Cara investasi saham

Ini Cara Investasi Saham Online Buat Pemula Biar Untung

Bagaimana cara investasi saham buat pemula? Apa langkah-langkah yang harus dilakukan sampai menjadi seorang investor? 

Tak sedikit yang punya pertanyaan serupa, tapi bingung harus bertanya ke mana. Apakah kamu salah satunya? Investasi saham memang sudah lama terdengar gaungnya. Dibandingkan jenis investasi lain, potensi keuntungan investasi saham terhitung lebih menggiurkan. 

Dengan membeli saham perusahaan alias menjadi investor, kamu bisa memperoleh capital gain atau keuntungan dari kenaikan harga saham, serta dividen atau keuntungan dari laba perusahaan. 

Sayangnya, tidak sedikit yang menganggap investasi saham sebagai perkara yang rumit. Investasi saham pun seringkali identik hanya untuk orang berduit. 

Pernyataan tersebut mungkin bukan anggapan yang salah, tapi itu puluhan tahun silam. Sebab zaman sekarang, membeli saham bukan hanya bisa dilakukan dengan modal kecil, tapi juga bisa secara online melalui smartphone. 

Tapi perlu diingat bahwa dalam investasi apa pun berlaku hukum high risk high return. Artinya, jika potensi keuntungan tinggi, risiko yang dimiliki juga tinggi. Meski begitu, risiko yang ada bisa diminimalisasi dengan pemahaman terkait investasi saham yang memadai.

Risiko kerugian dari investasi saham bukanlah alasan untuk mundur teratur sebelum mulai berinvestasi. Sebaliknya, semakin dini berinvestasi, semakin banyak kesempatan untuk mempelajari strategi berinvestasi yang paling sesuai denganmu.

Tak perlu panjang-panjang lagi, berikut ini tahapan yang perlu dilakukan untuk mulai investasi saham.

Cara investasi saham online

1. Siapkan dana

Berapa dana yang diperlukan untuk mulai berinvestasi? 

Saham merupakan bukti kepemilikan atas sebuah perusahaan, dengan minimal pembelian satu lot atau 100 lembar. Jika satu lembar saham seharga Rp 1.000, maka minimal dana yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 100 ribu. 

Apakah artinya dengan uang Rp 100 ribu, sudah bisa jadi investor saham? Jawabannya, tergantung. Beberapa perusahaan sekuritas mematok batas minimal pembukaan rekening efek mulai dari Rp 3-5 juta. Meski begitu, ada pula sekuritas yang tidak mensyaratkan minimal dana pembukaan rekening. 

Sebagai informasi, perusahaan sekuritas alias broker adalah perusahaan yang aktivitas utamanya melakukan jual beli efek yang tercatat di bursa saham. 

Ibaratnya, jika kamu ingin membeli sepatu, kamu tidak perlu pergi ke pabrik sepatu, melainkan bisa membeli di toko sepatu. Broker inilah yang bertindak sebagai toko sepatu.

Kembali soal dana, semakin tinggi harga saham yang dibeli, tentu semakin besar pula dana yang perlu disiapkan. Misalnya, jika saham perusahaan yang diincar dijual dengan harga Rp 25.000 per lembar, setidaknya kamu harus punya dana sebesar Rp 2,5 juta.

Perlu diingat, bahwa berapa pun dana yang dialokasikan untuk investasi sebaiknya merupakan dana “menganggur” atau dana khusus investasi, sehingga tidak mengganggu kebutuhan lainnya.

2. Buka rekening efek

Seperti tabungan, saham juga butuh rekening. Bedanya, jika rekening tabungan dibuka di kantor cabang bank terkait, rekening saham atau rekening efek dibuka di perusahaan sekuritas. 

Tentunya, pilih perusahaan sekuritas yang telah terdaftar OJK, seperti BCA Sekuritas, BNI Sekuritas, Info Premier, Phillip Sekuritas Indonesia, Sekuritas Sinarmas, dan masih banyak lagi. Silakan cek langsung di situs OJK untuk daftar lengkapnya. 

Untuk melakukan pembukaan rekening efek kamu bisa mendatangi kantor perusahaan sekuritas yang dipilih. Atau jika tak ingin repot kamu bisa menghubungi mereka melalui telepon dan mengikuti arahan yang diberikan.

Ingin lebih praktis lagi? Kamu juga bisa membuka rekening efek secara online, melalui situs resmi perusahaan sekuritas atau bahkan melalui aplikasi di smartphone. 

Misalnya, aplikasi Ipotgo dari IndoPremier. Melalui aplikasi Ipotgo, semua prosedur pembukaan rekening efek dapat dilakukan melalui smartphone. Dalam waktu 1x24 jam, kamu sudah mendapatkan rekening dana nasabah (RDN).

Selain itu, kamu juga akan mendapatkan kartu KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) sebagai bukti bahwa kamu telah sah menjadi investor, sekaligus sebagai kartu identitas untuk mengecek portofolio saham yang dimiliki. 

3. Top up dana rekening efek

Selanjutnya, setor dana ke rekening efek sesuai dana yang telah disiapkan. Seperti yang disebutkan sebelumnya, ada perusahaan sekuritas yang mematok minimal setoran, ada pula yang tidak. 

Setoran dilakukan ke rekening dana nasabah (RDN). Caranya sama seperti mengirim dana ke rekening tabungan. Kamu bisa mengisi dana di RDN melalui setor tunai di teller, transfer melalui mesin ATM ataupun digital banking

4. Siap bertransaksi online

Begitu rekening efek aktif, kamu akan mendapatkan akses untuk melakukan transaksi jual beli saham online, baik melalui aplikasi desktop maupun smartphone. Kamu dapat mengulik sendiri fitur-fitur yang tersedia pada aplikasi atau bertanya langsung pada customer service terkait. 

Jika sudah sampai tahap ini, selamat! Kamu sudah bisa mulai bertransaksi saham. Prosedurnya tak serumit yang dibayangkan, bukan? 

(Baca: Cara Investasi Saham untuk Raih Untung Maksimal)

Cara Investasi Saham Biar Untung

Kesulitan biasanya baru ditemukan saat akan menentukan saham yang dibeli. Kabarnya, kalau mau main “aman”, dianjurkan untuk membeli saham blue chip alias saham yang dimiliki perusahaan besar dengan pendapatan stabil, seperti Bank Central Asia (BCA), Unilever, Astra International, dan sebagainya. 

Sayangnya, tak semudah itu. Sebab, faktanya tak ada investasi yang dijamin 100 persen aman. Risiko kerugian akan tetap ada, mulai dari harga saham yang merosot hingga perusahaan dihapus dari bursa efek Indonesia lantaran tersangkut kasus hukum. 

Oleh sebab itu, selain modal dana, modal pengetahuan juga harus disiapkan sebelum bermain saham. Sebelum membeli saham, setidaknya pahamilah beberapa hal di bawah ini:

1. Kenali profil perusahaan

Wajib bagi investor untuk setidaknya tahu informasi dasar terkait perusahaan yang dipilih. 

Bergerak di industri apa? Apa saja produknya? Bagaimana proses bisnisnya? Siapa saja konsumen atau klien perusahaan? Siapa saja pendiri serta pemilik saham terbesar di perusahaan tersebut?

Bila perlu, cermati pula bagaimana perusahaan menanggapi pelanggan. Misalnya, terkait komplain dari konsumen. Bukan berarti mencari perusahaan yang bebas komplain, tapi pilihlah perusahaan yang menanggapi keluhan pelanggan dengan baik.

Informasi-informasi ini bisa didapatkan dengan mudah melalui situs resmi perusahaan, portal berita terpercaya, hingga media sosial. 

2. Amati tren bisnis 

Sejak pertengahan 2018 lalu, saham PT Express Trasindo Utama (TAXI) disuspensi alias dihentikan sementara oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran menunggak membayar bunga obligasi sejak tahun 2014. 

Kinerja taksi Express merosot tajam sejak adanya tren taksi dan kendaraan online. Padahal, beberapa tahun silam, taksi Express sempat menjadi pemimpin pasar penyedia layanan taksi di Indonesia dan memiliki puluhan ribu armada taksi.

Lalu, bagaimana dengan nasib para investornya? Jelas saja, mau tak mau harus menanggung kerugian juga. Ini dapat menjadi bukti pentingnya mengamati tren bisnis.

Apakah perusahaan yang diminati tak akan lekas tergerus tren? Apakah mampu bersaing dengan sejumlah kompetitor yang ada?

3. Cek laporan keuangan perusahaan

Dari laporan keuangan perusahaan, amatilah performa perusahaan dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun ke belakang. 

Beberapa data yang bisa dicermati dari laporan keuangan perusahaan, meliputi EPS (earning per share), DER (debt to equity ratio), ROA (return on asset), ROE (return on equity), serta dividen.

Singkatnya, EPS adalah nilai yang dihasilkan tiap lembar saham yang kamu punya. Jadi, pilihlah perusahaan dengan nilai EPS yang konsisten bertumbuh setidaknya dalam tiga tahun terakhir. DER mengindikasikan rasio utang dibanding modal. Semakin tinggi angkanya, semakin perlu diwaspadai. 

Sedangkan, ROA dan ROE merupakan potensi keuntungan perusahaan. Semakin tinggi nilai keduanya, dapat menjadi indikator semakin bagus performa perusahaan. Terakhir, kamu bisa cek histori pembagian dividen perusahaan.

Laporan keuangan perusahaan bisa kamu cek di situs Bursa Efek Indonesia ataupun situs perusahaan terkait.

4. Cermati performa saham perusahaan

Tak hanya fundamental, penting juga buatmu mencermati pergerakan saham perusahaan selama lima sampai 10 tahun terakhir. Ini bisa menjadi indikator apakah saham perusahaan yang ingin kamu beli berpotensi mendatangkan cuan atau tidak.

Sebab, perusahaan yang fundamentalnya bagus dan punya laporan keuangan yang cemerlang, belum tentu sahamnya aktif diperdagangkan atau memiliki pergerakan saham yang positif. Kok bisa? 

Penyebabnya banyak. Bisa dari industrinya yang memang dianggap kurang “seksi”, perusahaannya dianggap kurang punya “nama”, atau memang karena investor Indonesia yang cenderung lebih menyukai gaya trading alias bermain saham dalam jangka pendek. Akibatnya, saham-saham bagus yang berpotensi naik dalam jangka panjang menjadi kurang menarik di mata mereka.

Oleh karena itu, penting buatmu mencermati pergerakan saham perusahaan dalam kurun waktu satu tahun, lima tahun, sampai 10 tahun ke belakang. Dengan begitu kamu bisa mendapat gambaran apakah saham tersebut bisa mendatangkan cuan atau tidak.

Jangan lupa juga untuk mengecek PER (price to earning ratio) saham. Ini untuk mengetahui apakah saham perusahaan tersebut tergolong mahal atau tidak. Semakin besar PER, artinya harga saham perusahaan semakin tinggi dan potensi kenaikannya pun semakin terbatas.

(Baca: Untung Maksimal dari Investasi Reksadana, Begini Caranya)

Bagaimana, sudah siap dan semakin mantap jadi investor saham?