Investasi Reksadana

Untung Maksimal dari Investasi Reksadana, Begini Caranya

Bermodalkan sisa bonus akhir tahun, Budi mulai mencoba investasi reksadana. Dari kabar yang Budi dengar, investasi reksadana menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibanding tabungan emas, apalagi jika dibandingkan dengan bunga deposito. 

Dulu, Budi pikir perlu bujet yang besar untuk bisa mulai berinvestasi. Ternyata, dengan modal kurang dari Rp 1 juta saja, Budi sudah bisa investasi reksadana.

Sebagai investor, Budi pun tak perlu khawatir dan merasa kerepotan, sebab modal investasi miliknya dikelola secara profesional oleh manajer investasi yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ibaratnya, Budi tinggal duduk manis, dan cuan pun tetap datang dengan sendirinya.

Tak heran, jika instrumen investasi reksadana kini banyak dilirik masyarakat, terutama para investor pemula. Tapi, apa sih investasi reksadana itu?

Bagi yang belum tahu, reksadana merupakan wadah investasi dalam bentuk dana kolektif dari masyarakat atau investor. Dana ini akan dikelola oleh manajer investasi, yaitu perusahaan yang telah mendapatkan izin dari OJK untuk mengelola dana melalui produk-produk pasar uang dan pasar modal atau sering disebut sebagai portofolio efek. Portofolio efek ini dapat berupa saham, obligasi, atau deposito. 

Membeli investasi reksadana dapat diibaratkan bagai membeli makanan yang diracik oleh juru masak alias manajer investasi. 

Sebagai koki, manajer investasi akan menentukan dan mengolah bahan-bahan dari makanan yang dipesan. Dalam investasi reksadana, portofolio efek itulah “bahan-bahannya”. 

Artinya, dalam satu reksadana dapat terdiri dari gabungan obligasi, saham, atau deposito, tergantung kepada jenis reksadana yang kita pesan, serta analisa manajer investasi sebagai pengolahnya.

Jenis-jenis reksadana

Seperti menu makanan, reksadana pun ada beragam macamnya. Berdasarkan penempatan dananya, reksadana terdiri dari reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, dan reksadana saham. 

Tiap jenis reksadana memiliki potensi imbal hasil dan risiko yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, sebelum mulai investasi reksadana, perlu memahami jenis reksadana yang sesuai kebutuhan. Untuk lebih jelasnya, yuk simak ulasannya berikut ini.

1. Reksadana pasar uang

Reksadana pasar uang adalah jenis reksadana yang seluruh dananya ditempatkan di pasar uang, yaitu deposito, SBI (Sertifikat Bank Indonesia), atau obligasi dengan masa jatuh tempo kurang dari satu tahun.

Dibandingkan jenis reksadana lainnya, reksadana pasar uang punya risiko lebih rendah, tapi potensi keuntungan juga tidak terlalu besar atau bergerak stabil.

Jenis reksadana ini cocok untuk investor dengan profil risiko sangat konservatif atau investor yang menyukai instrumen investasi yang aman dan takut jika modal investasi berkurang.

2. Reksadana pendapatan tetap

Reksadana pendapatan tetap merupakan reksadana dengan komposisi sedikitnya 80 persen berupa obligasi yang jatuh temponya di atas satu tahun. Sesuai namanya, reksadana ini secara konsisten memberikan pembayaran bunga atau kupon yang biasanya diinvestasikan kembali oleh manajer investasi untuk menambah keuntungan reksadana.

Dibandingkan reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap menawarkan imbal hasil yang lebih menguntungkan. Namun, pergerakan harga obligasi tidak bisa dijamin pasti akan selalu naik. Selain itu, obligasi juga memiliki risiko wanprestasi atau gagal bayar dari penerbit obligasi terkait.

Dengan begitu, reksadana ini cocok untuk investor dengan profil risiko konservatif hingga moderat. Biasanya, investasi di reksadana pendapatan tetap memiliki jangka waktu 1-3 tahun.

3. Reksadana campuran

Sesuai namanya, reksadana campuran terdiri dari tiga jenis instrumen, yaitu saham, obligasi, dan pasar uang, secara bersamaan. Potensi keuntungan yang didapatkan tentu lebih tinggi dibanding reksadana pendapatan tetap, namun risikonya juga lebih tinggi.

Porsi tiap-tiap instrumen pada reksadana campuran dapat disesuaikan dengan profil risiko investor. Misalnya, untuk investor dengan profil risiko moderat hingga cenderung agresif atau berani mengambil risiko tinggi, komposisi saham bisa ditempatkan jauh lebih besar dibandingkan instrumen lainnya.

Untung keuntungan optimal, reksadana campuran umumnya memiliki jangka waktu investasi antara 3-5 tahun.

4. Reksadana saham

Reksadana saham punya potensi keuntungan paling besar dibanding jenis reksadana lainnya, begitu pun dengan tingkat risikonya. Sebab, pada reksadana ini, setidaknya 80 persen dana ditempatkan pada instrumen pasar modal atau saham. 

Seperti yang kita tahu, pergerakan harga saham cenderung fluktuatif, sehingga reksadana ini cocok untuk investor yang berani ambil risiko alias punya profil risiko agresif.

Umumnya, investasi di reksadana saham dilakukan dalam jangka panjang atau lebih dari lima tahun.

Keuntungan investasi reksadana

Masih belum yakin untuk mencoba investasi reksadana? Mari simak dulu tujuh keuntungan investasi reksadana, berikut ini.

1. Modal terjangkau dan imbal hasil menguntungkan

Bagi investor muda, investasi reksadana layak dicoba. Sebab, modal yang dibutuhkan cukup terjangkau. Bahkan, beberapa situs e-commerce di Indonesia, seperti Bukalapak dan Tokopedia, menawarkan penempatan investasi reksadana mulai dari Rp 10 ribu.

Dengan strategi yang tepat, keuntungan investasi reksadana pun cukup menarik. Dilansir dari Kompas, rata-rata imbal hasil reksadana saham selama 2006-2016 adalah sebesar 18,21 persen per tahun. 

2. Cocok untuk pemula karena dikelola oleh ahlinya

Pengelolaan dana investasi reksadana dilakukan oleh manajer investasi. Dengan begitu, kamu tak perlu repot menganalisa instrumen yang ingin ditempatkan. Manajer investasi tentunya telah mendapat izin dan berada di bawah pengawasan OJK. Selain itu, mereka pastinya lebih mengerti pasar dan lebih ahli soal investasi dibandingkan kita.

3. Adanya diversifikasi risiko

Adanya penyebaran dana ke dalam beberapa instrumen atau diversifikasi pada reksadana secara tak langsung membuat kemungkinan terjadinya risiko jadi lebih rendah.

Misalnya, reksadana saham tidak menempatkan seluruh dana hanya dalam satu saham perusahaan, melainkan lebih dari lima atau bahkan belasan.

Dengan begitu, jika satu harga saham turun, kamu tak perlu terlalu khawatir sebab masih ada sejumlah saham lain yang mungkin memberi keuntungan.

4. Transparan

Sekalipun tidak mengelola secara langsung, kamu tetap bisa mengetahui perkembangan portofolio yang kamu punya. Bahkan, kamu bisa memantau keuntungan, biaya, dan risiko secara online.

5. Proses pembelian mudah

Untuk membeli reksadana, kamu bisa mendatangi agen penjual reksadana (APERD) yang terdaftar, seperti bank atau perusahaan sekuritas. Malas ke luar rumah? Tenang, membeli reksadana pun bisa dilakukan secara online.

Pembelian reksadana secara online dapat dilakukan di POEMS, IPOTFUND, Bareksa, atau melalui e-commerce, seperti BukaLapak dan Tokopedia.

6. Aman

Selama investasi reksadana dilakukan di perusahaan manajer investasi yang terpercaya, tak perlu takut uangmu dilarikan. Sebab, dana yang disetor akan disimpan di rekening bank khusus yang dikenal sebagai bank kustodian.

7. Likuiditas tinggi

Instrumen investasi dengan likuiditas tinggi memungkinkan kamu sebagai investor untuk mencairkan aset yang kamu punya kapan pun, sesuai ketetapan investasi reksadana. Dengan begitu, kamu tak perlu cemas jika memerlukan dana mendesak dan perlu mencairkan aset investasimu.

Cara investasi reksadana untuk pemula

Bagaimana? Sudah mulai yakin untuk mencoba investasi reksadana? Eits, tunggu dulu. Sebelum mulai berinvestasi, pahami dulu enam cara investasi reksadana untuk pemula, berikut ini.

1. Tentukan tujuan investasi

Apa tujuan investasimu? Untuk dana pendidikan, liburan, beli rumah atau modal nikah? Setiap tujuan punya jangka waktu dan profil risiko yang berbeda.

Misalnya, jika tujuan investasi adalah modal nikah untuk dua tahun lagi, instrumen investasi yang dipilih sebaiknya yang berisiko rendah dan punya jangka waktu pendek, seperti reksadana pasar uang atau pendapatan tetap.

2. Tentukan jangka waktu investasi

Jika sudah punya tujuan investasi, kamu bisa langsung menetapkan jangka waktu investasi. Selanjutnya, pilihlah reksadana dengan jangka waktu yang sesuai dengan kebutuhanmu itu.

Misalnya, jika kamu ingin mengumpulkan dana untuk membeli rumah dalam tujuh tahun ke depan, kamu bisa memilih investasi reksadana campuran atau investasi reksadana saham.

3. Kenali profil risiko

Profil risiko adalah tingkat toleransi terhadap risiko atau sejauh mana seorang investor dapat menerima kemungkinan hilangnya dana investasi demi mendapatkan potensi imbal hasil yang lebih tinggi.  

Investor dengan profil risiko konservatif cenderung memilih instrumen yang aman sekalipun keuntungan yang didapat tak terlalu besar. Sebaliknya, investor dengan profil risiko agresif berani kehilangan sebagian besar dana investasi demi potensi imbal hasil yang tinggi.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, tiap jenis investasi reksadana punya tingkat risiko dan potensi keuntungan berbeda. Oleh sebab itu, pilih jenis investasi reksadana yang sesuai dengan profil risikomu.

4. Cari dan pilih manajer investasi terpercaya

Karena dana investasi dikelola oleh manajer investasi, tak bisa sembarangan memilih manajer investasi. Pilihlah manajer investasi yang terpercaya dengan rekam jejak yang baik dan pastikan telah terdaftar dan diawasi oleh OJK. 

5. Pelajari dan pahami prospektus reksadana

Prospektus adalah dokumen penting yang memuat informasi yang terkait reksadana, seperti perihal perizinan, manajer investasi, biaya-biaya, kebijakan investasi, serta cara pembelian dan penjualan reksadana.

Sebagai investor, saat membaca prospektus setidaknya harus memahami informasi mengenai bank kustodian dan nomor rekening reksadana (investasi bodong umumnya tidak menggunakan bank kustodian), biaya reksadana, jenis dan kebijakan reksadana, risiko reksadana, serta informasi mengenai hak investor.

Selain prospektus, investor juga harus melihat fund fact sheet yang berisi gambaran singkat mengenai portofolio reksadana dan historis kinerjanya sebagai bahan pertimbangan sebelum berinvestasi.

7. Perhitungkan biaya-biaya reksadana

Selain dana untuk modal investasi, terdapat sejumlah biaya yang perlu disiapkan. Biaya-biaya tersebut meliputi, biaya pembelian unit penyertaan (subscription fee), biaya penjualan kembali unit penyertaan (redemption fee), biaya pengalihan unit penyertaan (switching fee), dan biaya transfer bank terkait.

Besarnya biaya bervariasi tergantung kepada agen penjual reksadana terkait. Namun, pastikan biaya tersebut tidak berbeda dengan yang tercantum pada prospektus yang telah dipelajari sebelumnya.

(Baca: Ini 5 Investasi Terbaik 2019 yang Direkomendasikan Para Ahli)

Investasi reksadana saham vs investasi saham

Kamu mungkin sudah tak asing dengan istilah investasi saham. Kabarnya, investasi saham menawarkan imbal hasil yang lebih menguntungkan dibanding investasi reksadana saham. Benarkah begitu? 

Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita perlu paham dulu perbedaan antara investasi reksadana saham dan investasi saham. Sebab, perbedaan inilah yang akan berdampak pada risiko dan imbal hasil yang dimiliki.

Pada investasi reksadana, ada manajer investasi yang mengelola dana investor. Sementara, pada instrumen saham, kamu sebagai investorlah yang mengelola portofolio yang dimiliki. 

Akibatnya, keuntungan dari investasi reksadana pun akan dipotong komisi manajemen investasi dan komisi bank kustodian. Berbeda dengan investasi saham yang keuntungannya tak terpotong komisi.

Dalam hal ini, investasi saham jadi jauh lebih untung dibanding investasi reksadana. Ditambah lagi, investor saham juga berhak memperoleh dividen yang dibagikan oleh perusahaan meskipun saham yang dimiliki hanya satu lot.

Di sisi lain, untuk berinvestasi saham kamu harus mengelola portofolio, termasuk menentukan dan melakukan pembelian saham sendiri. Mau tak mau kamu harus mampu menganalisa saham mana yang berpotensi memberikan keuntungan tinggi.

Selain itu, investasi reksadana tersedia dalam beberapa jenis yang bisa dipilih sesuai dengan jangka waktu yang diperlukan, mulai dari jangka waktu pendek hingga jangka waktu panjang di atas lima tahun. Sementara, investasi saham cenderung dipilih sebagai investasi jangka panjang. 

Dengan kata lain, investasi saham cocok untuk investor yang berani mengambil risiko serta memiliki tujuan investasi jangka panjang. Ditambah lagi, investor harus sudah bisa menganalisa pergerakan saham dan mekanisme jual-beli saham di pasar modal.

Bagaimana denganmu? Tertarik mencoba investasi reksadana atau tergiur imbal hasil yang lebih tinggi dari investasi saham?  Apa pun pilihanmu, tak perlu lama ditunda. Tahun 2019 ini saatnya jadi investor!