 2010 tentang Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Aktivitas Kerjasama Pemasaran dengan Perusahaan Asuransi (Bancassurance), ketika memasarkan bancassurance, bank mesti menawarkan produk setidaknya dari tiga perusahaan asuransi. Dengan begitu, nasabah mendapat lebih banyak pilihan asuransi yang diwajibkan.

Pada 2014, Komisi Pengawas Persaingan Usaha pernah menjatuhkan hukuman denda kepada BRI yang memasarkan produk asuransi BRIngin Life dan Heksa karena dianggap melakukan monopoli. Memang, akhirnya putusan itu dimentahkan Mahkamah Agung.

Tapi dalam surat edaran BI sudah jelas bahwa harus ada pilihan demi mengakomodasi kebebasan nasabah. Dalam hal ini, bancassurance yang dimaksudkan adalah yang diwajibkan dalam layanan bank. Misalnya kredit perumahan rakyat (KPR) yang ditawarkan bareng asuransi jiwa.

3. Tata kelola tidak sesuai

Peraturan OJK Nomor 73/POJK.05/2016 tentang Tata Kelola Perusahaan Yang Baik Bagi Perusahaan Perasuransian jelas melarang perusahaan asuransi menawarkan atau memberikan sesuatu kepada pihak lain untuk mempengaruhi pengambilan keputusan dalam hal transaksi asuransi. Sedangkan sejumlah bank meminta license fee berupa biaya tetap yang dibayar di muka dalam kerja sama bancassurance.

Bank juga diharuskan menganalisis kesehatan perusahaan asuransi yang bekerja sama. Adapun Jiwasraya terhitung memiliki riwayat kesehatan finansial yang kurang baik.

Di sisi lain, return dari investasi bancassurance Jiwasraya disebut mencapai 10 persen kepada nasabah. Bila ditambah dengan komisi kepada bank dan target keuntungan buat Jiwasraya sendiri, berarti return dari investasi harus lebih dari 10 persen. Itu pun belum termasuk biaya lain-lain, seperti akuisisi.

Karena itu, ada risiko tata kelola yang tidak sesuai sehingga nasabah yang mengalami kerugian dari kerja sama bancassurance. Nasabah perlu memperhatikan kesehatan perusahaan asuransi serta analisis bank mengenai perusahaan tersebut untuk mendapatkan produk bancassurance terbaik.

4. Jangka pendek vs jangka panjang

Bancassurance umumnya dikelola untuk investasi jangka panjang. Masalahnya, ada pula pemutusan kontrak atau pencairan polis bancassurance ketika masih dalam jangka pendek.

Bila dana cadangan perusahaan asuransi tak mencukupi, ada risiko terhadap pembayaran polis. Sebab, dana dalam bancassurance diputar dalam investasi yang memberikan hasil maksimal dalam jangka panjang. Ketika ada kontrak bancassurance dalam jangka pendek, nasabah lain yang belum memutus kontrak rentan mengalami masalah ketika meminta pencairan imbal hasil investasi atau polis saat perusahaan tak menyiapkan likuiditas yang memadai.

5. Investasi bisa rugi

Seperti disinggung sekelebat, investasi tak selalu mendatangkan keuntungan. Bancassurance yang menggunakan skema unit link termasuk di dalamnya.

Maka keliru jika mengharapkan imbal hasil sesuai dengan ilustrasi yang diberikan saat penawaran layanan bancassurance itu. Nasabah perlu terlibat untuk memastikan dana yang disetor ditanamkan ke instrumen yang tepat, entah itu reksa dana, obligasi, entah lainnya, agar tidak menuai kerugian.

Saat ini Jiwasraya masih berupaya keluar dari tekanan likuiditas. Salah satu caranya adalah mengeluarkan produk baru dengan premi ringan, yaitu JS Asuransi Mikro Sahabat dan JS Demam Berdarah. Menteri BUMN Rini Soemarno pun menyatakan bisnis Jiwasraya masih oke.

Buat nasabah bank, kasus Jiwasraya semestinya tidak menjadi nila yang merusak susu sebelanga. Bancassurance sejatinya memberikan banyak manfaat buat nasabah yang hendak memproteksi diri sekaligus berinvestasi lewat kemudahan yang ditawarkan bank.

Hanya, nasabah harus pandai-pandai memilih produk asuransi yang paling aman dan sesuai dengan kebutuhan. Bandingkan semua produk yang ditawarkan untuk mendapatkan yang terbaik. Jangan sampai membuat keputusan membeli premi asuransi hanya karena termakan bujuk rayu.