Investasi modal pinjaman

Apakah Bijak Investasi Saham Pakai Dana Pinjaman?

Ambil pinjaman untuk kebutuhan konsumtif jelas bukan langkah bijak. Kita mungkin sudah sepaham kalau utang konsumtif perlu dihindari. Tapi, bagaimana jika utang digunakan untuk modal investasi?

Mereka yang melek literasi keuangan, pasti setuju bahwa investasi adalah strategi keuangan yang perlu dilakukan. Pasalnya, tak seperti produk simpanan yang memberikan bunga minim, instrumen investasi tawarkan imbal hasil tinggi sehingga andal menghadapi kenaikan inflasi. 

Salah satu instrumen investasi yang paling banyak disarankan oleh pakar keuangan adalah investasi saham. Instrumen investasi ini tawarkan imbal hasil di atas obligasi pemerintah, investasi reksadana, dan investasi emas. 

Punya keuntungan menggiurkan, apakah aman berinvestasi saham bermodalkan utang? 

Untuk menjawab kedua pertanyaan di atas, yuk simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Risiko investasi modal pinjaman

Mencari pinjaman tanpa agunan untuk modal investasi sekilas memang tampak menguntungkan. Kamu jadi punya kesempatan memperoleh keuntungan investasi sekalipun belum punya cukup dana. Selanjutnya, tinggal bayar cicilan dan beban bunga pakai imbal hasil yang didapatkan.

Sayangnya, tidak semudah itu.

Ada banyak risiko bisa dialami jika berinvestasi saham bermodalkan dana pinjaman. Berikut ini di antaranya.

1. Tingginya bunga dan biaya pinjaman

Dana pinjaman tidaklah gratis. Ada bunga dan biaya tambahan lainnya yang harus dibayar. Umumnya, semakin mudah dan cepat dana cair, semakin tinggi bunga yang dikenakan. 

Bandingkan saja bunga pinjaman uang tanpa agunan online yang menjanjikan dana kilat dalam hitungan jam dengan pinjaman KTA bank yang perlu proses BI checking terlebih dulu. Rata-rata bunga pinjaman online dalam sehari bahkan bisa setara dengan bunga KTA bank dalam sebulan.

(Baca: Pinjaman Online atau KTA Bank, Mana yang Lebih Baik?)

Namun, sekalipun pakai dana pinjaman KTA bank, beban bunga yang ditanggung tetaplah tidak sedikit.

Sebagai contoh, pinjaman KTA bank A tawarkan plafon pinjaman hingga Rp 200 juta dengan bunga pinjaman 1,39 persen per bulan. 

Jika mengambil pinjaman dengan plafon maksimal selama tiga tahun, setidaknya kamu harus membayar sekitar Rp 2,8 juta per bulan atau sekitar Rp 100 juta selama masa pinjaman, hanya untuk bunga pinjamannya saja. 

Belum termasuk tambahan biaya-biaya pinjaman lainnya, seperti biaya administrasi, biaya denda keterlambatan, biaya asuransi kredit, dan sebagainya.

Artinya, jika ingin untung, kamu harus dapat memastikan investasi saham yang kamu lakukan mampu memberikan imbal hasil di atas Rp 2,8 juta per bulan. 

2. Risiko investasi merugi

Untuk mendapatkan imbal hasil tinggi lebih cepat, tak sedikit investor yang memilih strategi investasi jangka pendek alias trading

Caranya, dengan membeli saham untuk menjualnya kembali dalam waktu dekat. Harapannya, saham mengalami kenaikan harga, sehingga menguntungkan begitu dijual. 

Namun, trading sangat mungkin menghadapi risiko capital loss, yaitu harga jual lebih rendah dibandingkan harga beli. Alhasil, bukannya untung malah buntung. Selain itu, seorang trader juga harus menyediakan waktu lebih banyak untuk memantau chart saham agar tahu kapan waktu yang tepat menjual sahamnya sewaktu-waktu. 

Strategi investasi lain yang cenderung lebih “aman” adalah investasi saham dalam jangka panjang. Investasi ini biasanya dilakukan mulai dari setahun hingga puluhan tahun.

Pada strategi investasi jangka panjang, keuntungan yang didapatkan memang tak langsung besar, namun dapat meningkat secara konsisten. Investor pun bisa jauh lebih tenang karena tidak harus memantau chart saham dan mengambil keputusan penting setiap saat.  

Namun, pada kondisi ini berarti tenor pinjaman yang diambil pun mestinya lebih panjang. Alhasil, beban bunga menjadi lebih besar. Untuk itu, kamu perlu tahu apakah sepadan biaya pinjaman yang dikeluarkan dengan keuntungan yang ditawarkan instrumen investasi tersebut?

Itu pun jika investasi masih memberikan imbal hasil. Bagaimana jika tidak? Sebab, bagaimana pun tak ada jaminan investasi saham pasti untung. Bahkan, investor sekaliber Warren Buffet pun pernah merugi dalam berinvestasi.

Padahal, kamu harus membayar kembali pinjaman, terlepas dari kinerja produk investasi yang diambil. Alhasil, risiko yang harus kamu tanggung jadi ada dua, risiko bayar cicilan pinjaman dengan bunga tinggi dan risiko kerugian investasi. 

Boleh Gak Sih Berinvestasi Saham Pakai Duit Pinjaman?

Kesimpulan

Kalau tidak ingin sering panas dingin karena cemas menanggung risiko merugi dari investasi  sekaligus terlilit utang, cari pinjaman uang tanpa agunan untuk modal investasi jelas tak disarankan.

Tak sedikit investor yang justru menyarankan untuk membeli saham menggunakan uang dingin alias uang yang tidak akan dipakai dalam jangka pendek. Dengan begitu, dana yang telah diinvestasikan tidak akan mudah terganggu oleh kebutuhan sewaktu-waktu. 

Tapi, jika kamu tetap kekeh ingin berinvestasi saham bermodalkan pinjaman, coba jawab beberapa pertanyaan ini terlebih dulu:

  1. Berapa potensi keuntungan investasi yang pasti akan kamu dapatkan?
  2. Berapa tingkat suku bunga pinjaman yang diambil?
  3. Bagaimana jika ternyata investasi merugi atau setidaknya keuntungan yang didapatkan lebih kecil dari biaya pinjaman? 
  4. Apakah kamu bisa tidur tenang jika performa investasi ternyata buruk?

Berutang untuk berinvestasi hanya aman dilakukan jika kamu sudah menemukan instrumen investasi yang menawarkan kepastian imbal hasil yang tinggi dengan tingkat risiko rendah. 

Persoalannya, memangnya ada?