Tarik tunai kartu kredit

Ini Alasan Tarik Tunai Kartu Kredit Sebaiknya Dihindari

Kartu kredit ibarat dewa penolong. Selain sebagai alat pembayaran, saat kepepet butuh dana segar, ada fasilitas tarik tunai kartu kredit alias cash advance yang bisa menjadi solusi. Tinggal datangi anjungan tunai mandiri (ATM) dan lakukan tarik tunai layaknya menggunakan kartu debit.

Dalam hitungan menit, kamu bisa dapat uang tunai tanpa repot mengajukan pinjaman kepada lembaga keuangan. Praktis dan bisa jadi penyelamat di saat dompet kritis.

Tapi, benarkah demikian? 

Untuk tahu jawabannya, yuk pahami seluk beluk tarik tunai kartu kredit agar tidak membahayakan kondisi keuanganmu. Simak ulasannya, berikut ini.

Apa itu tarik tunai kartu kredit?

Tarik tunai adalah salah satu fitur kartu kredit yang memungkinkan kamu mengambil uang tunai dari mesin ATM. Uang tersebut berasal dari pinjaman bank, sehingga akan ditambahkan ke dalam tagihan kartu kreditmu.

Prosedur tarik tunai kartu kredit memang mudah dan tak butuh waktu lama, namun perlu diingat bahwa uang yang diperoleh bukan berasal dari tabungan pribadi. Dengan begitu, ada “harga” yang perlu dibayar untuk menikmati fitur tarik tunai ini. 

Risiko tarik tunai kartu kredit

Fitur tarik tunai kartu kredit memang memberikan kemudahan, namun penting untuk mengetahui risiko dan bahayanya agar tidak terbelit masalah baru. Berikut ini risiko tarik tunai kartu kredit yang perlu diwaspadai.

1. Bunga tarik tunai kartu kredit tinggi

Seperti fasilitas pinjaman lain, tarik tunai kartu kredit disertai biaya dan bunga yang harus ditanggung pemegang kartu kredit. Tingkat bunga dan biaya tarik tunai berbeda-beda tergantung kepada kebijakan penerbit kartu kredit. Namun, biasanya bunga tarik tunai kartu kredit ini jauh lebih tinggi dibanding bunga pinjaman bank biasa.

Umumnya, penerbit kartu kredit mematok bunga tarik tunai setara dengan bunga transaksi belanja, yaitu mulai dari 2,25 persen per bulan. Bandingkan dengan bunga kredit tanpa agunan (KTA) yang rata-rata berkisar antara 0,99-2 persen per bulan. Jauh, bukan?

Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/10/DASP, bunga tarik tunai kartu kredit dihitung sejak tanggal pembukuan atau tanggal transaksi tarik tunai dilakukan sampai dengan tanggal dilakukannya pembayaran secara penuh oleh pemegang kartu kredit.

2. Terdapat biaya tambahan

Selain bunga, fasilitas penarikan kartu kredit juga dikenakan biaya yang cukup besar. Umumnya, bank menetapkan biaya sekitar 4-6 persen dari nilai tarik tunai yang dilakukan.

Biaya tarik tunai di beberapa bank Indonesia. antara lain:

  • Tarik tunai kartu kredit BCA: 3 persen dari jumlah pengambilan tunai.
  • Tarik tunai kartu kredit CIMB Niaga: 6 persen atau minimum Rp 60 ribu.
  • Tarik tunai kartu kredit BRI: 4 persen atau minimum Rp 60 ribu.
  • Tarik tunai kartu kredit Mandiri: 2,245 persen dari jumlah pengambilan tunai.

Sebagai contoh, jika kamu melakukan transaksi tarik tunai kartu kredit CIMB Niaga senilai Rp 3 juta, maka biaya tarik tunai yang dikenakan adalah sebesar Rp 180 ribu.
 

3. Terdapat limit transaksi tarik tunai kartu kredit

Saat pertama kali menerima kartu kredit, kamu akan diberikan informasi mengenai limit transaksi belanja dan limit transaksi tarik tunai. Umumnya, penerbit bank mematok limit tarik tunai kartu kredit sebesar 40-60 persen dari total limit kartu kredit.

Misalnya, kartu kredit BCA memberikan limit penarikan tunai sebesar 40 persen dari limit kartu kredit. Artinya, jika limit kartu kredit BCA yang kamu miliki sebesar Rp 20 juta, maka maksimal nilai tarik tunai yang bisa kamu lakukan adalah sebesar Rp 8 juta. 

Simulasi transaksi tarik tunai kartu kredit

Sebagai bayangan, berikut ini simulasi perhitungan biaya tarik tunai kartu kredit.

Mira adalah nasabah kartu kredit BCA yang ingin melakukan transaksi tarik tunai sebesar Rp 5 juta. Saat ini, kartu kredit BCA mematok bunga tarik tunai sebesar 27 persen per tahun atau 2,25 persen per bulan dan biaya tarik tunai sebesar 3 persen dari jumlah pengambilan tunai.

Dengan demikian, perhitungan tagihannya adalah sebagai berikut:

  • Dana pinjaman melalui tarik tunai: Rp 5 juta.
  • Biaya penarikan: 3% x Rp 5.000.000 = Rp 150 ribu.
  • Bunga utang transaksi tarik tunai: 2,25 persen per bulan.

Nilai utang transaksi tarik tunai kartu kredit menjadi: dana pinjaman + biaya penarikan

= Rp 5.000.000 + Rp 150.000 = Rp 5.150.000.

1. Jika melunasi pembayaran sebelum tagihan datang

Jika Mira membayar lunas utang transaksi, yaitu sebesar Rp 5,15 juta sebelum tagihan datang, Mira tidak akan dikenakan tunggakan di dalam tagihan bulan berikutnya.

2. Jika membayar dengan minimum payment

Namun, jika Mira membayar utang sebesar minimum payment atau 10 persen dari total tagihan (dengan asumsi tidak ada transaksi lain selain tarik tunai), maka sisa utang Mira menjadi:

Pembayaran minimum: Rp 5.150.000 x 10% = Rp 515.000.

Sisa utang Mira: Rp 5.150.000 - Rp 515.000 = Rp 4.635.000.

Jumlah tagihan di bulan berikutnya:

Bunga utang = Rp 5.000.000 x 2,25% = Rp 112.500.

Total utang = Rp 4.635.000 + Rp 112.500 = Rp 4.747.500.

*Bunga kartu kredit selalu dihitung dari pokok pinjaman.

Jika utang tidak segera dibayar lunas, beban bunga yang dikenakan pun akan terus berlipat dari waktu ke waktu. 

Apalagi, ada bank yang menerapkan skema bunga yang dihitung secara harian mulai dari tanggal cetak tagihan. Artinya, meski belum waktu jatuh tempo, apabila pembayaran dilakukan setelah tanggal cetak tagihan, beban bunga sudah ditambahkan ke dalam tagihan.

Perbedaan tarik tunai dan gesek tunai

Pernah dengar istilah gestun alias gesek tunai? 

Seperti tarik tunai, gesek tunai juga memungkinkan nasabah memiliki uang tunai menggunakan kartu kredit. Bedanya, jika tarik tunai dilakukan di mesin ATM, gestun dilakukan di sejumlah merchant menggunakan mesin EDC (Electronic Data Capture).

Transaksi gestun dilakukan dengan menggesek kartu kredit ke mesin EDC yang dimiliki merchant atau toko penyedia gestun. Pada praktiknya akan dibuat seolah-olah seperti transaksi belanja biasa, namun yang didapatkan oleh nasabah bukan barang, melainkan uang tunai.

Jika penerbit kartu kredit mengenakan biaya transaksi tarik tunai sebesar 3-6 persen, biaya gesek tunai bisa dibilang lebih terjangkau, yaitu berupa biaya surcharge sebesar 2-3 persen dari total transaksi. Pembayaran biaya ini bisa dilakukan secara tunai ke merchant terkait, atau langsung dipotong dari uang yang diterima. 

Selain itu, karena dianggap sebagai transaksi ritel, bunga yang dikenakan pun jauh lebih rendah dibandingkan tarik tunai melalui ATM. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika banyak orang yang mengincar penyedia gestun.

Tapi, perlu diketahui bahwa sekalipun tampak menguntungkan, gestun adalah tindakan ilegal. Bank Indonesia (BI) telah melarang secara keras transaksi gestun kartu kredit, sebab transaksi gestun dianggap bisa merugikan pihak nasabah, bank, maupun negara.  

Waspada, ini 3 bahaya gesek tunai 

1. Gagal bayar atau mengalami kredit macet

Berbeda dengan tarik tunai, gesek tunai tidak memiliki batasan atau limit penarikan. Artinya, kamu bisa mengambil dana dalam jumlah besar selama limit kartu mencukupi.

Dengan kemudahan yang diberikan, bukan tak mungkin kamu jadi mudah tergoda mengambil dana, baik dalam jumlah besar ataupun kecil tapi secara terus-menerus, hingga lupa mengukur kemampuan bayar.

Alhasil, kamu akan rentan mengalami kredit macet alias gagal bayar. Apalagi, jika selalu membayar tagihan dalam jumlah minimum, bunga yang dibebankan bisa membuat tagihan semakin membengkak.

Selain terbebani dengan utang yang menumpuk, gagal bayar kartu kredit bisa membuat reputasi kredit yang tercatat dalam SLIK-OJK (Sistem Layanan Informasi Keuangan-Otoritas Jasa Keuangan) menjadi buruk. 

Dampaknya, kamu akan kesulitan mendapat persetujuan saat kelak mengajukan pinjaman ke bank maupun lembaga keuangan non bank, misalnya pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR).

2. Risiko pengajuan kartu kredit baru ditolak

Secara tidak langsung nasabah melakukan manipulasi transaksi demi mendapat biaya yang rendah. Dengan begitu, bank menjadi pihak yang paling dirugikan dalam maraknya transaksi gestun ini. Maka, tidak heran jika bank sangat anti dengan penyedia jasa gestun. 

Jika di dalam tagihan kartu kreditmu terdapat transaksi dari agen atau toko yang telah terindikasi oleh bank sebagai penyedia gestun, kamu pun bisa terkena getahnya. 

Salah satunya, pengajuan kartu kredit baru yang menggunakan referensi kartu kredit yang sering digunakan gestun, kemungkinan besar akan langsung ditolak bank sebagai penerbit kartu kredit.

3. Terkena dampak tindak pidana

Gesek tunai merupakan tindakan ilegal. Dengan begitu, sangat mungkin jika layanan ini dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab. 

Misalnya, pelaku tindak kriminal yang ingin melakukan pencucian uang dengan menyalurkan dana hasil tindak pidana kepada nasabah yang melakukan gesek tunai. Jika hal tersebut terjadi, kamu pun pasti akan terkena dampak dari proses hukum yang dilakukan. 

Sayangnya, meskipun transaksi gesek tunai ilegal dan berisiko tinggi, penyedia layanan ini masih menjamur, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. 

Coba saja kamu ketik kata “jasa gesek tunai” di mesin pencarian, maka kamu bisa dengan mudah menemukan penyedia gestun terdekat dengan domisilimu.

Oleh sebab itu, dibutuhkan kesadaran dari diri sendiri agar tidak tergoda menjadi pengguna layanan gesek tunai. Menggunakan fasilitas tarik tunai kartu kredit yang diizinkan oleh BI saja tidak dianjurkan, apalagi menggunakan layanan gestun yang jelas-jelas melanggar peraturan pemerintah.

(Baca: Deretan Kegunaan Kartu Kredit yang Bikin Untung)

Bijakkah menggunakan tarik tunai kartu kredit?

Jika menghitung biaya-biaya yang dikenakan, serta akumulasi bunga kartu kredit yang tinggi, menggunakan fasilitas tarik tunai kartu kredit bisa membahayakan. Sederhananya, kamu sedang membutuhkan uang, tapi malah harus mengeluarkan uang yang jauh lebih besar.

Sebetulnya, fasilitas tarik tunai kartu kredit sah-sah saja digunakan, asal kamu sudah punya rencana pengembalian utang atau rencana pembayaran tagihan. Dengan begitu, kamu bisa terhindar dari bunga yang mencekik. Tapi, sebaiknya jadikan fasilitas ini sebagai opsi terakhir saat kondisimu sudah benar-benar terdesak.

Tips menghindari tarik tunai dan gesek tunai kartu kredit

Alasan utama pengguna penyedia layanan tarik tunai ataupun gesek tunai adalah kebutuhan dana yang mendesak, seperti membutuhkan biaya rumah sakit atau mengalami musibah lainnya. 

Munculnya pengeluaran tak terduga saat kondisi finansial sedang tidak fit memang bisa membebani siapa saja. Namun, penggunaan fasilitas tarik tunai apalagi gesek tunai kartu kredit bukanlah solusi yang bijak. 

Salah satu langkah pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan memiliki tabungan dana darurat. Setiap bulannya, alokasikanlah sekitar 20-30 persen penghasilan ke dalam tabungan dana darurat. Dengan begitu, saat terjadi kondisi mendesak, kamu memiliki simpanan yang bisa diandalkan tanpa harus mengajukan pinjaman.

(Baca: 15 Biaya Kartu Kredit yang Perlu Diketahui, Tak Hanya Bunga!)

Lagi-lagi, jangan lupa bahwa kegunaan kartu kredit adalah sebagai alat pembayaran, bukan alat utang. Jika digunakan sesuai fungsinya secara bijak, kartu kredit memang bisa jadi dewa penolong, tapi jika tidak, harus siap terjerat tumpukan utang.