e money uang elektronik

Apa Itu E-Money dan Kenapa Bisa Menggusur Uang Tunai?

Uang elektronik adalah istilah yang makin kerap berseliweran dalam lima tahun belakangan. Meski begitu, masih ada yang belum tahu benar apa itu uang elektronik alias e-money.

Uang elektronik adalah alat pembayaran transaksi tanpa menggunakan uang tunai, baik kertas maupun koin. Uang dalam bentuk digital disimpan di tempat penyimpanan digital pula menggunakan jaringan Internet.

Biasanya, yang menjadi perantara adalah kartu. Bisa juga telepon seluler pintar dengan teknologi NFC (near-field communication) atau koneksi server via aplikasi. Alat pembayaran elektronik yang berdasarkan server (server-based) lebih dikenal dengan sebutan e-wallet atau dompet elektronik.

Uang elektronik di Indonesia umumnya diterbitkan oleh bank. Namun ada pula yang diterbitkan oleh pihak lain, misalnya operator transportasi dan operator telekomunikasi. 

Tapi, uang elektronik keluaran bank memang biasanya lebih luas manfaatnya. Misalnya kartu E-Money yang dikeluarkan Bank Mandiri. Kartu ini dilengkapi dengan teknologi pembayaran nontunai radio frequency identification (RFID). Hanya dengan menempelkan kartu E-Money Mandiri pada alat transaksi, pembayaran bisa langsung terselesaikan.

E-Money Mandiri bisa digunakan untuk membayar tol, belanja di minimarket, hingga naik kereta komuter dan bus Transjakarta. Bahkan tiket masuk wahana bisa dibayar menggunakan uang elektronik ini.

Dasar Hukum E-Money

Bank Indonesia selaku otoritas perbankan dan transaksi finansial di Indonesia punya peraturan yang menjadi dasar hukum penggunaan uang elektronik. Yang terbaru adalah Peraturan Bank Indonesia Nomor 20/6/PBI/2018 tentang Uang Elektronik.

Peraturan ini senantiasa diperbarui sesuai dengan perkembangan terbaru. Ini berkaitan dengan program Bank Indonesia untuk mendorong cashless society alias masyarakat tanpa uang tunai.

Penggunaan uang elektronik dirasa penting untuk meningkatkan sirkulasi uang dalam perekonomian. Ketika peredaran uang meningkat, laju perekonomian bakal makin kencang. 

Bank Indonesia sendiri sudah mencanangkan Gerakan Nasional Non-Tunai pada 2014. Salah satu langkah berani dalam mendorong gerakan ini adalah penggunaan uang elektronik di semua gerbang jalan tol.

Meski sempat dikritik, kebijakan ini jalan terus. Masyarakat pun mulai merasakan manfaatnya, antara lain antrean di gerbang tol menjadi lebih pendek sehingga perjalanan bisa lebih singkat.

Uang Elektronik vs Uang Tunai

Melihat sekelumit penjelasan definisi uang elektronik di atas, tentu sudah terbayang bagaimana kemudahan yang ditawarkan. E-money adalah hasil perkembangan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.

(Baca: Mana Lebih Untung E-Money atau Kartu Debit?)

Kemunculan uang elektronik menjawab segala kerumitan yang ada ketika orang menggunakan uang tunai. Fitur yang menjadi kelebihan uang elektronik dibandingkan dengan uang tunai antara lain:

+ Mudah digunakan, hanya dengan menempelkan atau menge-tap kartu pada alat transaksi atau reader
+ Praktis dibawa ke mana-mana 
+ Transaksi bisa dilakukan lebih cepat
+ Tidak repot dengan uang kembalian
+ Tidak harus menjadi nasabah bank terkait untuk menggunakan uang elektronik yang diterbitkan bank tersebut
+ Sering ada promo khusus saat membayar memakai uang elektronik
+ Multifungsi, bisa juga untuk membayar tagihan rutin seperti listrik, air, BPJS Kesehatan, hingga pulsa

Walau demikian, ada juga kekurangan uang elektronik dibanding uang tunai, di antaranya:

- Rentan hilang 
- Bila hilang, uang elektronik berupa kartu bisa digunakan orang lain karena transaksi dilakukan tanpa PIN atau tanda tangan
- Saldo hangus jika kartu rusak
- Kartu bisa kedaluwarsa dan saldo di dalamnya hangus bila tidak digunakan dalam jangka waktu tertentu
- Ada batas maksimal saldo

Jenis Uang Elektronik

Meski mendorong penggunaan uang elektronik dalam cashless society, Bank Indonesia tak lantas membebaskan penerbitan e-money itu. Menurut peraturan Bank Indonesia, jenis uang elektronik bisa dibedakan menjadi dua berdasarkan data identitas pemegangnya:

- Uang elektronik registered

Data identitas pemegang uang elektronik ini tercatat pada penerbitnya. Batas maksimal uang yang tersimpan di dalamnya Rp 5 juta. Contoh uang elektronik ini, antara lain Go-Pay dan OVO.

- Uang elektronik unregistered

Kebalikan dari uang elektronik registered, data identitas pemegang jenis e-money ini tidak tercatat pada penerbutnya. Batas maksimal uang yang tersimpan adalah Rp 1 juta. Contohnya uang elektronik yang diterbitkan bank.

Melihat definisi uang elektronik dan jenisnya di atas, ada perbedaan dengan alat pembayaran menggunakan kartu (APMK). Selain bentuknya, perbedaan utama terletak pada pengelolaan dana di dalamnya.

Contoh APMK adalah kartu kredit dan kartu debit. Dana yang digunakan untuk membayar transaksi lewat kartu tersebut berada sepenuhnya di tangan bank. Dana baru bisa dicairkan untuk pembayaran setelah ada otorisasi dari pengguna. Otorisisasi itu berupa PIN, atau bisa juga tanda tangan jika memakai kartu kredit.

(Baca: Wajib Tahu! Ini Seluk Beluk Kartu Kredit yang Harus Dipahami)

Sementara itu, dana uang elektronik tersimpan di data uang tersebut. Tidak ada campur tangan bank di situ untuk lebih memastikan keamanan transaksi. Karena itulah harus ada izin khusus dari Bank Indonesia buat operator uang elektronik.

Dana uang elektronik berasal dari top up atau isi ulang layaknya pulsa telepon seluler. Tergantung jenisnya, top up uang elektronik bisa dilakukan via online ataupun offline.

Uang elektronik terbitan bank umumnya bisa diisi ulang lewat offline atau tanpa koneksi Internet. Di antaranya lewat mesin ATM dan minimarket.

Ada biaya top up uang elektronik di minimarket maksimum Rp 1.500. Tapi jika kamu mengisi ulang uang elektronik terbitan bank di mana kamu menjadi nasabahnya, biaya top up gratis. Misalnya isi ulang Flazz menggunakan kartu ATM BCA di Alfamart.

Dari penjelasan tentang uang elektronik itu, bisa dilihat bagaimana kelebihannya dibanding uang tunai. Menurut catatan Bank Indonesia, transaksi menggunakan uang elektronik di Indonesia tumbuh 64 persen atau sebesar Rp 11 triliun pada 2017. 

Maka tak mengherankan jika e-money bisa menggusur uang tunai dalam transaksi tertentu, terutama di wilayah perkotaan dan transaksi online. Pertumbuhan ini diperkirakan terus terjadi seiring dengan bertambahnya pengguna uang elektronik dan maraknya mal online.