Utang versus investasi

Lunasi Utang atau Investasi, Mana yang Lebih Penting?

Dapat bonus tahunan lumayan besar, pilih lunasi utang atau berinvestasi saja ya?

Bayar utang itu wajib. Semua pun sudah tahu itu. Oleh sebab itu, jika punya utang, sebaiknya segera dilunasi begitu punya uang. 

Tapi, bagaimana jika ada tawaran investasi dengan imbal hasil menarik yang keuntungannya bisa untuk melunasi utang, sekaligus membuat arus kas jadi lebih sehat?

Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Simak ulasan lengkapnya, berikut ini.

Investasi penuhi keinginan di masa depan

Investasi menawarkan keuntungan yang lebih besar dibanding produk simpanan. Dilansir dari Media Indonesia, dalam rentang waktu 2016 hingga 15 Maret 2018, imbal hasil investasi saham dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 11,59 persen. Pada tahun yang sama, rata-rata bunga deposito berada pada kisaran 6 persen. 

Keuntungan instrumen investasi jauh lebih bisa diandalkan menghadapi kenaikan investasi dibandingkan keuntungan dari bunga tabungan. 

Dengan begitu, untuk memenuhi tujuan keuangan di masa depan, menempatkan uang pada instrumen investasi merupakan strategi keuangan yang tepat. Eits, tapi bukan asal investasi ya.  

Ada yang bilang kalau modal utama investasi bukanlah uang, melainkan pengetahuan. Tanpa pengetahuan yang mumpuni, investasi justru bisa jadi langkah bunuh diri. Seorang investor harus sadar penuh bahwa di balik keuntungan yang tinggi, terdapat risiko kerugian yang harus disiasati.

Utang adalah kewajiban yang harus dibayar

Begitu mengajukan pinjaman, penting untuk memiliki rencana pengembalian utang. Sebab, apa pun alasannya, utang wajib dilunasi. Bahkan, sekalipun debitur meninggal dunia, utang tetap harus dibayar. 

Pada pinjaman yang disertai asuransi, perusahaan asuransi akan menanggung sisa utang jika debitur meninggal dunia. Namun, pada pinjaman tanpa asuransi, sisa utang akan diwariskan kepada keluarga atau ahli waris.

Perlu dipahami bahwa terdapat beragam jenis utang dengan konsekuensi yang berbeda-beda. Idealnya, utang memang harus dilunasi. Namun, prioritas melunasi utang bisa bergeser tergantung kepada jenis utang yang diambil. 

Investasi versus utang

Investasi vs utang jangka panjang

Utang dengan tenor pinjaman yang panjang, seperti kredit pemilikan rumah (KPR), punya beban bunga yang lebih besar. Pelunasan sebagian pokok utang memang dapat meringankan angsuran bulanannya, termasuk beban bunga yang akan ditanggung. 

Tapi, tunggu dulu. 

Bank umumnya menggunakan perhitungan bunga anuitas pada cicilan KPR. Metode ini bisa berlaku sejak awal masa angsuran, bisa juga pada tahun ketiga atau kelima pinjaman, tergantung kepada ketetapan bank terkait. 

Dengan metode perhitungan tersebut, di masa awal cicilan, besar angsuran bunga bisa jadi lebih besar dibandingkan porsi angsuran pokok utang. Semakin lama, porsi angsuran bunga akan mengecil, sementara angsuran pokok utang jadi lebih besar. 

Katakanlah, kamu ingin melunasi KPR dengan tenor 15 tahun. Perhitungkan beban bunga selama 10 tahun awal. Jika setelah 10 tahun, bunganya semakin kecil, maka pelunasan KPR setelah tenor 10 tahun bisa merugikan

Sebab, beban bunga besar yang ingin dihindari justru telah dibayarkan pada angsuran 10 tahun pertama. Apalagi, ditambah adanya biaya penalti yang cukup tinggi jika utang dilunasi sebelum jatuh tempo. 

Sebaliknya, pelunasan KPR pada 10 tahun pertama bisa lebih menguntungkan. Sebab, bunga yang ditanggung jadi jauh lebih kecil. 

Pada kondisi ini, kamu pun dapat membayar sebagian pokok utang KPR dan mengalokasikan sebagian dana segar untuk berinvestasi. Kamu bisa menempatkan dana di instrumen saham atau reksa dana. 

Namun, pastikan kamu bisa membayar angsuran bulanan tanpa mengganggu pos pengeluaran lainnya. 

(Baca: Untung Maksimal dari Investasi Reksadana, Begini Caranya)

Investasi vs utang kartu kredit dan KTA

Utang kartu kredit mematok bunga yang lumayan tinggi, yaitu sekitar 2,25 persen per bulan atau 27 persen per tahun. Tak jauh berbeda, rata-rata bunga pinjaman kredit tanpa agunan (KTA) berada pada kisaran 1-2 persen per bulan atau sekitar 12-24 persen per tahun.

Dibandingkan dengan potensi imbal hasil dari investasi saham sekalipun, beban bunga kedua utang di atas bisa lebih besar, sehingga akan merugikan jika tak segera dilunasi. 

Menunda pembayaran kedua jenis utang ini dapat membuat bunga pinjaman membengkak. Bahkan, membayar tagihan kartu kredit pada jumlah minimum pun sebaiknya dihindari mengingat besar bunga yang akan ditanggung. 

Oleh sebab itu, melunasi utang jangka pendek dengan bunga yang tinggi, seperti kartu kredit, KTA, hingga pinjaman online wajib diprioritaskan sebelum mempertimbangkan untuk berinvestasi.

(Baca: Cara Investasi Saham untuk Raih Untung Maksimal)

Rasio bunga utang dan keuntungan investasi

Utang versus Investasi

 

Bandingkanlah rasio bunga utang dan potensi keuntungan investasi yang akan dipilih. 

Sebagai contoh, kamu mendapat bonus tahunan sebesar Rp 10 juta dan pada saat yang sama pemerintah mengeluarkan SBR (saving bond retail) dengan kupon atau bunga sebesar 8,15 persen. Jika seluruh uang bonus dialokasikan pada instrumen SBR, dalam setahun kamu bisa mendapatkan bunga hingga Rp 815 ribu, dipotong pajak bunga 15 persen. 

Sayangnya, kamu memiliki utang KTA dengan bunga pinjaman sebesar 1 persen per bulan atau 12 persen per tahun. Jika dihitung-hitung, bunga pinjaman ini tentu lebih besar dibandingkan keuntungan yang didapat dari investasi SBR tadi. 

Kalau utang yang dimiliki cuma Rp 5 juta, kamu bisa alokasikan sebagian uang bonus untuk melunasi utang dan sisanya untuk beli SBR. Beres! Tapi, kalau nilai utang hingga Rp 10 juta atau lebih, tak perlu ditawar lagi, sebaiknya lunasi utangmu dulu. 

Sebetulnya, sah-sah saja punya utang. Yang jadi masalah jika tak tahu cara membayar utang yang telah diambil. Menurut beberapa pakar keuangan, jika utang sudah lebih dari 30 persen penghasilan, kesehatan finansial bisa terancam.

Sebab, mau tak mau pengeluaran rutin terbesar akan dialokasikan untuk membayar tagihan. Jangankan untuk memenuhi tujuan keuangan di masa depan, kebutuhan sehari-hari saja bisa sulit terpenuhi.

Padahal, pondasi utama dalam mengatur keuangan adalah punya arus kas yang sehat. Salah satu caranya adalah dengan melunasi utang dan mulai menyiapkan dana darurat. 

Selanjutnya, setelah kondisi keuangan terbilang aman, baru kamu bisa melirik instrumen investasi untuk mempertebal dompet. Sepakat?