usaha-lebaran

5 Inspirasi Kisah Sukses Usaha Lebaran

Ramadan dan Lebaran selalu menyisakan kisah setiap tahun. Salah satunya kisah sukses usaha Lebaran yang berjalan dengan manis.

Tak bisa dimungkiri, setiap kali datang bulan Ramadan dan Lebaran, banyak orang berlomba-lomba mendirikan usaha. Sebagian besar memang usaha kecil-kecilan, seperti lapak takjil dan kue kering.

Tapi peluang meraih sukses besar dari usaha Lebaran itu begitu lebar terbuka. Setidaknya itulah yang didapatkan beberapa orang yang telah membuktikan bahwa usaha Lebaran bukan sekadar iseng mengisi waktu luang.

Di balik usaha musiman ini, tersimpan potensi untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Berikut ini kisah sukses usaha Lebaran yang bisa dijadikan motivasi dan inspirasi buat kita semua.

1. Hendra-Risky

Suami-istri ini awalnya hanya pekerja kantoran biasa. Hendra adalah karyawan sebuah kantor di kawasan Sudirman, Jakarta. Sedangkan Risky sang istri guru bahasa Inggris di sekolah kelompok bermain di Bintaro.

Merasa penghasilan pas-pasan dari kedua pekerjaan itu, mereka putar otak untuk menambah penghasilan. Risky yang hobi membuat kue lantas menjual kue bikinannya dengan cara dititipkan ke warung. Tapi keuntungannya cuma Rp 100-200 dari setiap kue yang terjual.

Hendra tak habis akal. Dia menitipkan kue buatan istrinya ke koperasi kantor tempatnya bekerja. Dari sini usaha kue itu tampak menemukan titik terang, tapi tetap saja belum cukup.

Akhirnya tibalah momen Ramadan yang menginspirasi Hendra-Risky membuat dan memasarkan kue Lebaran. Roda pun berputar. Hendra, yang ahli dalam bidang pemasaran digital, bergerilya menawarkan kue-kue itu secara online.

Mereka tak kenal lelah meski harus kerap begadang membuat dan menyiapkan kue, berpuasa, lalu bekerja esok harinya. Singkat cerita, usaha kue Lebaran mereka berhasil.

Seusai Lebaran, Hendra mengembangkan sayap bisnisnya dengan memasarkan busana muslim wanita. Bahkan ia rela berhenti bekerja untuk berfokus pada bisnis itu, sementara sang istri masih menjadi guru.

Bisnis busana muslim ini pun berhasil. Dari hanya Rp 950 ribu, omzet bisnis ini menanjak naik hingga tembus Rp 70-80 juta per bulan. Risky pun ikut resign untuk full time jadi pengusaha.

Awalnya Risky ragu apakah bisnis Lebaran itu bisa bertahan. Namun berkat kerja keras dan ketekunan sejoli itu, usaha tersebut bisa menjadi lumbung utama yang memberikan penghasilan lebih besar daripada kerja kantoran.

2. Rosidah Widya Utami

usaha lebaran

 

Donat Kampung Utami, sebuah usaha rumahan asal Jombang, Jawa Timur, adalah kisah sukses usaha Lebaran lain. Rosidah Widya Utami, pemilik sekaligus pengelola usaha ini, memang tidak khusus membuka usaha ini untuk menyambut Lebaran.

Tapi dia cermat memanfaatkan momen Lebaran untuk menggenjot omzet usahanya. Donat Kampung Utami memilik produk utama berupa donat. Tapi ada juga kue kering yang laris manis saat Lebaran tiba.

Menurut Rosidah, omzet usahanya bisa Rp 1 miliar lebih saat bulan puasa dan Idul Fitri. “Kerja dua bulan, hasilnya bisa untuk dimakan dua tahun,” katanya seperti dikutip dari detikFinance.

Dari Jombang, donat dan kue “kampung” lain produksi Rosidah melanglang buana hingga Kalimantan, Sumatera, bahkan Malaysia, Singapura, dan Hong Kong. Pernah suatu kali dia terpaksa menolak sebagian pesanan kue Lebaran karena tenaga di dapurnya tak memadai.

Tak tanggung-tanggung, pesanan yang ditolak itu bernilai Rp 300-400 juta. Rosidah menerangkan, kunci sukses usahanya adalah memberikan layanan dan kualitas terbaik kepada pelanggan.

Rosidah memang ditempa pengalaman sebagai pengusaha kue kampung sejak muda. Dari kue Lebaran, dia pun kini sudah bisa mengelola rumah makan, toko oleh-oleh, bahkan bisnis fashion dan perhiasan.

(Baca: 6 Ide Usaha Bulan Puasa yang Beda, Nambah Berkah!)

3. Krisna Adi-Ani Sugianti

Sejoli lain juga memiliki kisah sukses usaha Lebaran. Krisna dan Ani mulanya adalah buruh migran alias tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.

Mereka pernah dua kali berangkat ke Taiwan sebagai TKI. Ani berhenti menjadi TKI setelah keberangkatan kedua itu. Dia memutuskan tinggal di Dusun Jatisari, Desa Wringin Agung Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur. Begitu juga Krisna, yang membuka usaha penjemputan TKI.

Merasa bosan karena kegiatannya minim sehari-hari, Ani mencoba-coba membuat kue untuk dijual. Ani tak punya background kuliner. Maka dia belajar membuat kue memanfaatkan media sosial kekinian: YouTube.

Karena itulah Ani berkali-kali gagal membuat kue yang enak. Bahan kue berkilo-kilo pernah mubazir karena kue tak termakan. Krisna pun sempat meminta Ani berhenti saja.

Untung Ani tak memenuhi permintaan itu. Sebab, usaha kue Lebaran Ani berkembang pesat. Memanfaatkan status sebagai mantan TKI, Krisna dan Adi berhasil mendapat pelanggan dari kalangan buruh migran terutama di Taiwan.

Kini para pahlawan devisa itu menjadi pasar utama usaha kue Lebaran Ani dan Krisna, yang tetap laku meski tidak dalam momen puasa dan Idul Fitri. Pelanggan lokal pun terus berdatangan. Tak lupa mereka mempekerjakan para eks TKI dalam bisnis tersebut sekaligus menjadi ikhtiar untuk memberdayakan warga lokal, terutama buruh migran.

4. Desmawita

usaha lebaran

 

Perempuan Jakarta ini awalnya hanya mencoba-coba menjadi pengusaha baju gamis. Dia menawarkan gamis rancangannya langsung kepada para pengunjung Pasar Tanah Abang.

Tak dinyana, usaha khas Lebaran itu berbuah manis. Banyak yang tertarik dan akhirnya membeli gamis-gamis karyanya. Padahal mulanya Desmawita membeli sebuah ruko kecil di Tanah Abang sebagai investasi.

Dia sudah bekerja sebagai pegawai kantoran yang mengurusi keuangan. Ide membuka usaha mampir ke benaknya saat melihat ruko yang ia beli sudah selesai direnovasi untuk disewakan.

Ruko itu ia sulap menjadi lapak untuk memasarkan gamis yang ia rancang dan jahit sendiri. Dia bekerja bersama anaknya dan beberapa karyawan.

Saat Ramadan, pendapatan usaha Desmawita bisa naik hingga 100 persen dari hari biasa. Ini tak aneh, mengingat gamis rancangannya sudah masuk ke pusat belanja elite dan butik di mal-mal Ibu Kota.

5. Salmah

Mungkin tak ada yang menyangka bahwa ibu ini dulu hanyalah buruh usaha paket Lebaran. Salmah, seorang ibu asal Bogor, Jawa Barat, telah sukses menjalankan usaha berupa paket Lebaran.

Dengan pengalaman menjadi buruh paket Lebaran selama tiga tahun, Salmah memberanikan diri membuka usaha paket Lebaran sendiri. 

Kesuksesan Salmah tak lepas dari pendanaan sebuah lembaga untuk usaha di desa. Pinjaman ini menjadi tulang punggung karena minimnya modal yang ia miliki. Dari pinjaman modal usaha itu, Salmah berusaha membalik nasibnya menjadi pengusaha.

Saat mengawali usahanya pada 2007, Salmah harus datang ke tiap-tiap rumah untuk menawarkan paket Lebaran. Dari hanya sepuluh, pesanan paket Lebaran Salmah melonjak hingga ratusan berkat ketekunannya merintis bisnis tersebut.

Kini Salmah tak hanya menggeluti usaha paket Lebaran yang bersifat musiman. Dia juga membuka bisnis memasang manik-manik atau payet pada baju kebaya. Dari usaha itu, Salmah sudah bisa memiliki sepeda motor sendiri, tabungan pendidikan anak, dan dana untuk merenovasi rumahnya.

(Baca: 5 Peluang Bisnis Unik di Indonesia, Omzet Puluhan Juta!)

Lima kisah sukses yang dihimpun dari liputan sejumlah media itu bisa jadi hanya segelintir dari banyak kisah sukses lain. Di luar sana, pasti masih ada usaha Lebaran yang berhasil tapi luput dari pantauan media.

Bisa jadi salah satunya kelak adalah kamu. Sekelumit kisah di atas bisa menjadi batu loncatan untuk menggali lebih lanjut bagaimana kesuksesan bisa diraih mereka dari usaha Lebaran.