pemilu-2019

Pemilu 2019, Ini Rekomendasi Saham dan Industri yang Moncer

Peristiwa politik selalu mempengaruhi kondisi pasar saham dan sektor industri di belahan dunia mana pun. Tak terkecuali di Indonesia, yang akan menghadapi Pemilu 2019 pada April tahun ini.

Ada kekhawatiran bahwa ekonomi akan gonjang-ganjing gara-gara pemilu. Itu hal yang wajar. Tapi, di sisi lain, tidak sedikit yang optimistis bahwa pasar saham dan industri tetap akan moncer alias berkibar pada tahun politik ini.

Menurut Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi, tren indeks harga saham gabungan (IHSG) tetap naik saat pemilu tahun 2004, 2009, dan 2014. Hal itu dikatakan Inarno dalam wawancara dengan KataData.

Macquarie, grup perusahaan riset sekuritas asal Australia, juga menyebutkan IHSG cenderung bergerak positif meski pada tahun ini tak sekencang sebelumnya. IHSG bahkan sanggup melampaui kinerja indeks negara berkembang lain saat momen pemilu.

Dalam laporan riset Macquarie, pembeli saham paling tidak enam bulan sebelum pemilu akan mendapat keuntungan terbesar. Prospek kenaikan harga saham yang dibeli berkisar antara 7-39 persen. Menurut laporan yang sama, saham yang akan banyak membetot perhatian adalah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)

Diprediksi, terdapat potensi kenaikan saham sampai 15 persen pada keduanya, yang dipandang berkualitas dan merupakan unggulan di sektor masing-masing.

Saham lain yang diprediksi moncer saat Pemilu 2019 adalah saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT United Tractors (UNTR), PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP), PT Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO).

(Baca: Cara Investasi Saham untuk Raih Untung Maksimal)

Potensi peningkatan masing-masing saham tersebut mencapai 36 persen. Keuntungan terutama diperoleh karena perusahaan-perusahaan itu menjalankan bisnis yang berkaitan dengan ekspor. Karena itu, melemahnya rupiah akan menguntungkan mereka.

Pantau Saham Perbankan dan Konsumsi

Hal serupa diungkapkan analis Kresna Sekuritas, William Mamudi. Menurut dia, peningkatan kinerja IHSG saat pemilu umumnya disebabkan oleh saham blue chips.

Dia juga memprediksi saham dalam daftar indeks LQ45 akan menunjukkan kinerja bagus. Peluang kenaikan indeks diprediksi William mencapai 5 persen. Jenis saham yang dinilai lumayan bagus adalah saham sektor perbankan dan konsumsi. 

BBCA dan UNVR contohnya. Karena itu, investor disarankan memaksimalkan investasi di dua sektor yang menunjang kapitalisasi pasar IHSG tersebut.

William menyarankan investor menghindari investasi jangka pendek, apalagi trading. Sebab, pada saat pemilu, volatilitas cukup tinggi. Dia menganjurkan pembelian saham yang diprediksi moncer itu dengan mencicil hingga akhir 2019.

Sementara itu, Aditya Perdana Putra, analis Semesta Indovest Sekuritas, melihat saham yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi akan menggiurkan saat pemilu. Apalagi jika bisnis emiten tersebut berhubungan dengan aktivitas belanja pemerintah.

Dia mencontohkan, ketika Asian Games 2018 berlangsung, kinerja saham sektor telekomunikasi meningkat tiga-empat kali lipat. Pada tahun Pemilu 2019, diprediksi sektor yang terpengaruh adalah konsumsi, komunikasi, dan perbankan.

Eko Endarto dari perusahaan perencana keuangan Finansial Consulting memiliki pandangan lain. Menurut prediksinya, IHSG akan mengalami penurunan mulai semester kedua saat tahun pemilu setelah sempat menguat pada semester pertama. 

Dia menganjurkan, jika terjadi gejala penurunan, investor mengalihkan dana investasinya ke sektor lain yang lebih aman. Di antaranya deposito dan emas. Begitu ingar-bingar pemilu selesai, barulah investor bisa terjun ke pasar saham lagi. Saham blue chips menjadi primadona untuk diambil investor demi imbal hasil maksimal. 

Dari penjelasan di atas, IHSG secara umum diprediksi tetap memiliki kinerja baik pada tahun Pemilu 2019. Adapun emiten yang diperkirakan memberikan peningkatan performa adalah yang bergerak di bidang perbankan dan konsumsi, terutama BBCA dan UNVR. Demikian juga sektor komunikasi. Sektor yang berhubungan dengan aktivitas belanja pemerintah seputar pemilu akan mencatatkan peningkatan.

Meski begitu, ada juga pandangan yang menyebutkan soal risiko kinerja IHSG. Tapi ada jurus untuk mengatasi gejala penurunan kinerja itu, yakni mengalihkan sementara dana ke jenis investasi lain yang cenderung lebih aman atau mengincar saham blue chips.

(Baca: Ini 5 Investasi Terbaik 2019 yang Direkomendasikan Para Ahli)

Industri Manufaktur Paling Menguntungkan

Sementara itu, peluang investasi dan bisnis di industri Tanah Air juga masih terbuka lebar saat Pemilu 2019. Industri manufaktur diprediksi paling moncer dalam kaitan dengan tahun politik.

Dua sektor industri manufaktur diperkirakan menangguk peningkatan kinerja paling tinggi, yakni makanan-minuman dan tekstil-produk tekstil. Keduanya kemungkinan besar mengalami pertumbuhan positif lantaran terdongkrak kebutuhan kampanye untuk pemilu.

Kementerian Perindustrian lewat Menteri Airlangga Hartarto pun menyebutkan perekonomian secara umum akan bergulir maju ketika pemilihan presiden dan pemilihan legislatif terselenggara dengan suasana kondusif. Karena itu, dia berharap para pelaku industri mampu mengambil peluang pada tahun politik ini.

Menurut dia, pertumbuhan industri bisa didongkrak dengan pemilu sebagai katalisator. Peningkatan konsumsi terutama terjadi pada makanan dan minuman serta tekstil-produk tekstil.

Pada masa kampanye, kebutuhan akan produk dua sektor industri manufaktur tersebut akan meningkat. Misalnya untuk atribut kampanye dan konsumsi kampanye atau rapat-rapat partai.

Menteri Airlangga mencontohkan, saat Pemilu 2014, industri manufaktur tumbuh hingga 5,61 persen. Setahun sebelumnya, pertumbuhan hanya 5,45 persen. Saat itu, selain sektor industri makanan-minuman serta tekstil-produk tekstil, peningkatan pertumbuhan tersebut disumbang pula oleh industri kulit-produk kulit dan alas kaki.

Itu sebabnya prediksi Kementerian Perindustrian menyebutkan pertumbuhan industri pengolahan non-migas bakal mencapai 5,4 persen alias lebih dari pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan sebesar 5,3 persen. Kontributor terbesarnya adalah industri makanan-minuman yang diperkirakan tumbuh hingga 9,86 persen.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Abdul Rochim menambahkan, industri air minuman dalam kemasan (AMDK) berpeluang besar tumbuh double digit pada tahun ini. Sebab, ada dorongan dari kegiatan kampanye yang menggunakan air minum dalam kemasan di seluruh Indonesia.

Menurut Abdul Rochim, dari sekitar 500 perusahaan AMDK, sebanyak 90 persen adalah industri kecil dan menengah. Momentum Pemilu 2019 patut dimanfaatkan oleh industri kecil-menengah itu untuk menggenjot produksi.

Salah satu caranya adalah meningkatkan modal untuk mengencangkan laju produksi. Modal bisa didapatkan dari simpanan ataupun pinjaman. Bila mencari modal tambahan dari pinjaman, pastikan sudah memperhitungkan segala faktor yang berpengaruh, dari bunga, tenor, hingga jaminan yang diberikan.