investasi saham

Cara Investasi Saham untuk Raih Untung Maksimal

Investasi saham sudah tidak asing lagi pada zaman sekarang. Dibanding pada era awal 2000-an, saat ini sudah makin banyak orang berminat pada investasi saham.

Dulu orang mendengar kata “investasi” saja sudah mengernyit dahinya. Saham pun masih dipandang sebagai sesuatu yang mewah.  Apalagi kombinasi “investasi saham”.

Peran media sedikit-banyak membantu kepopuleran investasi saham sebagai pilihan mengumpulkan rupiah untuk kepentingan masa depan. Salah satunya soal selebritas yang ikut bermain saham dan menangguk untung dari investasi itu. Tak kurang dari 8 artis papan atas mengaku melakukan investasi saham karena potensinya.

Giring Ganesha yang dulu vokalis Nidji, misalnya, sudah terjun ke dunia investasi saham sejak 2008. Dia memperlakukannya sebagai investasi jangka panjang.

Uang yang ia tanamkan untuk investasi saham sebesar 10 persen dari upah manggung. Dari rutinitas itu dia mampu membiayai pernikahan plus membayar uang muka rumah yang ia tinggali sekarang.

Artis lain yang juga sudah bergelut dengan investasi saham adalah Raisa, Piyu Padi, Agnes Monica, Pandji, Shandy Aulia, Aura Kasih, Nycta Gina, dan Tina Toon. Setiap artis punya cerita investasi masing-masing.

Yang pasti, mereka sudah sadar bahwa ada peluang keuangan dari investasi saham. Bahkan tak sedikit yang rela merangkak alias belajar dari nol soal cara investasi saham.

Setiap orang mesti memahami cara investasi saham lebih dulu sebelum mengucurkan duitnya ke pasar saham. Bila ingin mendapatkan hasil instan, investasi saham bukan pilihan.

Cara Investasi Saham

1. Pahami apa itu investasi saham

Hal paling utama sebelum nyemplung jadi investor atau pemain saham adalah memahami apa itu investasi saham. Menurut Otoritas Jasa Keuangan, investasi adalah penanaman modal untuk mendapatkan keuntungan.

Adapun saham adalah tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) pada suatu perusahaan. Investasi umumnya bersifat jangka panjang, termasuk investasi saham.

Jika kamu membeli saham di perusahan X, misalnya, keuntungan didapatkan berupa dividen yang dibagikan berdasarkan porsi kepemilikan saham. Makin besar porsi saham, makin banyak keuntungan yang didapatkan.

Investasi saham juga bisa dilakukan secara langsung di pasar saham alias bursa efek. Dalam jenis investasi saham ini, berarti kamu bertindak sebagai trader yang meraih untung dari selisih jual-beli saham.

Misalnya kamu beli 1.000 lembar saham seharga Rp 1.000 per lembar. Saat harganya naik jadi Rp 1.100 per lembar dan kamu jual, ada keuntungan senilai 1.000 x Rp 100 = Rp 100.000.

Sarana investasi saham lain adalah lewat reksa dana. Dalam reksa dana saham, yang mengelola adalah perusahaan manajer investasi. Cara ini patut dicoba untuk investor saham pemula karena ada bantuan dari manajer investasi, tidak menangani investasi sendiri.

(Baca: Untung Maksimal dari Investasi Reksadana, Begini Caranya)

2. Mau jadi investor saham yang mana

Dari penjelasan tentang apa itu investasi saham di atas, investor saham bisa dibedakan menjadi tiga macam, yakni:

- Trader: investor yang tidak menyimpan saham dalam jangka pendek. Bahkan dalam sehari saham itu bisa diperjualbelikan bila ada peluang. Investor saham jenis ini biasanya sudah ahli dalam menganalisis saham. Analisis matang diperlukan untuk memutuskan kapan akan membeli dan berapa banyak pembelian serta kapan dan berapa akan menjual saham itu. 

- Swing Investor: investor saham ini memiliki target tertentu. Ketika target itu sudah dipenuhi, saham akan dijual. Misalnya beli saham Rp 1.000 per lembar dengan target akan menjualnya saat harganya naik jadi Rp 1.200. Begitu harga saham menyentuh angka Rp 1.200, saham itu akan dilepas dan mencari target lain.

- Long term investor: investor saham ini merupakan investor individu yang percaya dengan kinerja saham perusahaan tertentu, sehingga memegang sahamnya dalam waktu lama dengan harapan saham tersebut bisa terus naik seiring perkembangan perusahaan. Investor jenis ini contohnya adalah Lo Kheng Hong yang kerap dijuluki sebagai Warren Buffet Indonesia.

Nah, dari tiga jenis investor saham tersebut, kamu hendak menjadi yang mana? Keputusan ini disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.

3. Kenali profil risiko

Profil risiko penting dalam hal investasi. Ada setidaknya dua macam profil, yakni yang berani menanggung risiko besar demi potensi keuntungan yang besar pula dan yang sangat berhati-hati demi kelangsungan investasi.

Orang dengan profil nekat umumnya cocok untuk berinvestasi saham yang punya kapitalisasi pasar menengah atau kecil. Pergerakan saham di pasar ini biasanya lebih fluktuatif sehingga dibutuhkan keaktifan sehingga bisa meraih keuntungan maksimal saat harga saham tinggi.

Adapun orang dengan profil hati-hati, pas bila terjun ke investasi saham blue chip atau badan usaha milik negara. Saham blue chip adalah saham yang kapitalisasi pasarnya besar. Saham-saham jenis ini umumnya lebih stabil.

Kapitalisasi saham diukur dari harga saham dan jumlah saham yang beredar di pasar. Kalikan dua faktor itu. Jika hasilnya di atas Rp 10 triliun, bisa dikatakan kapitalisasi pasarnya besar. Makin besar kapitalisasi, makin kecil risiko investasi saham.

4. Berapa lama investasi

Investasi saham umumnya dilakukan untuk jangka panjang. Namun ada pula yang jangka pendek. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, investasi saham jangka pendek memerlukan pengetahuan mumpuni soal pasar saham. Selain itu, mata harus siaga memantau pergerakan saham agar momentum penting tidak terlewat.

Tapi ada alternatifnya, yakni menggunakan broker alias perusahaan perantara. Namun kekurangannya adalah kamu harus membayar fee untuk broker itu. Bila investasi saham buntung, artinya kerugian dobel.

5. Berapa jumlah investasi

Investasi saham adalah jenis investasi dengan risiko besar. Buat pemula, sebaiknya tidak langsung menggerojokkan dana untuk investasi ini.

Sambil meraba-raba, kamu bisa mereguk untung sedikit demi sedikit. Saat ini investasi saham makin terjangkau. Hanya dengan Rp 100 ribu pun mahasiswa sudah bisa investasi saham.

Ketika sudah paham luar-dalam, barulah naikkan jumlah dana yang diputar dalam investasi saham. Bila menggunakan reksa dana, masukan dari manajer investasi bisa menjadi salah satu faktor untuk menentukan berapa jumlah investasi.

6. Pilih yang potensial

Setelah memutuskan berkecimpung di pasar saham dengan kapitalisasi pasar besar, menengah, atau kecil, cari saham di perusahaan yang potensial. Ada sejumlah tips untuk melihat potensi investasi saham di suatu perusahaan.

- Cek fundamental perusahaan

Fundamental alias kondisi penyokong perusahaan adalah hal utama yang mesti dilihat. Fundamental terlihat dari laporan keuangan perusahaan. Lihat bagaimana omzetnya, apakah profit naik, berapa utangnya, dan lain-lain. Makin bagus kondisi keuangan perusahaan, makin oke sebagai pilihan investasi saham.

- Cek pergerakan saham

Kondisi keuangan perusahaan adalah yang utama. Yang kedua adalah pergerakan saham perusahaan tersebut. Bila mau main aman, cari yang pergerakannya stabil. Kalau saham perusahaan naik-turun secara ekstrem, artinya ada risiko besar meski potensi keuntungannya juga besar.

- Jangan abaikan masukan

Tergantung jenis investasi saham yang kamu pilih, selalu ada masukan yang bisa menjadi pertimbangan saat mencari saham untuk dibeli. Masukan itu antara lain datang dari broker atau pialang, manajer investasi, hingga analis pasar saham yang kerap membagikan analisisnya lewat media massa.

Satu hal penting: bila memakai jasa pialang atau manajer investasi, cek kredibilitas mereka. Daftar pialang dan manajer investasi bisa dicek di situs Otoritas Jasa Keuangan.

(Baca: Ini 5 Investasi Terbaik 2019 yang Direkomendasikan Para Ahli)

Kesalahan yang Sering Terjadi

Cara berinvestasi saham memang tidak sesimpel jenis investasi lain. Investasi emas, misalnya.

Rumusnya sih sama: beli ketika harga turun, jual saat harga naik. Tapi faktor yang mempengaruhi investasi saham lebih banyak ketimbang investasi emas.

Meski demikian, investor pemula sah-sah saja mencoba menangguk untung lewat investasi saham. Yang patut diwaspadai adalah kesalahan yang sering terjadi pada investor saham pemula. Berikut ini di antaranya:

1. Malas baca fundamental

Laporan keuangan relatif ribet, terlebih buat yang tak punya latar belakang akuntansi. Meski begitu, fundamental perusahaan dari laporan itu harus dimengerti agar tidak salah menaruh dana investasi.

2. Mudah menyerah

Pasar saham itu seperti medan laga. Ada pertempuran di sana untuk mencari yang terbaik. Bila mudah menyerah, kamu akan kalah. Saham sebagai investasi memerlukan kesabaran, apalagi untuk jangka panjang. Rugi untuk sesaat bisa jadi kesempatan untuk untung kemudian.

3. Hanya main satu saham

Pasar saham menyediakan banyak pilihan perusahaan. Maka keliru jika hanya terpatok pada satu saham perusahaan. Kuncinya adalah cermat menempatkan dana di saham yang punya prospek cerah.

4. Terburu nafsu

Seperti disebutkan sebelumnya, invesasi saham harus sabar. Ada kalanya orang terburu nafsu ketika melihat harga saham turun dengan prospek cerah. Padahal namanya prospek, bisa saja tidak sesuai dengan kenyataan. Itu sebabnya diperlukan pemahaman terhadap fundamental serta mempertimbangkan faktor yang mempengaruhi.

5. Pasrah

Pasrah juga bukan karakter investor saham yang baik. Misalnya pasrah kepada manajer investasi atau pialang yang membantu investasi tersebut. Kamu harus selalu memegang kendali atas investasi itu. Lagi pula, duit yang dipakai adalah duitmu. 

Investasi saham makin membumi setelah masuk era Internet. Orang bisa duduk diam, tapi ada pemasukan dari saham yang harganya kian naik.

Hanya dengan aplikasi smartphone, orang bisa transaksi saham kapan pun dan di mana pun. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Bahkan artis yang kesibukannya luar biasa masih bisa meluangkan waktu bermain saham. Siap ikuti jejak mereka meraih sukses finansial?