reksadana syariah

Mengenal Reksadana Syariah: Cara Kerja dan Keuntungannya

Secara singkat, reksadana syariah dapat diartikan sebagai reksadana yang dikelola sesuai prinsip dan ajaran agama Islam. Reksadana ini muncul karena adanya kekhawatiran terdapat unsur riba dalam investasi reksadana konvensional. 

Mengingat Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk umat Muslim, label halal jadi hal yang penting. Bukan cuma buat produk makanan, tapi juga untuk instrumen investasi. 

Tapi, sebelum membahas lebih jauh mengenai reksadana syariah, ada baiknya kita pahami dulu konsep reksadana secara umum. 

Reksadana dapat diibaratkan sebagai mangkuk yang berisi beragam jenis makanan, seperti nasi, sayur, dan lauk pauk lainnya. Untuk meracik makanan di dalam mangkuk tersebut, kamu butuh bantuan seorang koki, hingga akhirnya bisa dinikmati. 

Berdasarkan analogi ini, kumpulan makanan di dalam mangkuk adalah aset investasi. Wujudnya, dapat berupa surat utang atau obligasi, saham, atau deposito. Sedangkan, kokinya disebut sebagai manajer investasi. 

Jadi, saat membeli reksadana berarti kamu telah membeli kumpulan aset investasi melalui manajer investasi. 

Bila dibandingkan dengan investasi saham, investasi reksadana dinilai lebih “ramah” bagi investor pemula. Sebab, keberagaman jenis aset investasi atau yang sering disebut sebagai diversifikasi ini dapat meminimalkan kerugian yang mungkin ditanggung.

Misalnya, jika imbal hasil saham sedang loyo, kamu masih bisa mengandalkan keuntungan dari obligasi atau deposito. 

Meski begitu, tetap saja hukum high risk high return berlaku. Potensi keuntungan investasi reksadana otomatis lebih rendah dibandingkan investasi saham yang punya risiko lebih tinggi. 

Jika dibandingkan dengan reksadana konvensional, sebetulnya cara kerja reksadana syariah tak jauh berbeda. Tapi, reksadana syariah punya karakteristik khusus, sehingga bisa dilabeli sebagai investasi halal. 

Biar lebih paham, yuk simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Perbedaan reksadana syariah dan reksadana konvensional

reksadana syariah

1. Produk investasi terdaftar dalam DES

Berbeda dengan manajer investasi pada reksadana konvensional yang bebas memilih aset yang ingin dikelola, manajer investasi pada reksadana syariah hanya akan memilih aset investasi yang sesuai dengan prinsip syariah, yaitu yang telah terdaftar dalam DES atau daftar efek syariah. Daftar efek syariah sendiri dikeluarkan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dua kali dalam satu tahun. 

Jika perusahaan ingin saham atau asetnya tercantum dalam daftar ini, maka perusahaan tersebut harus dapat memenuhi tiga persyaratan utama berikut ini:

  1. Kegiatan usaha tidak bertentangan dengan prinsip syariah, seperti perusahaan rokok, perjudian, minuman keras, dan lain-lain.
  2. Total utang perusahaan tidak melebihi 45 persen dari total aset yang dimiliki perusahaan
  3. Pendapatan tidak halal atau pendapatan yang berasal dari bunga ( mengandung unsur riba) tidak melebihi 10 persen dari total pendapatan usaha. 

2. Terdapat proses cleansing

Dalam mengelola reksadana, baik syariah maupun konvensional, dana yang dikelola oleh manajer investasi akan di simpan di bank kustodian. Sebagai informasi, bank kustodian merupakan bank umum yang telah mendapatkan izin dari OJK untuk melakukan fungsi kustodian atau penyimpanan.

Hingga saat ini, belum ada bank syariah yang ditunjuk sebagai bank kustodian. Oleh sebab itu, selama dana belum ditransaksikan dan masih mengendap di bank, pastinya akan menghasilkan bunga bank.

Jika menilik kepada prinsip syariah, bunga bank dianggap sebagai riba, sehingga bisa menyebabkan pendapatan menjadi tidak halal. Oleh sebab itu, dilakukanlah proses cleansing alias pembersihan. Caranya, dengan menyalurkan keuntungan yang dinilai tak halal untuk keperluan amal.

3. Pengelolaan reksadana syariah diawasi oleh DPS

Seperti semua instrumen investasi lainnya, investasi reksadana konvensional diawasi oleh OJK. Tujuannya, agar pengelolaan instrumen investasi tidak melanggar ketentuan dan hukum di Indonesia yang berlaku. 

Untuk memastikan reksadana sesuai dengan prinsip syariah, pengawasan dari OJK saja tidak cukup. Oleh sebab itu, reksadana syariah tak hanya diawasi OJK, tapi juga oleh DPS alias Dewan Pengawas Syariah. 

Selain melakukan pengawasan, DPS juga wajib melaporkan hasil pengawasan syariah minimal enam bulan sekali kepada direksi, DSN-MUI, komisaris, dan Bank Indonesia. Hal ini juga berlaku untuk seluruh pengelolaan instrumen keuangan syariah lainnya. 

Selain itu, DPS juga akan memberikan rekomendasi penyaluran dana hasil cleansing kepada manajer investasi.

(Baca: Ini Cara Investasi Saham Online Buat Pemula Biar Untung)

4. Jenis akad yang digunakan

Investasi reksadana syariah menggunakan dua jenis akad, yaitu akad Wakalah dan akad Mudharabah. Akad Wakalah adalah penyerahan kekuasaan dari satu pihak kepada pihak lain dalam hal yang dapat diwakilkan. Akad Wakalah digunakan sebagai perjanjian antara pemodal dan manajer investasi.

Sementara, akad Mudharabah adalah penyerahan harta kepada pihak lain untuk dikelola dengan ketentuan bahwa keuntungan yang diperoleh akan dibagi untuk kedua belah pihak dengan syarat-syarat yang telah disepakati bersama, sedangkan, kerugian ditanggung oleh shahib maal alias pemilik dana.

Keunggulan reksadana syariah

reksadana syariah

Reksadana sering direkomendasikan kepada investor pemula. Sebab, pengelolaan dana investasi ditangani oleh manajer investasi. Alhasil sebagai investor, kamu tak perlu menganalisa instrumen yang akan ditempatkan secara intensif. 

Bagi kamu yang belum punya banyak modal, reksadana juga layak dicoba. Sebab, modal investasi yang diperlukan cukup terjangkau. 

Coba saja tengok beberapa situs e-commerce di Indonesia yang punya layanan investasi reksadana, seperti Tokopedia atau Bukalapak. Penempatan modal investasi yang ditawarkan bahkan bisa dilakukan mulai dari Rp 10 ribuan.

Selain itu, produk reksadana juga terbilang aman selama dilakukan di perusahaan manajer investasi yang terpercaya. 

Itu semua keunggulan reksadana secara umum, baik reksadana konvensional maupun reksadana syariah. Tapi, ada beberapa keunggulan lainnya yang hanya dimiliki oleh reksadana syariah.  

Mau tahu apa saja keunggulannya? Yuk, simak ulasannya di bawah ini.

1. Risiko reksadana syariah lebih rendah

Masih ingat pada syarat aset atau saham yang masuk dalam DES? Salah satunya disebutkan bahwa perusahaan yang ingin sahamnya masuk ke dalam DES, tidak boleh punya utang lebih dari 45 persen dari total aset yang dimiliki. 

Dengan utang yang lebih kecil dibandingkan asetnya, perusahaan dinilai cukup sehat dan mampu memberikan imbal hasil yang menguntungkan. Biasanya, reksadana ini berfokus pada perusahaan di sektor yang cukup menjanjikan, seperti properti, infrastruktur, manufaktur, komoditas, dan sebagainya. 

Dengan kata lain, risiko pada reksadana syariah lebih rendah dibandingkan reksadana konvensional yang pilihan asetnya lebih beragam. 

Meski begitu, bukan berarti investasi reksadana syariah jadi bebas dari risiko ya. Sebab, tetap ada risiko kerugian lain, seperti manajer investasi yang wanprestasi, terjadi perubahan sosio politik negara, dan sebagainya.

2. Berinvestasi sekaligus beramal

Adanya fitur cleansing pada reksadana syariah bikin investor secara tak langsung turut beramal. Sebab, seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa pendapatan yang tak sesuai dengan prinsip syariah akan “dibersihkan” dengan cara menyalurkannya dalam bentuk amal. 

Namun, perlu disadari bahwa secara tak langsung proses cleansing membuat keuntungan yang didapatkan jadi lebih sedikit dibandingkan pada reksadana konvensional.

(Baca: Untung Maksimal dari Investasi Reksadana, Begini Caranya)

3. Aman dan halal

Reksadana adalah produk investasi resmi yang diatur dan diawasi oleh OJK. Dalam hal ini, OJK juga mengawasi manajer investasi yang mengelola, agen penjual yang menyalurkan produk, hingga bank kustodian yang menampung uang investor. 

Semua penjual reksadana pun wajib memiliki izin sebagai agen penjual reksadana resmi atau biasa disebut sebagai APERD. Dengan begitu, pihak-pihak terkait wajib tunduk kepada aturan yang berlaku.

Selain itu, investor juga tak perlu cemas modal investasi digondol manajer investasi, sebab dananya tersimpan aman di bank kustodian. 

Nah, reksadana syariah tak cuma aman, tapi juga halal. Sebab, semua prosedurnya telah dilakukan mengikuti prinsip-prinsip syariah. Ditambah lagi, ada pengawasan langsung dari DPS. 

Jadi, bagi umat Muslim yang ingin menikmati keuntungan berinvestasi tanpa cemas melanggar ajaran agama Islam, reksadana syariah bisa jadi pilihan ideal.

Cara investasi reksadana syariah

Jika tertarik, proses pembelian reksadana syariah tak berbeda dengan produk reksadana pada umumnya. Kamu bisa membeli langsung melalui perusahaan manajer investasi yang menerbitkan reksadana atau melalui bank yang bertindak sebagai APERD

Nantinya, kamu akan diminta untuk menyiapkan kartu identitas dan NPWP (nomor pokok wajib pajak) untuk membuka rekening efek. 

Yang perlu diingat, sebelum mulai berinvestasi, pastikan kamu telah memiliki tujuan keuangan terlebih dulu. Dengan begitu, kamu bisa mengatur strategi dengan lebih baik, mulai dari menetapkan modal investasi hingga periode investasi yang dibutuhkan. 

 

Semoga berhasil!