kartu-kredit-syariah

Yuk Memahami Kartu Kredit Syariah!

Kartu kredit syariah bukan barang baru di Indonesia. Adalah fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia tentang Syariah Card tahun 2006 yang membuka jalan.

Fatwa itu tidak menggunakan frasa “kartu kredit” atau “credit card”, melainkan “syariah card” alias “kartu syariah”. Meski demikian, hal yang dimaksudkan adalah alat pembayaran yang serupa dengan kartu kredit.

Lewat fatwa itu, MUI memberikan dasar hukum kartu kredit syariah. Fatwa itu menyusul fatwa sebelumnya yang mengatur perbankan syariah. Fatwa tersebut diterbitkan merespon permintaan Bank Danamon Syariah, BNI Syariah, dan HSBC Syariah.

Namun baru beberapa bulan kemudian muncul kartu kredit syariah pertama di Indonesia. Bank Danamon Syariah adalah pencetusnya.

Bekerja sama dengan Mastercard, Bank Danamon Syariah menerbitkan Dirham Card. Tidak ada embel-embel kartu kredit syariah, tapi cara kerjanya mengacu kepada fatwa MUI tersebut.

Setelah itu, CIMB Niaga Syariah dan BNI Syariah ikut terjun di bisnis ini. CIMB menerbitkan CIMB Niaga Syariah Gold Card, sementara BNI menawarkan layanan Hasanah Card.

Kartu kredit syariah memiliki dasar hukum yang jelas sesuai dengan fatwa MUI di atas. Ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi agar kartu kredit syariah bisa diterbitkan dan digunakan. Di antaranya ketentuan mengenai akad.

Akad kartu kredit syariah menurut fatwa MUI ada tiga, yakni:

1. Kafalah: Penerbit kartu adalah penjamin (kafil) bagi pemegang kartu terhadap merchant atas semua kewajiban bayar (dayn) yang timbul dari transaksi antara pemegang kartu dan merchant, dan/atau penarikan tunai dari selain bank atau ATM bank penerbit kartu. Atas pemberian kafalah, penerbit kartu dapat menerima fee (ujrah kafalah).

2. Qardh: Penerbit kartu adalah pemberi pinjaman (muqridh) kepada pemegang kartu (muqtaridh) melalui penarikan tunai dari bank atau ATM bank penerbit kartu.

3. Ijarah: Penerbit kartu adalah penyedia jasa sistem pembayaran dan pelayanan terhadap pemegang kartu. Atas ijarah ini, pemegang kartu dikenai iuran keanggotaan.

Ada satu lagi akad yang digunakan sebagai hukum kartu kredit syariah khusus untuk transaksi di luar negeri. Akad Sharf namanya. Akad ini mengatur transaksi keuangan menggunakan kartu kredit syariah dengan mata uang asing.

Adanya akad-akad tersebut sekaligus menjadi perbedaan antara kartu kredit syariah dan kartu kredit konvensional. Kartu kredit konvensional tidak mengadopsi hukum Islam atau syariat dalam praktiknya. 

(Baca: Wajib Tahu! Ini Seluk Beluk Kartu Kredit yang Harus Dipahami)

Secara umum, berikut ini contoh perbedaan kartu kredit syariah dengan kartu kredit konvensional:

1. Akad

Seperti dijelaskan sebelumnya, ada sejumlah akad wajib dalam kartu kredit syariah. Sedangkan kartu kredit konvensional hanya menggunakan perjanjian pinjaman sebagai dasar.

2. Bunga

Tidak ada bunga dalam kartu kredit syariah, karena termasuk riba. Sedangkan di kartu kredit konvensional ada. Namun bank penerbit kartu kredit syariah bisa meminta ganti rugi atas keterlambatan pembayaran tagihan.

3. Denda

Denda keterlambatan dalam kartu kredit syariah diperhitungkan sebagai dana sosial, sementara di kartu kredit konvensional menjadi sumber pemasukan bank penerbit.

4. Peruntukan

Kartu kredit syariah tak boleh digunakan untuk hal-hal yang tak sesuai dengan syariat Islam. Sedangkan kartu kredit konvensional bebas digunakan untuk apa pun selama patuh pada aturan bank dan otoritas keuangan.

Adapun persamaan kartu kredit syariah dan konvensional antara lain sama-sama diawasi oleh Bank Indonesia serta Otoritas Jasa Keuangan, digunakan sebagai alat pembayaran yang sah, dan nasabah bisa apply lewat beragam sarana. Ya, apply kartu kredit syariah pun bisa lewat online.

Di antaranya kartu kredit Hasanah dari BNI Syariah. Apply kartu kredit syariah BNI bisa langsung lewat situsnya. Bisa pula melalui pihak ketiga, seperti situs perbandingan atau komparasi layanan finansial.

Begitu pula apply kartu kredit syariah dari CIMB Niaga. Tapi di situs CIMB belum bisa apply langsung. Meski begitu,  kamu bisa meninggalkan nomor kontak untuk dihubungi perihal aplikasi kartu kredit tersebut. Tak perlu keluar ongkos pulsa untuk menelepon mereka.

Untuk saat ini, kartu kredit syariah dari BNI dan CIMB Niaga menjadi rekomendasi. Sebab, keduanya adalah pemain utama di sektor kartu kredit syariah di Indonesia.

(Baca: Kartu Kredit CIMB Niaga dan 5 Kartu Kredit Ini Bebas Iuran Tahunan!)

CIMB Niaga memiliki Syariah Gold Card dengan fitur utama bebas iuran tahunan selamanya untuk kartu utama. Sedangkan BNI Hasanah Card terdiri atas tiga jenis, yakni Classic, Gold, dan Platinum.

Fitur tiap jenis kartu berbeda, begitu pula syarat untuk apply kartu kredit syariah tersebut. Syarat apply kartu kredit syariah Hasanah Gold adalah yang paling ketat. Tapi limitnya paling tinggi, yakni hingga Rp 500 juta.

Untuk mengetahui lebih lanjut, bisa kunjungi situs bank-bank tersebut atau cek informasinya di situs komparasi. Yang pasti, hukum kartu kredit syariah sesuai dengan fatwa MUI diterapkan oleh bank-bank penerbit kartu.

Satu hal yang penting diingat, kartu kredit syariah tidak eksklusif diperuntukkan bagi nasabah beragama Islam. Warga nonmuslim juga boleh memanfaatkannya, tentu selama mematuhi prinsip yang diberlakukan dalam kartu kredit syariah.