Biaya pernikahan

4 Jurus Jitu Siapkan Biaya Pernikahan Kurang dari Setahun

Ingin menikah tahun depan, tapi cemas biaya pernikahan belum terkumpul. Bisakah menyiapkan biaya pernikahan kurang dari satu tahun? Jawabannya bisa.

Siapa pun tentu mengidamkan momen pernikahan yang berkesan. Sebagai peristiwa sekali seumur hidup, pesta pernikahan menjadi momen spesial yang begitu dinantikan.

Menciptakan momen spesial memang tak berarti semuanya harus jadi serba mewah dan mahal.  Meski begitu, sepertinya sudah jadi rahasia umum bahwa biaya pernikahan di Indonesia relatif mahal. Apalagi, bagi para pengantin yang berdomisili di ibu kota dan kota-kota besar lainnya.

Berdasarkan data yang dirilis Bridestory, rata-rata biaya pernikahan pada tahun 2016 untuk 350-500 tamu sebesar Rp 275-400 juta. Sementara untuk 500-1000 tamu membutuhkan biaya hingga Rp 400-750 juta.

Umumnya, rata-rata vendor pernikahan menaikkan harga 10-20 persen tiap tahun. Alhasil, tiap tahunnya biaya pernikahan semakin membengkak.

Tak heran, banyak konsultan perencana keuangan yang menyarankan untuk mempersiapkan biaya pernikahan jauh-jauh hari, bahkan sebelum tanggal pernikahan ditentukan.

Lalu, bagaimana jika rencana pernikahan ingin diselenggarakan kurang dari 12 bulan lagi? Dalam waktu kurang dari satu tahun, bisakah mengumpulkan dana untuk mewujudkan pernikahan impian?

Tak perlu cemas jika kamu baru berniat menyiapkan biaya pernikahan sekarang. Target menikah tahun 2019 bisa tetap diwujudkan dengan melakukan empat langkah di bawah ini. Biar lebih mantap, siapkan alat tulis atau gadget untuk mencatat.

Langkah 1: buat anggaran secara terperinci

Tak ada angka yang pasti mengenai biaya pernikahan yang perlu disiapkan. Besarnya biaya pernikahan tergantung kepada pilihan calon pengantin serta keluarga kedua belah pihak.

Zaman sekarang, bukan hal aneh jika acara pernikahan disiapkan sendiri oleh calon pengantin (capeng). Bujet yang tersedia mungkin tak sebanyak jika dibantu orangtua, namun capeng dapat merencanakan pernikahannya dengan lebih leluasa.

Meski begitu, sebaiknya tetap diskusikan dengan keluarga sebelum membuat anggaran pernikahan. Apakah ingin dilaksanakan secara tradisional atau bertema nasional? Apakah ingin mengundang tamu dalam jumlah besar atau hanya mengundang kerabat dekat?

Pernikahan modern bertema nasional umumnya menggunakan anggaran yang lebih sedikit dibanding pernikahan tradisional yang memiliki sederet ritual tambahan.

Selanjutnya, buatlah perkiraan biaya yang diperlukan untuk pos-pos penting dalam biaya pernikahan, berikut ini:

1. Lokasi pernikahan

a. Tentukan kapasitas

Sudah tahu berapa jumlah tamu yang akan diundang? Hal ini penting karena akan mempengaruhi kapasitas lokasi resepsi yang diperlukan. Tempat yang terlalu kecil bisa membuat tamu undangan merasa sesak, sementara tempat yang terlalu besar akan membuat pesta terasa sepi.

b. Tentukan venue

Ada beragam jenis venue pernikahan yang bisa dipilih, yaitu rumah, ballroom hotel, gedung serbaguna, masjid, vila, rumah serbaguna, hingga taman terbuka.

Menyelenggarakan pesta di rumah bisa lebih hemat karena tidak diperlukan biaya sewa. Namun, keluarga mungkin menjadi lebih lelah karena harus menjamu tamu lebih lama. Sementara, menyelenggarakan pesta di hotel jauh lebih praktis, namun biaya yang diperlukan menjadi lebih tinggi.

Jika bujet terbatas, kamu bisa menyewa gedung serbaguna atau di ruang serbaguna masjid. Pada dua jenis venue tersebut, kamu masih bisa menemukan banyak pilihan lokasi dengan biaya sewa di bawah Rp 10 juta.

c. Indoor atau outdoor?

Selain kapasitas, tema pernikahan juga menentukan lokasi dan biaya yang dibutuhkan. Bujet pernikahan untuk menyewa venue indoor ataupun outdoor sebetulnya tak jauh berbeda.

Namun, umumnya terdapat biaya-biaya tambahan jika ingin mengadakan pesta outdoor. Misalnya, jika kamu ingin mengadakan pesta di malam hari di lokasi outdoor, kamu harus memperhitungkan biaya penerangan tambahan. Selain itu, jika pesta diadakan di musim penghujan, pertimbangkan untuk menyewa tenda tambahan atau bujet untuk menggunakan jasa pawang hujan.

2. Katering

Alokasi bujet katering adalah biaya terbesar dalam resepsi pernikahan. Rumus standar untuk menghitung makanan yang dibutuhkan adalah dengan menghitung jumlah undangan menjadi dua kali lipat. Sebab, banyak tamu undangan yang membawa pasangan atau kerabat saat mendatangi pesta pernikahan.

Dilansir dari Detik, Putri Ariana, founder The Bride Dept, menyarankan untuk membagi porsi makanan antara menu prasmanan dengan menu gubukan menggunakan rasio 60:40. Artinya, jika tamu undangan sebanyak 500 orang, maka porsi yang perlu dipesan adalah 1.000 porsi dengan pembagian 600 porsi untuk menu prasmanan dan 400 porsi untuk menu gubukan.

Perhitungan ini sudah jauh lebih dari cukup, sebab dari 500 tamu undangan, sangat jarang 100 persen undangan yang akan datang.

Biaya katering di ibu kota untuk 500 tamu undangan atau 1.000 porsi mulai dari Rp 50 jutaan.

3. Dekorasi

Ada dua faktor utama yang menentukan biaya dekorasi pernikahan, yaitu venue dan tema pernikahan. Semakin luas lokasi pernikahan, semakin tinggi biaya dekorasinya. Selain itu, jika tema pernikahan yang dipilih memerlukan bunga segar dalam jumlah banyak, biayanya tentu jadi semakin mahal.

Kisaran biaya dekorasi untuk lokasi indoor di Jakarta mulai dari Rp 5 hingga puluhan juta. Sementara untuk lokasi outdoor umumnya mulai dari belasan juta rupiah.

4. Busana dan rias pengantin

Meski hanya dipakai dalam hitungan jam, biaya busana pengantin juga bisa menguras kantong. Untuk capeng yang ingin membuat busana sendiri, bujet yang dibutuhkan mulai dari Rp 5 jutaan. Ditambah dengan biaya rias, dana yang diperlukan dapat mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah.

Jika ingin menekan anggaran, kamu bisa menyewa busana sepaket dengan jasa rias. Biaya yang diperlukan mulai dari Rp 7 juta, termasuk busana dan rias orangtua, serta penerima tamu.

5. Dokumentasi

Biaya dokumentasi meliputi foto pre-wedding hingga foto dan video prosesi pernikahan. Jasa fotografi pernikahan di Jakarta mulai dari satu hingga belasan juta rupiah. Saat memilih vendor, perhatikan isi paket yang disediakan agar tak terkena biaya tambahan lainnya.

6. Cincin pernikahan dan seserahan

Pertimbangkan waktu pembelian cincin atau emas kawin. Membeli jauh-jauh hari atau saat harga emas lagi turun tentunya bisa mendapat harga yang lebih terjangkau.

Membeli cincin yang terpajang di etalase toko dapat menghemat bujet dibanding membeli cincin custom. Tapi, tak ada salahnya jika kamu telah memiliki desain cincin pernikahan sendiri.

7. Undangan dan suvenir

Untuk pernikahan dengan bujet terbatas, kamu bisa menekan alokasi bujet undangan dan suvenir. Saat ini telah banyak kok jasa kartu undangan pernikahan mulai dari Rp 1.000 per   undangan.

8. Biaya administrasi dan lain-lain

Biaya administrasi meliputi biaya pendaftaran di KUA dan jasa penghulu. Akad nikah atau biaya nikah di KUA pada hari dan jam kerja tidak dikenakan biaya alias gratis. Sementara di luar jam kerja akan dikenakan biaya sebesar Rp 600 ribu.

Selain sejumlah pos di atas, untuk berjaga-jaga sebaiknya siapkan pula dana darurat sebesar 20 persen dari total bujet.

Langkah 2: hitung sumber dana

Setelah tahu perkiraan biaya yang diperlukan, selanjutnya hitung berapa dana yang bisa disiapkan secara realistis.

Contohnya, jika saat ini penghasilanmu sebesar Rp 10 juta dan pasanganmu Rp 7 juta. Jika dalam sebulan kalian bisa menyisihkan 30 persen dari penghasilan, maka dalam setahun kalian dapat mengumpulkan sekitar Rp 61,2 juta.

Sumber lainnya dapat berasal dari bonus tahunan, tunjangan gaji, sumbangan orangtua, atau bahkan hasil menjual aset pribadi.

Langkah 3: tambah sumber dana pernikahan

Jika anggaran biaya pernikahan masih jauh di atas perkiraan dana yang dimiliki, tak perlu berkecil hati.

Tak ada salahnya berkorban sebentar untuk menyiapkan biaya pernikahan. Mulailah menekan pengeluaran harian agar porsi tabungan pernikahan bisa diperbesar. Kamu bisa mulai membawa bekal, serta mengurangi makan di restoran.

Tahan diri untuk membeli barang-barang baru yang tak terlalu diperlukan. Dengan begitu kamu bisa mengalokasikan tabungan hingga 50 persen gaji.

Selain berhemat, upayakan untuk bisa menambah pemasukan. Caranya bisa dengan mencari pekerjaan sampingan atau penghasilan tambahan. Selain itu, menyimpan dana dalam instrumen investasi juga bisa dilakukan. Pilihlah instrumen investasi jangka pendek yang minim risiko, seperti deposito atau reksadana pasar uang.

Langkah 4: perketat bujet pernikahan

Ada banyak cara menekan bujet pernikahan. Salah satunya dengan memilih paket pernikahan. Paket pernikahan umumnya telah mencakup katering, venue, busana dan rias pengantin, dokumentasi, hiburan, hingga dekorasi.

Perhitungan paket pernikahan jauh lebih hemat dibanding memilih vendor secara terpisah. Persiapan yang diperlukan pun bisa lebih praktis karena kamu tak perlu menentukan satu persatu vendor yang diperlukan.

Jika tak benar-benar diperlukan, hindari penggunaan jasa wedding planner dan rencanakan pesta pernikahan yang kamu impikan bersama pasangan.

Luangkan waktu untuk melakukan riset sebanyak-banyaknya. Alih-alih tergoda dengan tampilan menarik sejumlah vendor pernikahan di media sosial, sebaiknya carilah review para pengguna jasa vendor di forum ataupun blog-blog pribadi.

Terakhir, tak perlu sungkan untuk bertanya pada teman atau kerabat yang telah lebih dulu menyelenggarakan pesta pernikahan.

(Baca: 4 Produk Asuransi yang Wajib Dimiliki oleh Keluarga)

Bolehkah berutang untuk biaya pernikahan?

Setelah melakukan perhitungan dengan seksama, ternyata dana biaya nikah masih tak mencukupi. Saat ini tersedia beragam fasilitas pinjaman tanpa agunan yang bisa diperuntukkan untuk “menambal” biaya pernikahan.

Pertanyaannya, amankah berutang untuk biaya resepsi pernikahan?

Banyak pakar keuangan yang tak menyarankan berutang untuk pesta pernikahan. Sebab, biaya yang diperlukan oleh pengantin baru bukan untuk pesta semata. Masih banyak anggaran yang perlu disiapkan selepas resepsi, seperti bulan madu, tempat tinggal, dana persiapan anak, biaya melahirkan, dan sejumlah biaya lainnya.

Jika hari pertama sebagai pengantin baru saja sudah pusing memikirkan cicilan utang, bagaimana dengan persiapan dana untuk sejumlah tujuan keuangan lainnya?

Ah, tenang saja kan ada uang angpau.

Eits, sebaiknya jangan pernah “mengandalkan” uang angpau untuk menutup kekurangan biaya resepsi. Sebab, tak ada jaminan uang yang didapatkan akan memadai.

Alih-alih berutang untuk resepsi pernikahan, lebih baik sesuaikan acara pernikahan sesuai bujet yang dimiliki. Jika ingin melebihkan bujet pada satu pos pengeluaran, pastikan menghemat bujet pada pos lain.

Misalnya, kamu bisa memilih vendor katering yang harganya sedikit lebih mahal, sebagai gantinya pilih venue dan dekorasi yang sederhana dan berharga minim.

Lalu, bagaimana jika sudah terlanjur berutang untuk pesta pernikahan?

(Baca: Waspada, Ini 4 Dampak Negatif Perceraian terhadap Finansial)

Jika kondisi benar-benar mendesak sehingga tak bisa menghindari utang, alokasikan cicilan utang maksimal 30 persen dari total penghasilan. Jika diperlukan, jual aset yang dimiliki agar utang dapat segera terlunasi. Selanjutnya, perbaiki gaya hidup agar mudah lepas dari jeratan utang dan tak jerjebak utang kembali.

Perlahan tapi pasti, siapkan juga dana darurat keluarga, agar saat kebutuhan tak terduga datang kamu masih punya cadangan dana dan tidak mengandalkan fasilitas pinjaman.

Sebaiknya, siapkan biaya pernikahan jauh-jauh hari agar terasa lebih ringan. Anggarkan sesuai kemampuan agar usai pesta tak pusing memikirkan cicilan.