cvv-kartu-kredit

Tak Paham CVV Kartu Kredit Ternyata Bisa Bikin Bangkrut

Orang-orang yang hendak memiliki kartu kredit harus tahu apa itu CVV. Apalagi mereka yang sudah punya alat pembayaran praktis itu.

CVV adalah card verification value. Bentuknya berupa tiga digit nomor pada kartu kredit Visa dan Mastercard. Tepatnya di bagian belakang kartu. Tapi CVV tidak hanya ada pada kartu kredit, tapi juga kartu debit. Kartu kredit lain pun memiliki CVV, seperti American Express dan Discover. Hanya, jumlah digit nomornya ada empat.

Fungsi CVV adalah sebagai sarana untuk memvalidasi transaksi online atau tanpa kehadiran kartu secara fisik. Bila kamu hendak membayar belanja online pakai kartu kredit atau kartu debit, pasti akan disuruh mengisikan CVV pada kolom pembayaran. Berbeda dengan transaksi secara langsung di toko. Transaksi bisa divalidasi dengan menggesekkan kartu pada mesin EDC dan pengguna mengisikan PIN pada mesin tersebut.

(Baca: 7 Kartu Kredit Terbaik 2019 Buat Belanja di Supermarket)

Dengan memasukkan CVV, sistem di toko online bisa meneruskan pembayaran karena ada bukti bahwa kartu yang digunakan itu valid. Jadi kurang-lebih CVV ini menjadi pengaman transaksi online, terutama menggunakan kartu kredit.

Orang yang paling tahu apa itu CVV mungkin adalah Michael Stone. Dialah yang pertama kali mengembangkan sistem ini pada 1995 sebagai karyawan Equifax, perusahaan analisis data digital dan teknologi asal Amerika Serikat. 

Mulanya CVV terdiri atas 11 karakter alfanumerik. Uji coba perdana dilakukan dengan NatWest Bank di Inggris. Akhirnya sistem tersebut diadopsi oleh UK Association of Payment Clearing Services, yang mengubahnya menjadi tiga digit kode.

Mastercard adalah salah satu pionir penggunaan nomor CVV pada kartu kreditnya, yakni pada 1997. Berselang dua tahun atau pada 1999, American Express menyusul dalam rangka menghadapi pesatnya pertumbuhan transaksi online. Visa baru menerapkan CVV pada 2001.

Satu hal yang harus digarisbawahi adalah sejak awal toko online tidak diperbolehkan menyimpan data CVV yang dimasukkan pengguna kartu kredit ke situsnya. Ini penting untuk mencegah penyalahgunaan atau penipuan kartu kredit.

Bila nomor CVV tersimpan dan terjadi peretasan, data kartu kredit pengguna toko online itu akan digondol maling lengkap dengan nomor kartu kredit. Hal ini berpotensi menimbulkan kerugian pada pengguna kartu kredit.

CVV juga dikenal dengan nama CSC atau card security code. Ada juga yang menyebutnya CVV2, yang mengacu pada generasi kedua CVV yang lebih canggih. Berikut ini nama lain CVV:

- CID: Card Id/Card Identification Number/Card Identification Code
- CSC: Card Security Code 
- CVC2:  Card Validation Code 
- CVD: Card Verification Data 
- CVE: Elo Verification Code 
- CVN2: Card Validation Number 2 
- CVV2: Card Verification Value 2 

Cara Menggunakan CVV

Seperti disinggung sekilas di atas, CVV digunakan untuk memvalidasi transaksi online. Ketika akan melakukan pembayaran, akan muncul sejumlah kolom yang harus diisi, yakni:

- Card Type: jenis kartu kredit, apakah Visa atau Mastercard
- Card Number: nomor kartu kredit yang terdapat di bagian depan kartu
- Card Holder Name: nama lengkap pemilik kartu kredit
- Expiration Date: tanggal kedaluwarsa kartu berupa bulan dan tahun, letaknya di bagian depan kartu kredit
- CVV atau CID: di belakang kartu kredit 

Setelah memasukkan semua data tersebut, barulah transaksi bisa diselesaikan. Karena itulah semua pemilik kartu kredit harus tahu apa itu CVV dan betapa pentingnya nomor ini. Sebab, bila tidak hati-hati bisa membuat bangkrut pemilik kartu kredit.

Jika terjadi pencurian data kartu kredit, termasuk CVV, si pencuri bisa dengan mudahnya bertransaksi online hingga menghabiskan limit kartu.

Tapi bukan itu saja yang bisa membuat bangkrut. CVV bisa bikin bangkrut ketika disalahgunakan oleh orang yang impulsif belanja online. Transaksi bisa dengan mudah dilakukan pakai kartu kredit.

Godaan itu bisa membuat orang asal klik “beli” dan memasukkan CVV untuk belanja ini-itu. Tiba-tiba tagihan sudah menggunung saja hingga membuat keuangan limbung. Itu sebabnya orang harus bijak memanfaatkan kartu kredit sebagai alat pembayaran yang praktis.

(Baca: 8 Kartu Kredit Terbaik 2019, Bunga Ringan Hingga Banjir Promo)

Cara Mencegah Bangkrut karena CVV

CVV sebagai bagian dari data kartu kredit mesti diamankan. Berikut ini sejumlah tips untuk memberi perlindungan pada data tersebut demi keamanan finansial:

1. Jangan unggah di media sosial

Jangan pernah sekali-kali mengunggah foto kartu kredit di media sosial, terutama Instagram sebagai media berbagi gambar. Apalagi jika profil tidak dibikin privat. Data itu bisa dilihat seluruh dunia dengan mudah. 

Yang juga mesti diwaspadai adalah tidak sampai tak sengaja mengunggah foto kartu itu. Misalnya niatnya mau foto anak, tapi di sebelahnya ada kartu kredit tergeletak. Ini juga bisa berpotensi mengundang pencoleng siber melakukan kejahatan.

2. Buramkan CVV

Cara ini cukup berisiko, tapi bisa mengurangi potensi kebangkrutan akibat data kartu kredit dicuri. Buramkan nomor CVV pada kartu sehingga tak bisa dilihat orang lain. Tapi sebelumnya simpan dulu nomor itu untuk keperluan pribadi. Misalnya di aplikasi penyimpan file di smartphone atau tempat lain yang dilindungi password.

3. Gunakan antivirus

Pencuri identitas kartu kredit bisa leluasa beroperasi antara lain lewat virus di komputer atau smartphone. Makanya penting menggunakan antivirus dan mengaktifkan firewall untuk melindungi gadget yang digunakan untuk bertransaksi.

4. Tidak asal klik

Ketika menerima e-mail atau pesan digital di komputer atau ponsel, jangan asal klik link yang disertakan karena bisa-bisa itulah gerbang pencurian data digital. Lihat dulu siapa pengirimnya dan isi pesannya. Jika mencurigakan, misalnya ada e-mail yang katanya dari bank minta data lewat link, abaikan saja. Atau telepon si pengirim untuk memastikan bahwa pesan tersebut benar.

5. Cek sertifikat SSL

Sertifikat SSL adalah jaminan bahwa suatu situs itu aman diakses, terutama untuk toko online atau marketplace. Lihat di bagian kiri atas browser, apakah ada lambang gembok. Jika ada, keamanan situs itu bisa lebih dipastikan. Meski begitu, bukan berarti situs tersebut 100 persen aman. Tetap perlu kewaspadaan ketika mengakses situs apa pun, terutama untuk belanja online.

6. Gunakan OTP

Sebenarnya ada satu cara lain untuk lebih mengamankan kartu kredit, yakni menggunakan OTP alias one-time password. OTP adalah sistem pelapis pengamanan transaksi online.

Jadi pengguna kartu kredit tak cukup hanya memasukkan CVV, tapi juga OTP. OTP biasanya dikirim ke nomor ponsel pemilik kartu kredit yang terdaftar.

Setelah memasukkan CVV, akan datang OTP ke nomor ponsel yang bersangkutan. Nomor OTP itu harus dimasukkan untuk mengotorisasi transaksi online yang dilakukan.

Tapi belum semua pemilik kartu kredit sadar dan mau menggunakan fitur OTP. Demikian juga bank penerbit kartu, belum semuanya menyediakan fitur tersebut.

CVV kartu kredit bisa dikatakan sebagai nyawa dari sebuah kartu kredit. Tanpanya, transaksi tak bisa diotorisasi atau divalidasi. Maka penting mengetahui apa itu CVV, juga cara mengamankannya agar terhindar dari kebangkrutan yang disebabkan oleh pencurian data ataupun kebiasaan impulsif belanja.

(Baca: 3 Kartu Kredit Terbaik dengan Bunga Paling Rendah di 2019)